JAKARTA, DKI JAKARTA – Maudy Ayunda dihujat imbas konten mindfulness yang membahas caranya menghadapi derasnya berita buruk. Video tersebut memicu kritik karena sebagian publik menilai saran untuk mengambil jarak dari pemberitaan tidak mudah diterapkan oleh masyarakat yang justru mengalami langsung persoalan ekonomi, bencana, maupun masalah sosial.
Andovi da Lopez kemudian ikut menanggapi kontroversi tersebut. Komika dan kreator konten itu mengaku memahami mengapa masyarakat bereaksi keras, terutama ketika banyak orang sedang menghadapi situasi yang melelahkan. Namun, Andovi memilih tidak ikut memberikan label bahwa Maudy merupakan figur yang “tone deaf”.
Menariknya, Maudy sendiri sudah memberikan klarifikasi sebelum komentar Andovi muncul. Ia mengakui ada perspektif mengenai privilese yang kurang terefleksikan dalam video awalnya.
Konten Maudy Sebenarnya Diunggah Sejak 21 Agustus
Kontroversi tersebut tidak bermula dari video yang baru diunggah beberapa hari terakhir.
Maudy merilis video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News di kanal YouTube terverifikasinya pada 21 Agustus 2026.
Dalam deskripsi video, Maudy menjelaskan dirinya merasa masyarakat terus dibombardir berita buruk, mulai dari persoalan politik, bencana alam, hingga kesulitan ekonomi.
Ia menyebut konten tersebut sebagai obrolan mengenai bagaimana tetap peduli sekaligus menjaga kondisi diri ketika terus menerima informasi negatif. Maudy juga menegaskan dirinya bukan ahli dan hanya membagikan beberapa cara yang secara pribadi ia lakukan.
Video baru semakin ramai diperbincangkan sekitar pertengahan September setelah potongan kontennya menyebar di X.
Apa Sebenarnya yang Disampaikan Maudy?
Dalam video tersebut, Maudy menggambarkan perasaan kewalahan ketika terus berhadapan dengan kabar buruk.
Ia berbicara mengenai rasa marah, sedih, putus asa, hingga kelelahan ketika informasi negatif muncul berturut-turut. Fokusnya kemudian diarahkan pada bagaimana seseorang dapat tetap memiliki kepedulian tanpa membiarkan dirinya tenggelam dalam seluruh informasi tersebut.
Konsep yang digunakan adalah mindfulness.
American Psychological Association mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran terhadap kondisi internal diri dan lingkungan, dengan mengamati pengalaman, pikiran, maupun emosi tanpa langsung bereaksi atau menghakiminya. Praktik mindfulness memang telah banyak digunakan dalam intervensi untuk membantu pengelolaan stres.
Jadi, mindfulness sebagai konsep psikologi bukan inti utama dari kontroversinya.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana gagasan tersebut ditempatkan dalam kondisi sosial masyarakat.
Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tone Deaf?
Kritik publik terutama muncul karena ada kesan bahwa seseorang dapat memilih untuk mengambil jarak sementara dari pemberitaan buruk ketika merasa terlalu lelah.
Sebagian warganet menilai pilihan itu tidak tersedia bagi semua orang.
Bagi korban bencana, orang yang kehilangan pekerjaan, masyarakat yang terkena langsung dampak persoalan ekonomi, atau mereka yang hidup dalam kondisi sosial sulit, apa yang disebut “bad news” bisa jadi merupakan realitas sehari-hari yang tidak dapat dimatikan hanya dengan menutup aplikasi media sosial.
Pakar dari Universitas Muhammadiyah Surabaya juga menilai perdebatan tersebut berkaitan dengan perspektif kelas. Kritik muncul karena keleluasaan untuk mengambil jarak dari persoalan sosial tidak dimiliki setiap kelompok masyarakat secara setara.
Baca juga: Artis Indonesia yang Awet Muda
Maudy Akui Bisa Menjauh dari Berita Adalah Privilese
Maudy kemudian menanggapi kritik melalui komentar yang disematkan pada videonya pada 13 September.
Ia mengatakan sudah membaca berbagai perspektif publik dan menyadari ada satu hal penting yang belum cukup disampaikan.
Maudy mengakui kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilese. Tidak semua orang dapat melakukan itu ketika kejadian yang diberitakan secara langsung memengaruhi keluarga, pekerjaan, kehidupan, atau komunitas mereka.
Ia juga meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup direfleksikan dalam video awal.
Dengan demikian, Maudy tidak mempertahankan kontennya seolah seluruh kritik salah.
Ia justru mengakui ada konteks sosial yang sebelumnya belum mendapat porsi memadai.
Andovi da Lopez Paham Kenapa Publik Marah
Andovi da Lopez memberikan respons saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada 16 September 2026.
Menurut Andovi, banyak masyarakat saat ini sedang lelah dan menghadapi tekanan.
Karena itu, ia memahami mengapa pernyataan seorang figur publik mengenai situasi semacam itu dapat memicu sensitivitas yang tinggi.
Andovi pada intinya tidak menjadikan persoalan tersebut sebagai pertanyaan sederhana apakah dirinya setuju atau tidak setuju dengan Maudy.
Ia lebih memilih mengakui bahwa reaksi publik memiliki konteks.
Ketika masyarakat sedang “pusing” dan lelah, ungkapan figur publik memang lebih mudah mendapat sorotan mengenai empati dan relevansinya dengan kondisi sehari-hari.
Andovi Tak Mau Ikut Cap Maudy Tone Deaf
Meski memahami kritik publik, Andovi tidak mau mengambil posisi sebagai orang yang menentukan apakah Maudy benar-benar layak disebut tone deaf.
Ia menyerahkan penilaian mengenai rekam jejak serta pernyataan figur publik kepada masyarakat.
Andovi juga mengatakan tidak ingin bersikap seolah dirinya mempunyai hak mengajari artis lain mengenai bagaimana seharusnya mereka berbicara di media sosial.
Respons ini membuat posisi Andovi cukup berbeda dibanding sebagian perdebatan di media sosial.
Ia tidak membela isi konten Maudy secara penuh, tetapi juga tidak menggunakan kontroversi tersebut untuk memberikan vonis terhadap karakter pribadi Maudy.
Mindfulness dan Kepedulian Sosial Tidak Harus Bertentangan
Kontroversi Maudy juga membuka pertanyaan yang lebih menarik: apakah menjaga kesehatan mental berarti harus mengurangi kepedulian terhadap persoalan sosial?
Tidak selalu.
Dalam pengertian psikologis, mindfulness justru berhubungan dengan kemampuan menyadari pikiran dan emosi tanpa langsung larut di dalamnya. Sejumlah penelitian yang dirangkum APA menunjukkan praktik mindfulness dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kemampuan menghadapi situasi yang menekan.
Persoalannya muncul ketika strategi individual untuk mengelola stres dipresentasikan seolah mudah dilakukan siapa saja tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi sosial.
Di titik inilah kritik terhadap konten Maudy lebih banyak berada.
Bukan pada gagasan bahwa seseorang boleh menjaga kewarasan, tetapi pada kebutuhan mengakui bahwa kemampuan melakukan hal tersebut juga dipengaruhi keadaan hidup masing-masing.
Kontroversi Maudy Jadi Pelajaran bagi Figur Publik
Maudy Ayunda dihujat imbas konten mindfulness menunjukkan betapa besar peran konteks ketika figur publik berbicara mengenai persoalan sosial.
Video awal Maudy sebenarnya membahas bagaimana tetap peduli sekaligus menjaga kesehatan mental ketika menghadapi derasnya berita buruk. Ia bahkan sejak awal menyebut dirinya bukan ahli dan menyampaikan dukungan bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Namun publik kemudian menyoroti adanya perbedaan pengalaman antara orang yang dapat memilih berhenti membaca berita dengan orang yang menjalani langsung realitas buruk tersebut.
Maudy akhirnya mengakui kekurangan perspektif itu dan meminta maaf.
Sementara Andovi da Lopez memilih posisi yang cukup moderat. Ia memahami mengapa publik marah, tetapi tidak ikut menentukan bahwa seluruh karakter Maudy dapat diringkas dengan label tone deaf.
Kami melihat perdebatan ini justru memperlihatkan bahwa dua hal dapat benar secara bersamaan.
Menjaga kondisi mental ketika informasi terasa berlebihan memang penting. Namun ketika membicarakannya di ruang publik, kondisi sosial orang yang tidak memiliki kemewahan untuk “mengambil jarak” juga tidak boleh hilang dari percakapan.

Baca berita terkini di Parepos untuk mendapatkan informasi terbaru seputar hiburan, selebritas, lifestyle, nasional, dan berbagai informasi menarik lainnya.
