Ruben Onsu Kecewa Anaknya Ikut Jualan Parfum Dewasa

JAKARTA, DKI JAKARTA – Ruben Onsu kecewa anaknya ikut jualan parfum dewasa dalam sebuah siaran langsung yang turut menampilkan mantan istrinya, Sarwendah, dan Giorgio Antonio. Presenter tersebut menyampaikan keberatan setelah melihat putrinya diminta membantu aktivitas jualan meski dalam potongan video terlihat tidak menunjukkan keinginan untuk ikut.

Momen itu kembali menjadi sorotan pada Kamis, 10 September 2026. Dalam rekaman yang beredar, Sarwendah terlihat bersama putrinya sementara Giorgio sedang melakukan live shopping. Giorgio kemudian terdengar meminta sang anak membantu berjualan.

Ruben menilai keterlibatan anak dalam aktivitas tersebut tidak tepat, terlebih barang yang sedang dipromosikan disebut sebagai parfum untuk konsumen dewasa.

Namun, ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Video yang beredar hanya berupa potongan siaran langsung sehingga konteks keseluruhan interaksi belum diketahui.

Anak Ruben Terlihat Menolak Saat Diminta Membantu

Dalam potongan video yang ramai dibicarakan, Giorgio Antonio terlihat berada di samping Sarwendah dan anak mereka saat sesi live berlangsung.

Giorgio meminta sang anak membantu aktivitas jualan.

Putri Ruben kemudian tampak menggelengkan kepala. Giorgio kembali terdengar meminta bantuan dengan mengatakan agar dirinya ikut membantu berjualan.

Respons tersebut menjadi salah satu bagian yang paling disorot Ruben.

Ia melihat putrinya sudah memberikan tanda tidak bersedia sehingga orang dewasa di sekitarnya seharusnya menghormati penolakan tersebut.

Bagi Ruben, persoalannya bukan sekadar anak muncul beberapa detik di depan kamera.

Ia mempertanyakan mengapa putrinya tetap diminta ikut membantu aktivitas komersial setelah menunjukkan ketidakinginan.

Ruben Soroti Produk Parfum untuk Orang Dewasa

Ruben juga mempermasalahkan jenis produk yang sedang dijual.

Ia menyebut barang dalam live tersebut sebagai parfum dewasa dan mempertanyakan alasan anak-anak perlu dilibatkan dalam mempromosikannya.

Dalam responsnya, Ruben pada intinya meminta Giorgio menjual produk tersebut sendiri dan tidak mengajak putrinya.

Kritik itu kemudian menyebar luas di media sosial dan kembali membuka perdebatan mengenai sejauh mana anak figur publik seharusnya dilibatkan dalam konten komersial orang tuanya.

Kami melihat masalah utamanya bukan apakah parfum merupakan barang yang berbahaya untuk anak.

Konteks yang sedang dipersoalkan Ruben adalah keterlibatan seorang anak dalam aktivitas promosi produk yang target konsumennya orang dewasa, khususnya ketika anak tersebut terlihat enggan ikut berjualan.

Belum Bisa Disebut Dipaksa

Sejumlah unggahan di media sosial kemudian menggunakan istilah bahwa putri Ruben “dipaksa” berjualan.

Namun, informasi tersebut perlu diperlakukan dengan hati-hati.

Media yang memberitakan video itu juga menegaskan rekaman yang beredar hanya memperlihatkan sebagian dari sesi live. Konteks lengkap percakapan sebelum maupun setelah momen tersebut tidak diketahui.

Karena itu, kami tidak menyebut telah terjadi pemaksaan sebagai sebuah fakta.

Yang dapat dipastikan dari potongan yang tersedia adalah anak terlihat menolak, kemudian kembali diminta membantu.

Perbedaan ini penting.

Apalagi konflik antara Ruben dan Sarwendah sedang berlangsung di ranah hukum sehingga setiap potongan konten dapat dengan mudah ditarik menjadi kesimpulan yang jauh lebih besar daripada bukti yang tersedia.

Baca juga: Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Penipuan

Ini Bukan Pertama Kalinya Ruben Protes Anak Ikut Live Jualan

Kritik serupa sebenarnya pernah disampaikan Ruben pada Juni 2026.

Saat itu, ia juga mempermasalahkan kemunculan anak-anaknya dalam sesi live shopping bersama Sarwendah dan Giorgio.

Ruben meminta agar anak-anak tidak terus dibawa ke depan kamera untuk mengikuti aktivitas jualan orang dewasa.

Dengan demikian, persoalan parfum pada September bukan keberatan pertama Ruben mengenai live shopping.

Isunya sudah muncul beberapa bulan sebelumnya dan menjadi salah satu sumber ketegangan dalam konflik pengasuhan antara Ruben dan Sarwendah.

Hal inilah yang membuat video terbaru langsung mendapatkan perhatian besar.

Publik tidak melihatnya sebagai insiden tunggal, tetapi sebagai kelanjutan dari perselisihan yang sudah berlangsung sejak pertengahan tahun.

Pihak Sarwendah Pernah Beri Penjelasan soal Anak Ikut Live

Pihak Sarwendah sebelumnya sudah pernah menjawab kritik Ruben mengenai keberadaan anak dalam sesi live jualan.

Kuasa hukum Sarwendah menjelaskan pada Juni bahwa anak masuk ke area live karena ingin berada dekat dengan ibunya. Pihak Sarwendah membantah bahwa kehadiran anak dimaksudkan untuk dieksploitasi demi aktivitas komersial.

Klarifikasi tersebut disampaikan untuk menjawab kejadian sebelumnya, bukan secara spesifik video parfum yang terbaru.

Sampai pemberitaan mengenai video terbaru dibuat pada 10 September, Sarwendah maupun Giorgio belum memberikan respons publik khusus terhadap potongan live tersebut.

Karena itu, tidak tepat apabila penjelasan pada Juni otomatis dianggap sebagai jawaban atas kejadian September.

Isu Keterlibatan Anak Masuk Konflik Hak Asuh

Persoalan menjadi lebih serius karena Ruben dan Sarwendah saat ini sedang menjalani proses hukum mengenai pengasuhan anak.

Ruben mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 1 Juli 2026.

Kuasa hukum Ruben sebelumnya menyebut salah satu hal yang menjadi perhatian pihaknya adalah dugaan keterlibatan anak secara berlebihan dalam konten maupun live di media sosial.

Meski demikian, terdapat perbedaan penjelasan mengenai dasar utama gugatan.

Pihak Ruben juga pernah menegaskan persoalan utama yang mendorong langkah hukum berkaitan dengan kesulitan bertemu anak, bukan semata-mata tudingan eksploitasi.

Perkara tersebut masih berjalan.

Pada 9 September, pihak Sarwendah telah menyampaikan jawaban atas gugatan sekaligus mengajukan gugatan balik atau rekonvensi melalui sistem e-court. Detail perkara tidak dibuka seluruhnya karena berkaitan dengan hak asuh anak.

Istilah Eksploitasi Belum Menjadi Kesimpulan Hukum

Ruben beberapa kali menggunakan isu eksploitasi ketika menyoroti keterlibatan anak dalam konten komersial.

Namun, istilah tersebut perlu ditempatkan secara tepat.

Sampai saat ini, belum ada putusan pengadilan yang menyatakan Sarwendah atau pihak lain terbukti melakukan eksploitasi anak berdasarkan video live tersebut.

Yang ada adalah tudingan atau kekhawatiran dari pihak Ruben yang menjadi bagian dari konflik pengasuhan dan proses hukum mereka.

Jadi, publik perlu membedakan antara “Ruben menilai ada dugaan eksploitasi” dengan “telah terbukti terjadi eksploitasi”.

Keduanya bukan kalimat yang sama.

KPAI Ingatkan Kepentingan Anak Harus Jadi Prioritas

Di luar perseteruan Ruben dan Sarwendah, prinsip perlindungan anak di ruang digital memang semakin mendapat perhatian.

KPAI menegaskan pembuatan maupun penyebaran konten yang melibatkan anak harus mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak serta mencegah dampak lanjutan secara psikologis, sosial, dan digital.

KPAI juga menilai perkembangan platform digital menghadirkan berbagai risiko baru terhadap anak sehingga orang dewasa perlu lebih berhati-hati dalam menentukan bagaimana anak ditampilkan dan dilibatkan di internet.

Prinsip tersebut relevan dalam kasus ini tanpa harus lebih dulu menentukan siapa yang benar dalam konflik Ruben dan Sarwendah.

Ketika seorang anak tidak ingin ikut sebuah aktivitas, respons penolakannya seharusnya menjadi pertimbangan utama orang dewasa.

Konflik Ruben dan Sarwendah Masih Berjalan

Ruben Onsu kecewa anaknya ikut jualan parfum dewasa karena menilai sang putri tidak seharusnya dilibatkan dalam sesi promosi tersebut.

Potongan video memperlihatkan putrinya berada dalam live bersama Sarwendah dan Giorgio Antonio. Ketika diminta membantu, ia terlihat menggelengkan kepala sebelum kembali diminta ikut berjualan.

Ruben kemudian menyampaikan keberatan dan meminta Giorgio menjual produk tersebut sendiri.

Namun, video yang beredar belum menunjukkan keseluruhan konteks sesi live sehingga klaim bahwa anak benar-benar “dipaksa” belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Peristiwa terbaru juga tidak bisa dilepaskan dari konflik pengasuhan antara Ruben dan Sarwendah yang kini masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kami melihat ada satu pihak yang seharusnya tidak dijadikan arena tarik-menarik opini publik dalam perselisihan tersebut, yakni anak-anak mereka.

Persoalan orang dewasa bisa diselesaikan melalui komunikasi dan pengadilan.

Sementara kepentingan anak sebaiknya tetap berada satu tingkat di atas keinginan untuk menang di kolom komentar.

Parepos logo text

Baca berita terkini di Parepos untuk mendapatkan informasi terbaru seputar hiburan, selebritas, nasional, hukum, dan berbagai peristiwa penting lainnya.

By admin