PROBOLINGGO, JAWA TIMUR – Kebakaran Gunung Bromo Belum Padam sepenuhnya meski kondisi api di kawasan hutan dan lahan Kabupaten Probolinggo mulai berangsur terkendali.
Petugas gabungan masih menyisir sejumlah titik api dan bara yang tersisa di kawasan Blok Bantengan dan Jantur, Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo. Pemadaman terus dilakukan karena api berpotensi kembali membesar jika bara tertiup angin atau menyambar vegetasi kering di lereng.
Untuk mempercepat penanganan, petugas mengerahkan berbagai cara. Mulai dari pemadaman manual di jalur darat, semprotan air dari truk tangki, drone water spray, hingga helikopter water bombing milik BNPB.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Subroto, menyebut kebakaran sempat membesar pada Rabu, 5 Agustus 2026 siang di kawasan Blok Bantengan. Namun, menjelang malam, intensitas kebakaran mulai menurun meski masih ditemukan beberapa titik api dan bara.
Kami di Parepos melihat peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran kawasan konservasi tidak bisa dianggap selesai hanya karena kobaran api sudah tampak mengecil. Dalam karhutla, bara kecil bisa menjadi awal bencana baru jika proses pendinginan tidak benar-benar tuntas.
Satirnya, api di Bromo mungkin terlihat kecil dari kejauhan. Tapi di lereng curam, satu bara yang tertinggal bisa berubah menjadi kerja lembur untuk ratusan petugas.
Api Berangsur Terkendali Tapi Belum Aman
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo dilaporkan mulai berangsur terkendali. Meski demikian, petugas belum bisa meninggalkan lokasi karena masih ada titik api dan bara yang harus dipastikan padam.
Kondisi seperti ini sering terjadi dalam kebakaran lahan. Api utama bisa terlihat turun, tetapi bara di semak, rumput kering, atau sela tanah masih menyimpan panas.
Jika angin kencang datang, bara tersebut bisa kembali menyala. Karena itu, proses pemadaman tidak hanya berhenti pada mematikan nyala api, tetapi juga memastikan area benar-benar dingin dan aman.
Di kawasan seperti Bromo, tantangannya lebih berat. Medan berbukit, tebing curam, vegetasi kering, dan akses terbatas membuat petugas tidak bisa bergerak secepat pemadaman di kawasan datar.
Titik Api Di Blok Bantengan Dan Jantur
Upaya pemadaman difokuskan pada titik-titik api yang masih terlihat di kawasan Blok Bantengan dan Jantur, Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo.
Wilayah ini tidak mudah dijangkau. Ada bagian atas tebing, bagian bawah tebing, serta lereng curam yang menyulitkan mobilisasi personel dan peralatan.
Karena itu, petugas menggunakan beberapa strategi sekaligus. Pada bagian yang masih bisa dijangkau dari darat, pemadaman dilakukan secara manual. Sementara titik yang lebih sulit dijangkau dibantu dengan teknologi udara.
Pola seperti ini menunjukkan bahwa pemadaman karhutla di kawasan pegunungan tidak bisa mengandalkan satu metode. Tim harus menyesuaikan teknik dengan kondisi medan.
Pemadaman Manual Dengan Metode Gepyok
Di bagian atas tebing, petugas melakukan pemadaman secara manual menggunakan metode gepyok. Metode ini biasa dilakukan dengan memukul atau menepuk sumber api memakai alat tertentu untuk memutus kobaran di permukaan lahan.
Cara ini terlihat sederhana, tetapi tetap penting dalam operasi karhutla. Pada medan tertentu, terutama ketika alat berat atau kendaraan tidak bisa masuk, tenaga manusia menjadi ujung tombak.
Namun, metode manual punya risiko besar. Petugas harus berhadapan langsung dengan panas, asap, medan licin, dan kemungkinan api berubah arah akibat angin.
Karena itu, pemadaman manual harus dilakukan dengan koordinasi ketat. Petugas tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, terutama di lereng yang rawan jatuh atau sulit evakuasi.
Truk Tangki Dikerahkan Di Bagian Bawah Tebing
Untuk bagian bawah tebing, petugas memanfaatkan semprotan air dari truk tangki milik BPBD Jawa Timur dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Penggunaan truk tangki membantu memperkuat pasokan air di area yang masih bisa dijangkau kendaraan. Air dari truk dapat diarahkan ke titik panas, vegetasi yang masih terbakar, atau area yang perlu pendinginan.
Namun, jangkauan truk tetap terbatas. Tidak semua titik api berada di dekat jalur yang bisa dilewati kendaraan.
Di sinilah tantangan pemadaman Bromo terlihat jelas. Api tidak selalu berada di tempat yang mudah dicapai. Kadang api berada di lereng, celah, atau area terjal yang memaksa petugas mencari cara lain.
Drone Water Spray Berkapasitas 150 Liter
Salah satu alat yang mencuri perhatian dalam pemadaman kali ini adalah drone water spray. BPBD Jawa Timur mengerahkan satu unit drone water spray berkapasitas 150 liter untuk menjangkau titik api di lereng curam.
Drone ini digunakan untuk menyemprotkan air langsung ke titik-titik api yang sulit dijangkau petugas darat. Dengan teknologi ini, pemadaman bisa dilakukan lebih cepat pada area yang berbahaya jika harus dimasuki personel.
Penggunaan drone water spray menjadi contoh bagaimana teknologi mulai masuk dalam penanganan bencana. Drone tidak hanya dipakai untuk dokumentasi, pemetaan, atau pemantauan udara, tetapi juga membantu respons langsung di lokasi.
Meski kapasitas airnya tidak sebesar helikopter, drone punya keunggulan dalam fleksibilitas. Ia bisa diarahkan ke titik yang lebih spesifik, terutama pada medan sempit dan curam.
Helikopter Water Bombing BNPB Dikerahkan
Selain drone, BNPB juga mengerahkan satu unit helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman kebakaran Gunung Bromo.
Helikopter tersebut mengambil pasokan air dari kawasan Ranu Pani, Lumajang, lalu melakukan penyiraman ke titik-titik api yang masih tersisa di kawasan Gunung Bromo.
Water bombing menjadi pilihan penting ketika api berada di area luas atau sulit dijangkau dari darat. Dengan bantuan helikopter, air bisa dijatuhkan dari udara ke titik kebakaran secara langsung.
Namun, operasi helikopter juga bergantung pada cuaca, jarak sumber air, arah angin, visibilitas, dan keamanan penerbangan. Karena itu, water bombing biasanya menjadi bagian dari operasi gabungan, bukan satu-satunya solusi.
Medan Curam Jadi Kendala Utama
Gatot Subroto menyebut medan curam masih menjadi kendala utama karena tidak semua titik api bisa dijangkau personel darat.
Kendala medan ini sangat menentukan kecepatan pemadaman. Di area datar, petugas bisa bergerak dengan kendaraan, selang, pompa, atau alat pemadam lain. Di lereng curam, semua menjadi lebih sulit.
Personel harus memperhatikan jalur pijakan, arah angin, kepulan asap, serta potensi longsoran kecil atau batu lepas. Dalam kondisi panas dan berasap, risiko kelelahan juga meningkat.
Karena itu, pengerahan drone dan heli bukan sekadar tambahan teknologi, melainkan kebutuhan operasional. Tanpa bantuan udara, titik api di lereng curam bisa lebih sulit dipadamkan.
Tim Gabungan Bersiaga 24 Jam
Proses pemadaman melibatkan banyak unsur. Mulai dari BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, TNI, Polri, Balai Besar TNBTS, relawan, hingga masyarakat sekitar.
Mereka terus bersiaga sampai kondisi dinyatakan benar-benar aman. Kesiagaan ini penting karena kebakaran hutan dan lahan bisa berubah cepat.
Pada siang hari, panas matahari dan angin dapat membuat api lebih mudah menjalar. Pada malam hari, visibilitas petugas lebih terbatas meski suhu biasanya turun.
Koordinasi antarlembaga menjadi kunci. Setiap unsur harus tahu titik tugasnya, jalur evakuasi, sumber air, dan perkembangan api terbaru agar operasi tidak berjalan terpisah-pisah.
Kebakaran Bermula Terdeteksi Pada 3 Agustus
BPBD Jawa Timur menyebut tim mulai bergerak setelah mendapat informasi adanya kebakaran pada 3 Agustus 2026 di kawasan atas Watu Gede.
Sejak informasi itu diterima, tim dikirim ke lokasi untuk melakukan penanganan. Kebakaran kemudian sempat membesar pada 5 Agustus 2026 siang di kawasan Blok Bantengan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa karhutla bisa berubah dalam hitungan hari. Api yang awalnya terdeteksi di satu kawasan dapat meluas jika kondisi vegetasi, angin, dan medan mendukung penyebaran.
Karena itu, laporan awal dari warga, relawan, atau petugas lapangan sangat penting. Makin cepat api terdeteksi, makin besar peluang pemadaman dilakukan sebelum kebakaran melebar.
Pendinginan Tidak Kalah Penting
Dalam operasi kebakaran lahan, pendinginan sering menjadi tahap yang menentukan. Setelah api utama padam, petugas harus memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Proses ini bisa melelahkan karena membutuhkan penyisiran berulang. Petugas harus memeriksa area yang tampak gelap, berasap tipis, atau masih mengeluarkan panas.
Jika pendinginan kurang tuntas, api bisa kembali menyala. Terutama di kawasan seperti Bromo yang memiliki vegetasi kering dan angin yang bisa berubah arah.
Karena itu, kabar api berangsur terkendali belum bisa diartikan sebagai tanda seluruh operasi selesai. Aman berarti api padam, bara hilang, area dingin, dan risiko penyalaan ulang menurun.
Dampak Ke Ekosistem Bromo
Gunung Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kawasan ini memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kebakaran di kawasan konservasi bisa merusak vegetasi, mengganggu satwa, menurunkan kualitas lanskap, dan memengaruhi aktivitas wisata. Meski area terbakar belum tentu selalu luas, dampaknya tetap perlu dihitung secara serius.
Pemulihan ekosistem juga tidak selalu cepat. Rumput mungkin bisa tumbuh lagi, tetapi keseimbangan kawasan membutuhkan waktu. Tanah yang terbakar juga bisa mengalami perubahan kondisi, terutama jika kebakaran cukup intens.
Karena itu, setelah pemadaman selesai, langkah berikutnya adalah evaluasi dampak, pemetaan area terbakar, dan rencana pemulihan.
Risiko Untuk Pariwisata
Bromo adalah salah satu ikon wisata Jawa Timur. Banyak wisatawan datang untuk melihat matahari terbit, lautan pasir, kawah, dan lanskap pegunungan yang khas.
Kebakaran tentu bisa memengaruhi citra wisata. Asap, area terbakar, pembatasan akses, dan operasi pemadaman dapat mengganggu kenyamanan maupun keamanan pengunjung.
Namun, keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Jika ada area yang belum aman, pembatasan akses lebih baik dilakukan daripada memaksakan kunjungan.
Pengelola wisata, pelaku usaha lokal, dan masyarakat sekitar tentu berharap kebakaran segera padam. Namun, pemulihan harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian agar wisata tidak menjadi beban tambahan bagi petugas.
Jangan Ada Aktivitas Yang Memicu Api
Kebakaran di kawasan pegunungan dan savana sering diperparah oleh kondisi kering. Karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi memicu api harus dihindari.
Pengunjung tidak boleh membuang puntung rokok sembarangan, menyalakan api terbuka, membakar sampah, memakai flare, atau melakukan aktivitas lain yang bisa memicu percikan.
Satu percikan kecil bisa menjadi kebakaran besar jika jatuh di vegetasi kering. Apalagi di kawasan terbuka dengan angin yang cukup kuat.
Bromo sudah beberapa kali menjadi perhatian karena kebakaran. Karena itu, edukasi kepada pengunjung perlu terus diperkuat. Keindahan alam tidak boleh dikorbankan demi konten, kelalaian, atau kebiasaan yang dianggap sepele.
Teknologi Membantu Tapi Pencegahan Tetap Utama
Drone water spray dan helikopter water bombing memang membantu pemadaman. Namun, teknologi secanggih apa pun tetap lebih mahal dan lebih rumit dibanding pencegahan.
Jika kebakaran sudah terjadi, banyak biaya harus dikeluarkan. Petugas harus turun, alat harus dikerahkan, penerbangan heli membutuhkan biaya besar, dan risiko keselamatan meningkat.
Karena itu, pencegahan harus menjadi fokus utama. Kawasan rawan perlu dipantau, pengunjung harus diedukasi, patroli diperkuat, dan aturan terhadap aktivitas berisiko harus ditegakkan.
Teknologi penting untuk respons bencana. Namun, budaya disiplin jauh lebih penting agar bencana tidak terus berulang.
Hubungan Dengan Isu Kebakaran Lain
Kasus Kebakaran Gunung Bromo Belum Padam mengingatkan bahwa kebakaran bisa terjadi di banyak ruang, mulai dari hutan, lahan, permukiman, hingga fasilitas sosial.
Sebelumnya, Parepos juga membahas tragedi kebakaran panti jompo Werdha Manado. Meski konteksnya berbeda, dua peristiwa ini sama-sama menunjukkan bahwa api selalu menuntut kesiapsiagaan, respons cepat, dan pencegahan yang serius.
Di Bromo, tantangannya adalah medan curam dan luasnya area terbuka. Di permukiman atau fasilitas sosial, tantangannya bisa berupa evakuasi manusia, akses jalan, alat pemadam, dan keselamatan penghuni.
Benang merahnya sama: kebakaran tidak boleh diremehkan.
Catatan Parepos
Kami di Parepos menilai kebakaran Gunung Bromo belum padam sepenuhnya harus menjadi perhatian serius, meski api disebut mulai berangsur terkendali.
Petugas masih menyisir titik api dan bara di Blok Bantengan dan Jantur, Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo. Pemadaman dilakukan dengan metode manual, truk tangki, drone water spray, dan helikopter water bombing BNPB.
Penggunaan drone berkapasitas 150 liter dan heli water bombing menunjukkan bahwa medan Bromo memang tidak mudah. Ada titik yang terlalu curam untuk dijangkau personel darat, sehingga teknologi udara menjadi bantuan penting.
Namun, pelajaran terbesarnya tetap pada pencegahan. Kawasan wisata alam seperti Bromo harus dijaga dengan disiplin tinggi. Pengunjung, pengelola, warga, dan aparat perlu memiliki kesadaran yang sama bahwa satu kelalaian kecil bisa memicu kerusakan besar.
Pada akhirnya, memadamkan api adalah tugas berat petugas. Tetapi mencegah api menyala adalah tanggung jawab semua orang yang mencintai alam Bromo.

Baca berita nasional, lingkungan, bencana, dan isu publik terbaru di Parepos, media dengan semangat Membawa Terang Informasi untuk pembaca yang ingin mengikuti peristiwa penting secara jernih, kritis, dan tetap berimbang.
