JAKARTA, DKI JAKARTA – Hujan Guyur Kalimantan dan Sumatera setelah berbulan-bulan kondisi kering dan kebakaran hutan serta lahan atau karhutla melanda sejumlah wilayah.
Kabar turunnya hujan disambut lega warga dan relawan yang selama ini berjibaku memadamkan api.
Di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, hujan turun dengan intensitas tinggi setelah sekitar empat bulan wilayah tersebut mengalami kondisi kering.
Momen tersebut bahkan membuat sejumlah relawan pemadam karhutla melakukan sujud syukur.
Namun, saya melihat satu hal penting yang perlu digarisbawahi.
Turunnya hujan memang membantu proses pemadaman, tetapi belum berarti seluruh ancaman karhutla dan kabut asap langsung berakhir.
Hujan Guyur Kalimantan dan Sumatera
Hujan mulai turun di sejumlah daerah Kalimantan Selatan pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Martapura menjadi salah satu wilayah yang akhirnya kembali merasakan hujan deras setelah lama dilanda kekeringan.
Ketua Bumi Selamat Rescue atau Buser 690, Hasan Hamdan, mengatakan para relawan sudah sekitar empat bulan berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan.
Turunnya hujan menjadi momen yang sangat dinantikan.
Bagi relawan yang selama berbulan-bulan berhadapan langsung dengan api, hujan kali ini bukan sekadar perubahan cuaca.
Rasanya lebih seperti bala bantuan datang tanpa perlu dipanggil lewat radio.
Hujan Turun setelah Empat Bulan Kering
Warga Martapura menyebut hujan turun cukup deras selama sekitar 20 menit.
Salah seorang warga, Devi Farah, mengatakan hujan tersebut menjadi salah satu yang terderas setelah wilayahnya mengalami kekeringan sekitar empat bulan.
Kondisi itu memberikan harapan bahwa titik api dan lahan kering dapat lebih mudah dikendalikan.
Hujan juga membantu membasahi vegetasi yang sebelumnya rentan terbakar akibat musim kemarau panjang.
Namun, durasi sekitar 20 menit belum tentu cukup untuk memadamkan seluruh kebakaran, terutama pada lahan gambut atau area dengan titik api yang berada di bawah permukaan.
Relawan Karhutla Sujud Syukur
Momen paling menyentuh terjadi ketika sejumlah relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan melakukan sujud syukur saat hujan turun.
Hasan Hamdan menyebut turunnya hujan seperti kemenangan kecil bagi para relawan.
Mereka sudah berbulan-bulan turun ke lapangan menghadapi api, asap, dan kondisi cuaca panas.
Bagi tim pemadam, hujan dapat membantu memperlambat penyebaran api dan menurunkan suhu lahan.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman di lapangan menjadi lebih memungkinkan.
Banjarbaru Ikut Diguyur Hujan Deras
Tidak hanya Martapura, hujan juga mengguyur Kota Banjarbaru.
Hujan terjadi pada Minggu sore dan disambut masyarakat yang selama ini berharap karhutla serta kabut asap segera berkurang.
BMKG Kalimantan Selatan sebelumnya memperkirakan sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Hujan juga dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang.
Prediksi tersebut kemudian terlihat dalam kondisi cuaca yang terjadi di Banjarbaru.
Angin Kencang Picu Pohon Tumbang
Turunnya hujan ternyata juga membawa dampak lain.
Angin kencang menyebabkan sebuah pohon besar tumbang di Jalan Karang Anyar, Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara.
Pohon tersebut menutup seluruh badan jalan.
Pengendara terpaksa mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan panjang.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa hujan yang sangat dinanti di tengah karhutla tetap dapat disertai risiko cuaca ekstrem.
Jadi, saat api mulai mereda, kewaspadaan terhadap angin dan pohon tumbang justru tidak boleh ikut turun.
Sumatera Selatan Juga Mulai Diguyur Hujan
Hujan juga mulai muncul di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto menyebut turunnya hujan sebagai kabar baik bagi personel pemadam.
Hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan mempermudah proses pemadaman.
Namun, petugas tetap melakukan pemantauan karena tidak semua wilayah karhutla langsung mendapatkan hujan.
Baca juga laporan Parepos mengenai IKN ditelan asap kebakaran hutan yang sebelumnya menunjukkan besarnya dampak karhutla terhadap kualitas udara di Kalimantan.
OKI Diguyur Hujan, Muara Enim Masih Berasap
Di Kabupaten Ogan Komering Ilir atau OKI, hujan turun di wilayah Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam.
Hujan dilaporkan mulai turun sejak sekitar pukul 04.30 WIB hingga pagi hari.
Namun, intensitasnya masih tergolong rendah.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Muara Enim.
Wilayah Desa Putak, Kecamatan Gelumbang, masih terpantau berasap karena hujan belum turun di kawasan tersebut.
Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa turunnya hujan belum merata di seluruh daerah yang terdampak karhutla.
Hujan Belum Berarti Karhutla Selesai
Meski hujan mulai turun, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap persoalan karhutla telah selesai.
Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi mengering.
Selain itu, tidak semua wilayah mendapatkan curah hujan dengan intensitas serta durasi yang cukup.
Tim pemadam tetap perlu melakukan pendinginan, patroli, serta pengecekan titik api.
Kualitas udara juga tidak selalu langsung membaik setelah hujan pertama turun.
Asap yang sudah terakumulasi membutuhkan waktu untuk berkurang, bergantung pada arah angin dan kondisi atmosfer.
El Niño Masih Jadi Tantangan
BMKG mencatat kondisi atmosfer Indonesia pada Oktober 2026 masih dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Pada pertengahan Oktober, anomali suhu muka laut wilayah Nino3.4 mencapai sekitar +3,33 derajat Celsius.
Kondisi tersebut cenderung mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
BMKG juga mencatat 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 14 Oktober 2026.
Sebaran terbesar berada di Sumatera dengan 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski hujan mulai muncul, risiko kekeringan dan karhutla masih perlu diwaspadai.
Kesimpulan
Akhirnya Hujan Guyur Kalimantan dan Sumatera setelah sejumlah wilayah menghadapi kekeringan dan karhutla dalam waktu panjang.
Di Martapura, Kalimantan Selatan, hujan deras turun setelah sekitar empat bulan kondisi kering.
Relawan pemadam karhutla bahkan melakukan sujud syukur ketika hujan mulai mengguyur kawasan tersebut.
Banjarbaru juga mendapatkan hujan, meski angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan mengganggu lalu lintas.
Di Sumatera Selatan, hujan turun di Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam, Kabupaten OKI.
Namun, Muara Enim masih terpantau berasap karena belum mendapatkan hujan.
Turunnya hujan menjadi bantuan penting bagi proses pemadaman, tetapi ancaman karhutla belum sepenuhnya selesai.
El Niño yang masih kuat, kondisi lahan kering, serta banyaknya titik panas membuat masyarakat dan petugas tetap harus waspada.

Baca berita terkini di Parepos untuk mengikuti perkembangan lingkungan, bencana, nasional, Sulawesi, cuaca, dan informasi terbaru lainnya. Parepos, Membawa Terang Informasi.
