JAKARTA, DKI JAKARTA – Kalina Ocktaranny Somasi Ibu Vicky Prasetyo setelah merasa tersinggung dengan komentar yang diduga bernada body shaming. Komentar itu disebut datang dari Emma Fauziah, ibunda Vicky Prasetyo, yang merupakan mantan mertua Kalina.
Kabar ini langsung menjadi sorotan karena hubungan Kalina dan keluarga Vicky memang pernah ramai dibicarakan sejak keduanya menikah hingga akhirnya berpisah. Kini, nama mereka kembali naik ke ruang publik bukan karena hubungan asmara, melainkan karena komentar di media sosial yang dianggap melewati batas.
Kalina disebut tidak terima dengan komentar yang menyinggung fisiknya. Ia pun melayangkan somasi terbuka dan meminta agar pihak yang bersangkutan memberi klarifikasi serta permintaan maaf.
Kami di Parepos melihat isu ini bukan sekadar drama mantan menantu dan mantan mertua. Ini juga soal batas berkomentar di media sosial. Satirnya, jari bisa mengetik dalam lima detik, tapi akibatnya bisa panjang sampai masuk ranah somasi.
Awal Mula Kalina Ocktaranny Somasi Ibu Vicky Prasetyo
Persoalan bermula dari komentar yang diduga ditulis Emma Fauziah di unggahan media sosial Kalina. Komentar tersebut kemudian dibaca Kalina dan dianggap merendahkan bentuk tubuhnya.
Kalina merasa komentar itu tidak pantas, apalagi datang dari sosok yang pernah menjadi bagian dari keluarga besarnya. Hubungan Kalina dan Vicky Prasetyo memang sudah lama berakhir, tetapi komentar tersebut membuat luka lama seolah ikut terbuka kembali.
Dalam situasi seperti ini, publik bisa melihat bahwa hubungan setelah perceraian tidak selalu selesai begitu saja. Kadang, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga gesekan antar keluarga yang sewaktu-waktu bisa muncul lagi.
Kalina Merasa Jadi Korban Body Shaming
Kalina disebut merasa menjadi korban body shaming karena komentar tersebut menyinggung penampilan fisiknya. Body shaming adalah tindakan mengomentari atau merendahkan tubuh seseorang, baik secara langsung maupun lewat media sosial.
Masalah seperti ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Ada yang berdalih bercanda, ada yang menyebutnya hanya komentar biasa, ada pula yang merasa bebas bicara karena unggahan tersebut ada di ruang publik.
Namun, bagi orang yang menerima komentar itu, efeknya bisa berbeda. Komentar tentang tubuh bisa melukai rasa percaya diri, membuat seseorang merasa direndahkan, bahkan memicu tekanan emosional.
Kalina tampaknya tidak ingin membiarkan komentar itu berlalu begitu saja. Somasi terbuka menjadi cara untuk menunjukkan bahwa ia merasa keberatan dan ingin ada tanggung jawab dari pihak yang berkomentar.
Somasi Terbuka Untuk Emma Fauziah
Kalina disebut melayangkan somasi terbuka kepada Emma Fauziah. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Kalina ingin persoalan tersebut ditanggapi serius, bukan hanya dianggap sebagai keributan media sosial.
Somasi biasanya menjadi peringatan sebelum seseorang mengambil langkah hukum lebih lanjut. Dalam konteks ini, Kalina ingin pihak yang ia nilai menyerangnya secara verbal memberi klarifikasi dan permintaan maaf.
Langkah Kalina ini juga memperlihatkan bahwa komentar di media sosial bisa memiliki konsekuensi. Dunia digital memang terasa bebas, tetapi bukan berarti tanpa batas. Komentar yang menyerang fisik, menghina, atau merendahkan orang lain tetap bisa menjadi masalah serius.
Nama Vicky Prasetyo Kembali Terseret
Meski persoalan ini terjadi antara Kalina dan ibunda Vicky Prasetyo, nama Vicky tetap ikut terseret. Wajar, karena publik mengenal hubungan Kalina dan Emma lewat pernikahan Kalina dengan Vicky.
Kalina dan Vicky menikah pada 2021, tetapi rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Setelah berpisah, keduanya beberapa kali masih menjadi sorotan karena berbagai pernyataan dan dinamika yang muncul di ruang publik.
Kini, konflik baru dengan mantan mertua membuat publik kembali mengingat perjalanan rumah tangga Kalina dan Vicky. Padahal, secara pribadi, keduanya sudah lama menjalani hidup masing-masing.
Di sinilah media sosial sering membuat masa lalu sulit benar-benar selesai. Satu komentar bisa menarik kembali cerita lama yang sebenarnya sudah ingin ditutup.
Body Shaming Tidak Bisa Dianggap Candaan
Kasus Kalina Ocktaranny Somasi Ibu Vicky Prasetyo menjadi pengingat bahwa body shaming tidak boleh dianggap candaan ringan. Mengomentari tubuh seseorang, apalagi dengan nada merendahkan, bisa berdampak besar.
Setiap orang punya kondisi tubuh, perjalanan hidup, dan perjuangan personal masing-masing. Ada yang sedang berusaha sehat, ada yang sedang memulihkan diri, ada yang punya masalah hormonal, ada pula yang memang sedang tidak ingin tubuhnya menjadi bahan komentar.
Tidak semua hal perlu dikomentari. Jika komentar tidak membantu, tidak sopan, dan hanya membuat orang lain merasa buruk, lebih baik tidak ditulis.
Satirnya, banyak orang merasa paling bebas menilai tubuh orang lain, padahal mengurus isi piring sendiri saja belum tentu konsisten.
Netizen Ikut Berkomentar
Seperti biasa, isu selebritas yang melibatkan media sosial cepat menyebar. Netizen ikut memberi berbagai pendapat. Ada yang mendukung langkah Kalina karena menilai body shaming harus dilawan. Ada pula yang menganggap persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
Namun, terlepas dari pro dan kontra, satu hal cukup jelas: komentar soal fisik seseorang selalu berisiko. Apalagi jika dilakukan di ruang publik dan menyasar figur yang punya riwayat hubungan personal dengan pemberi komentar.
Dalam dunia hiburan, konflik kecil bisa cepat membesar karena banyak mata ikut mengawasi. Satu komentar bisa discreenshot, dibagikan ulang, diberi narasi, lalu viral dalam waktu singkat.
Catatan Parepos
Kami di Parepos menilai kasus Ngamuk Baca Komentar sang Mantan Mertua, Kalina Ocktaranny Somasi Ibu Vicky Prasetyo bukan hanya drama selebritas biasa. Ini juga pelajaran tentang etika berkomentar di media sosial.
Kalina berhak merasa keberatan jika komentarnya dianggap menyerang fisik. Emma Fauziah juga berhak memberi penjelasan jika merasa komentarnya disalahpahami. Namun, ruang terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini tetap harus mengutamakan klarifikasi yang jelas dan tidak memperpanjang saling sindir.
Publik pun perlu belajar dari kasus ini. Media sosial bukan tempat bebas menghina. Komentar tentang tubuh seseorang bukan hiburan. Jika salah bicara di ruang digital, dampaknya bisa masuk ke ruang hukum.
Pada akhirnya, konflik mantan keluarga seperti ini sebaiknya tidak terus menjadi konsumsi panas publik. Jika ada yang merasa disakiti, minta maaf adalah jalan paling sederhana. Jika merasa difitnah, klarifikasi bisa dilakukan dengan kepala dingin.
Yang jelas, tubuh seseorang bukan bahan lelucon. Apalagi jika komentar itu hanya menambah luka lama yang sebenarnya sudah cukup melelahkan.

Baca berita hiburan dan kabar selebritas terbaru di Parepos, media dengan semangat Membawa Terang Informasi untuk pembaca yang ingin mengikuti isu populer secara jernih, berimbang, dan tetap manusiawi.
