NUSANTARA, KALIMANTAN TIMUR – IKN Ditelan Asap Kebakaran Hutan hingga sejumlah bangunan ikonik di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP terlihat samar dari kejauhan.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan menyelimuti kawasan Ibu Kota Nusantara.
Dalam dokumentasi yang beredar, Istana Garuda yang biasanya mudah terlihat dari kejauhan nyaris tertutup lapisan asap.
Bukan hanya Istana Garuda. Rusun ASN, sejumlah gedung perkantoran hingga Masjid Negara juga tampak samar.
Kalau biasanya panorama IKN memperlihatkan bangunan megah dengan latar kawasan hijau, kali ini pemandangannya seperti seseorang menurunkan opacity satu kota.
IKN Ditelan Asap Kebakaran Hutan
Kondisi kabut asap di IKN cukup terasa pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan asap paling terasa pada pagi hari.
Ia menyebut kondisi sehari sebelumnya bahkan lebih parah dibandingkan saat pemantauan dilakukan.
Meski demikian, kepekatan asap mulai menunjukkan penurunan.
Situasi tersebut tetap menjadi perhatian karena kualitas udara di kawasan inti pemerintahan berada pada level tidak sehat.
Istana Garuda Tampak “Menghilang”
Salah satu pemandangan yang paling menarik perhatian adalah kondisi Istana Garuda.
Bangunan yang menjadi salah satu ikon IKN tersebut terlihat sangat samar akibat tertutup asap.
Dari kejauhan, struktur bangunan hampir menyatu dengan warna langit yang dipenuhi kabut.
Rusun ASN dan sejumlah bangunan pemerintahan juga tidak terlihat sejelas biasanya.
Masjid Negara bahkan tampak hampir tenggelam di balik lapisan asap.
Istilah “menghilang” tentu bukan berarti bangunannya benar-benar tidak ada, melainkan menggambarkan betapa tebalnya kabut asap yang membatasi pandangan.
Kualitas Udara IKN Masuk Kategori Tidak Sehat
Dampak karhutla bukan sekadar mengurangi jarak pandang.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU KLH/BPLH, kualitas udara di sekitar Plaza Bhinneka KIPP IKN masuk kategori tidak sehat.
Pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 13.00 Wita, nilai ISPU PM2.5 tercatat mencapai 121.
Basuki menyebut angka tersebut sebelumnya bahkan sempat menyentuh 150.
Kondisi ini menjadi alasan Otorita IKN terus melakukan pemantauan kualitas udara melalui perangkat yang ditempatkan di kawasan Taman Bhinneka Tunggal Ika.
Asap Terasa Lebih Pekat pada Pagi Hari
Menurut Basuki, kondisi kabut asap paling terasa pada pagi hari.
Hal ini terlihat dari jarak pandang yang menurun dan sejumlah gedung yang menjadi semakin sulit terlihat dari kejauhan.
Pada siang hari, kondisi dilaporkan mulai membaik.
Namun, perubahan kualitas udara dapat berlangsung cepat bergantung pada arah angin, kondisi cuaca, serta perkembangan titik api.
Karena itu, masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar kawasan tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Aktivitas Pemerintahan Tetap Berjalan Normal
Meski kawasan IKN diselimuti asap cukup tebal, aktivitas pemerintahan dilaporkan masih berjalan normal.
Basuki memastikan kegiatan kerja belum dihentikan akibat kondisi tersebut.
Otorita IKN tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan kualitas udara dan situasi karhutla.
Artinya, foto Istana Garuda yang seolah “menghilang” di balik asap memang terlihat dramatis, tetapi belum berarti aktivitas di kawasan ibu kota baru lumpuh.
Warga Diminta Menggunakan Masker
Otorita IKN mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan menggunakan masker.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan partikel dari kabut asap.
Imbauan menjadi semakin penting ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.
Masyarakat juga perlu menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi udara.
Terutama anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan yang cenderung lebih sensitif terhadap polusi.
Baca juga laporan Parepos mengenai gudang mebel di Jakarta Barat yang mengalami kebakaran.
Water Bombing Dikerahkan untuk Atasi Karhutla
Otorita IKN tidak hanya melakukan pemantauan.
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan di wilayah delineasi IKN.
Penanganan melibatkan kerja sama Otorita IKN, Lanud Dhomber, serta BMKG.
Salah satu metode yang digunakan adalah water bombing melalui helikopter.
Air dijatuhkan dari udara menuju lokasi kebakaran untuk membantu memadamkan titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Modifikasi Cuaca Belum Maksimal
Selain water bombing, operasi modifikasi cuaca atau OMC juga dilakukan.
Tujuannya untuk menghasilkan hujan di kawasan yang terdampak kebakaran sehingga proses pemadaman dapat berlangsung lebih efektif.
Namun, pelaksanaan OMC menghadapi kendala.
Basuki menjelaskan jumlah awan hujan di langit IKN masih minim sehingga proses modifikasi cuaca belum dapat berjalan maksimal.
Dengan kondisi tersebut, pemadaman darat dan water bombing tetap menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.
Karhutla IKN Sudah Jadi Perhatian Sejak September
Ancaman kebakaran di sekitar kawasan IKN sebenarnya sudah mendapat perhatian serius sejak sebelumnya.
Pada September 2026, Otorita IKN menyebut sejumlah titik kebakaran berada di wilayah delineasi Nusantara.
Ketika itu, titik api terdekat dilaporkan berada sekitar 30 hingga 40 kilometer dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.
OIKN juga melakukan patroli, monitoring hingga penegakan hukum untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa perlindungan kawasan IKN dari karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api.
Pencegahan dan pengawasan jangka panjang juga menjadi bagian yang sama pentingnya.
Kesimpulan
IKN Ditelan Asap Kebakaran Hutan hingga membuat Istana Garuda, Rusun ASN, Masjid Negara dan sejumlah perkantoran terlihat samar dari kejauhan.
Pada 15 Oktober 2026, kualitas udara di sekitar Plaza Bhinneka KIPP berada dalam kategori tidak sehat dengan ISPU PM2.5 mencapai 121 dan sempat menyentuh angka 150.
Meski demikian, aktivitas pemerintahan di kawasan IKN tetap berjalan normal.
Otorita IKN meminta masyarakat menggunakan masker dan terus melakukan pemantauan kualitas udara.
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui water bombing serta operasi modifikasi cuaca bersama Lanud Dhomber dan BMKG.
OMC belum berjalan optimal karena minimnya awan hujan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan IKN juga berjalan berdampingan dengan tantangan besar menjaga ekosistem hutan serta kualitas udara di Kalimantan.

Baca berita terkini di Parepos untuk mengikuti perkembangan nasional, lingkungan, Sulawesi, IKN, bencana, dan informasi terbaru lainnya. Parepos, Membawa Terang Informasi.
