JAKARTA, DKI JAKARTA – Artis Indonesia yang paling banyak menciptakan lagu ternyata tidak hanya datang dari generasi musik modern. Sejumlah komposer legendaris seperti Deddy Dores, Rhoma Irama, Didi Kempot, Rinto Harahap, hingga Titiek Puspa mempunyai katalog yang jumlahnya mencapai ratusan bahkan lebih dari seribu lagu.
Namun, menentukan siapa pencipta lagu Indonesia dengan jumlah karya terbanyak secara absolut tidak sesederhana menghitung lagu dalam album.
Indonesia belum memiliki satu basis data publik yang secara lengkap dan seragam menghitung seluruh lagu ciptaan setiap komposer sejak awal industri rekaman. Satu lagu juga dapat memiliki lebih dari satu pencipta, sementara sebagian karya tidak pernah dirilis secara komersial.
Karena itu, angka dalam daftar berikut berasal dari catatan yang dipublikasikan media, institusi, katalog penerbit, dan platform musik. Angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran produktivitas, bukan peringkat resmi nasional.
Menariknya, artikel Superlive mengenai sembilan pencipta lagu legendaris memasukkan Melly Goeslaw, Ahmad Dhani, Dewiq, Eross Candra, Dewi Lestari, Maia Estianty, Yovie Widianto, Ariel NOAH, dan Piyu. Namun artikel tersebut tidak membandingkan jumlah karya masing-masing.
Parepos kemudian menelusuri data kuantitatif yang tersedia untuk melihat siapa saja pencipta lagu Indonesia yang katalog karyanya memang tergolong sangat besar.
Gambaran Jumlah Karya Para Pencipta Lagu
| Pencipta Lagu | Jumlah yang Pernah Dipublikasikan | Catatan |
|---|---|---|
| Deddy Dores | sekitar 1.600 | Sekitar 300 disebut pernah beredar atau menjadi hit |
| Rhoma Irama | lebih dari 1.000 | Data royalti dangdut dan keterangan komunitas |
| Didi Kempot | lebih dari 700 | Mayoritas lagu berbahasa Jawa |
| Rinto Harahap | sekitar 518 | Banyak dinyanyikan penyanyi lain |
| Melly Goeslaw | lebih dari 500 | Data profil resmi Melly |
| Titiek Puspa | lebih dari 400 | Karya lintas genre selama puluhan tahun |
| Yovie Widianto | 250 di Spotify | Berdasarkan katalog songwriter Spotify saat ini |
| Ahmad Dhani | lebih dari 200 | Untuk Dewa 19 dan penyanyi lain |
| Ismail Marzuki | lebih dari 200 | Diciptakan hingga wafat pada 1958 |
Angka di atas tidak sepenuhnya bisa dibandingkan satu banding satu. Spotify, misalnya, hanya menampilkan karya yang berhasil dipetakan dalam katalog digitalnya, sedangkan angka dari musisi era lama dapat mencakup lagu yang tidak tersedia secara digital.
1. Deddy Dores

Nama Deddy Dores menjadi salah satu yang paling mengejutkan jika pembahasannya beralih dari lagu terkenal ke jumlah karya.
Sejumlah laporan setelah kepergiannya pada 2016 mencatat Deddy telah menciptakan sekitar 1.600 judul lagu sepanjang lebih dari tiga dekade berkarier.
Fimela mencatat Deddy memiliki ribuan lagu ciptaan sendiri dan sekitar 300 di antaranya telah beredar di industri musik. Ia bahkan disebut mampu menghasilkan hingga sekitar 10 lagu dalam satu hari pada masa produktifnya.
Nama Deddy tentu sangat erat dengan Nike Ardilla.
Ia berada di balik sejumlah lagu yang kemudian menjadi identitas penyanyi tersebut, termasuk Bintang Kehidupan. Deddy juga berperan sebagai pencipta lagu, musisi, produser, sekaligus pencari bakat.
Jika angka sekitar 1.600 karya tersebut dijadikan acuan, Deddy merupakan salah satu kandidat terkuat ketika orang mencari artis Indonesia yang paling banyak menciptakan lagu.
Namun angka itu bukan hasil pemeringkatan dari lembaga kolektif nasional, sehingga tetap lebih aman menyebutnya sebagai salah satu komposer paling produktif Indonesia.
2. Rhoma Irama

Rhoma Irama juga memiliki katalog yang luar biasa besar.
Royalti Anugerah Indonesia pada 2014 mencatat Rhoma berada di posisi teratas di antara pencipta lagu dangdut dalam data mereka dengan sekitar 1.000 tembang. Ketua Asosiasi Hak Cipta Dangdut Indonesia ketika itu juga menyebut banyaknya karya Rhoma menjadi salah satu alasan penerimaan royaltinya sangat besar.
Fans of Rhoma and Soneta kemudian menyebut sang Raja Dangdut telah menciptakan lebih dari seribu lagu.
Karyanya tidak hanya berbicara tentang percintaan.
Rhoma menggunakan dangdut untuk membahas kehidupan sosial, agama, generasi muda, kemiskinan, hingga kritik terhadap perilaku masyarakat.
Begadang, Darah Muda, Judi, Gelandangan, Ani, Mirasantika, dan Keramat hanyalah sebagian kecil dari katalog panjang tersebut.
Produktivitas itu berlangsung bersama perjalanan Soneta sejak era 1970-an.
Jadi, julukan Raja Dangdut bukan cuma datang dari banyaknya penggemar. Jumlah lagu yang ia tulis juga sulit ditandingi.
3. Didi Kempot

Kalau ukuran produktivitas ditambah dengan konsistensi bahasa daerah, Didi Kempot punya tempat yang sangat kuat.
Badan Narkotika Nasional melalui keterangan yang diberitakan ANTARA pada 2020 menyebut Didi telah menciptakan lebih dari 700 lagu.
Sang istri, Yan Vellia, bahkan mengatakan jumlah karyanya sudah berada di kisaran 700 dan mendekati 800 lagu.
Sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dan mengangkat tema kehilangan, kerinduan, percintaan, serta patah hati.
Stasiun Balapan, Cidro, Sewu Kutho, Pamer Bojo, Banyu Langit, Kalung Emas, Suket Teki, dan Layang Kangen membuat karya Didi bertahan lintas generasi.
Menariknya, kebangkitan popularitas Didi menjelang 2020 justru terjadi ketika generasi yang jauh lebih muda mulai mengenal lagu-lagunya.
Dari sanalah muncul Sobat Ambyar serta julukan The Godfather of Broken Heart.
Baca juga: Artis Indonesia yang Paling Seksi
4. Rinto Harahap

Rinto Harahap adalah salah satu mesin pencetak lagu pop Indonesia pada era 1970-an hingga 1980-an.
Kompas pernah mencatat Rinto menggubah tidak kurang dari 518 lagu.
Detik juga mengutip angka yang sama ketika mengenang perjalanan kariernya setelah wafat pada 2015.
Hal menarik dari Rinto adalah banyak lagunya justru menjadi terkenal melalui suara penyanyi lain.
Nama seperti Nia Daniati, Betharia Sonata, Iis Sugiarto, Christine Panjaitan, Eddy Silitonga, hingga Diana Nasution pernah membawakan karya Rinto.
Ayah, Benci Tapi Rindu, Jangan Sakiti Hatinya, Aku Tak Ingin Sandiwara, Gelas-Gelas Kaca, dan Seandainya Aku Punya Sayap merupakan sebagian karyanya yang masih dikenal.
Rinto pada dasarnya tidak hanya menciptakan lagu.
Ia ikut membentuk karakter pop Indonesia pada sebuah era.
5. Melly Goeslaw

Di generasi yang lebih modern, Melly Goeslaw menjadi salah satu nama dengan dokumentasi katalog paling menarik.
Situs resmi Melly menyebut ia telah menulis lebih dari 500 lagu dan menggarap puluhan album sepanjang perjalanan kariernya.
Sementara halaman songwriter Spotify yang dikelola penerbit Aquarius Pustaka Musik dan Warner Chappell saat ini memetakan 351 lagu yang ditulis Melly.
Kenapa angkanya berbeda?
Karena katalog platform digital tidak selalu mencakup seluruh karya yang pernah ditulis seorang komposer. Ada lagu lama, kolaborasi, karya yang belum tersedia digital, hingga pencatatan metadata yang berbeda.
Melly sendiri berada di balik deretan lagu yang sangat kuat dalam musik pop Indonesia.
Tegar yang dipopulerkan Rossa, Cinta Sejati untuk Bunga Citra Lestari, Menghitung Hari yang dikenal melalui Krisdayanti, hingga berbagai lagu soundtrack Ada Apa dengan Cinta? menunjukkan luasnya katalog tersebut.
Ia bahkan menciptakan lagu untuk penyanyi Malaysia Siti Nurhaliza.
6. Titiek Puspa

Titiek Puspa bukan hanya penyanyi yang mampu bertahan lintas generasi.
Ia juga seorang penulis lagu luar biasa produktif.
Kompas mencatat Titiek menciptakan lebih dari 400 lagu sepanjang karier yang berlangsung lebih dari tujuh dekade. Karyanya mencakup pop, keroncong, lagu anak, religi hingga lagu bernuansa sosial.
Titiek meninggal dunia pada 10 April 2025 dalam usia 87 tahun.
Namun katalog yang ditinggalkannya membuat pengaruhnya terus hidup.
Kupu-Kupu Malam, Bing, Marilah Kemari, Apanya Dong, Jatuh Cinta hingga berbagai lagu anak menjadi contoh bagaimana Titiek dapat bergerak dari tema ringan ke persoalan sosial.
Yovie Widianto bahkan mengenangnya sebagai figur yang tidak sekadar berstatus penyanyi dan komposer, melainkan memiliki jasa besar bagi seni dan budaya Indonesia.
Produktivitas Titiek menjadi semakin menarik karena banyak karya lahir jauh sebelum industri musik digital membuat proses produksi lagu menjadi secepat sekarang.
7. Yovie Widianto

Nama Yovie Widianto tidak terpisahkan dari Kahitna dan Yovie & Nuno.
Namun katalog penciptaannya jauh lebih luas daripada dua grup tersebut.
Halaman songwriter Spotify yang dikelola FIBES Publishing saat ini mencatat 250 lagu yang ditulis Yovie.
Angka tersebut melonjak jauh dari data 2020, ketika fitur Songwriter Spotify baru mencatat 136 karya Yovie. Saat itu, manajemennya mengatakan Yovie telah merilis ratusan lagu dan katalog ciptaannya telah mengumpulkan lebih dari 500 juta pendengar di Spotify.
Cerita Cinta, Cantik, Takkan Terganti, Kasih Putih, Menjaga Hati, Soulmate hingga Terlalu Cinta merupakan sebagian lagunya.
Yang membuat Yovie unik adalah kemampuan menulis untuk karakter penyanyi berbeda.
Glenn Fredly, Rossa, Kahitna, Yovie & Nuno hingga generasi Lyodra, Tiara Andini dan Ziva Magnolya tercatat berada dalam lingkaran karya atau kolaborasinya.
8. Ahmad Dhani

Ahmad Dhani identik dengan Dewa 19, tetapi lagu ciptaannya jauh melampaui repertoar band tersebut.
Okezone pada 2024 mencatat Dhani telah menciptakan lebih dari 200 lagu selama perjalanan karier musiknya.
Sebagian besar lagu klasik Dewa 19 memang lahir dari tangannya.
Kangen, Cinta ‘Kan Membawamu Kembali, Roman Picisan, Dua Sejoli, Risalah Hati, Pupus, Arjuna hingga berbagai karya lain menjadi bagian dari katalog tersebut.
Dhani juga menulis atau memproduksi karya untuk berbagai proyek di luar Dewa 19, termasuk Ahmad Band, The Rock, serta sejumlah penyanyi yang berada di lingkaran Republik Cinta Management.
Dalam beberapa lagu, kredit penciptaannya dibagi dengan personel lain.
Karena itu, menghitung katalog Ahmad Dhani juga perlu membedakan karya solo sebagai penulis dan karya kolaboratif.
9. Ismail Marzuki

Daftar ini terasa kurang lengkap tanpa Ismail Marzuki.
Meski meninggal pada usia relatif muda, 44 tahun, produktivitasnya sangat tinggi.
ANTARA mencatat Ismail telah menghasilkan lebih dari 200 lagu hingga meninggal pada 25 Mei 1958.
Yang membuat angka tersebut semakin luar biasa adalah periode penciptaannya berlangsung di tengah masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, dan awal Indonesia merdeka.
Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Bola, Juwita Malam hingga Gugur Bunga menjadi bagian dari warisan musiknya.
Karyanya tidak hanya populer.
Sejumlah lagu Ismail telah menjadi bagian dari ingatan kolektif bangsa dan terus dinyanyikan puluhan tahun setelah penciptanya meninggal.
Jadi, Siapa yang Paling Banyak Menciptakan Lagu?
Jika hanya menggunakan angka yang pernah dipublikasikan, Deddy Dores termasuk nama dengan angka terbesar dalam daftar ini, yakni sekitar 1.600 karya.
Rhoma Irama berada pada skala lebih dari seribu lagu, sementara Didi Kempot menembus 700 karya.
Namun kami tidak menyebut urutan tersebut sebagai rekor resmi.
Ada alasan penting.
Angka Deddy berasal dari laporan mengenai katalog sepanjang karier. Data Rhoma pernah dicatat organisasi royalti dan komunitas. Jumlah Melly berasal dari profil resmi, sementara Yovie dapat dilihat melalui katalog digital Spotify.
Metode perhitungannya berbeda.
Ada yang menghitung lagu yang pernah ditulis, ada yang menghitung lagu beredar, dan ada pula platform yang hanya menghitung karya dengan metadata digital yang berhasil dipetakan.
Karena itu, pencarian “artis Indonesia yang paling banyak menciptakan lagu” belum mempunyai satu jawaban definitif berdasarkan database nasional terbuka.
Tetapi daftar ini menunjukkan siapa saja yang jelas berada dalam kelompok paling produktif.
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Berpengaruh
Jumlah karya juga bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang pencipta lagu.
Ismail Marzuki menghasilkan lebih sedikit lagu dibanding Deddy Dores atau Rhoma Irama, tetapi Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa memiliki posisi yang berbeda dalam sejarah budaya Indonesia.
Melly Goeslaw sangat kuat di musik film.
Didi Kempot membangun katalog besar dalam bahasa Jawa.
Rhoma Irama membentuk perkembangan dangdut modern.
Rinto Harahap menjadi pencipta lagu untuk banyak penyanyi besar.
Titiek Puspa membentangkan karier dari masa awal industri rekaman Indonesia sampai era digital.
Yovie Widianto menjaga produktivitasnya melintasi beberapa generasi penyanyi.
Artinya, angka menjelaskan produktivitas, tetapi pengaruh sebuah lagu baru terlihat dari seberapa lama karya tersebut bertahan setelah zamannya berlalu.
Dari 200 hingga Lebih dari 1.000 Lagu
Daftar sembilan pencipta lagu Tanah Air legendaris ini juga memperlihatkan betapa besar katalog musik Indonesia yang tersebar di berbagai generasi.
Deddy Dores dikaitkan dengan sekitar 1.600 judul, Rhoma Irama lebih dari seribu, Didi Kempot lebih dari 700, Rinto Harahap sekitar 518, dan Melly Goeslaw lebih dari 500 karya.
Titiek Puspa meninggalkan lebih dari 400 lagu, sedangkan katalog songwriter Spotify saat ini memuat 250 lagu Yovie Widianto. Ahmad Dhani dan Ismail Marzuki masing-masing juga tercatat telah menciptakan lebih dari 200 karya.
Maka jika pertanyaannya siapa artis Indonesia yang paling banyak menciptakan lagu, jawabannya belum bisa ditetapkan melalui satu rekor resmi.
Namun dari data publik yang tersedia, nama seperti Deddy Dores, Rhoma Irama, dan Didi Kempot jelas berada di jajaran teratas dalam urusan produktivitas.
Dan bagian paling menarik sebenarnya bukan angka terakhirnya.
Dari ribuan lagu tersebut, sebagian masih diputar, dinyanyikan ulang, digunakan dalam film, dibawakan di panggung, dan dikenali generasi yang bahkan belum lahir ketika karya itu pertama kali diciptakan.
Itulah ukuran lain dari seorang pencipta lagu: bukan hanya berapa banyak yang berhasil ditulis, tetapi berapa lama lagunya tetap hidup.

Baca berita terkini di Parepos untuk mendapatkan informasi terbaru seputar hiburan, musik, selebritas, budaya, nasional, dan berbagai informasi menarik lainnya.
