Udara Palembang Masih Berbahaya Akibat Asap Karhutla

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN – Udara Palembang Masih Berbahaya Akibat Asap Karhutla pada Rabu, 14 Oktober 2026. Konsentrasi partikel halus PM2.5 bahkan sempat mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik pada dini hari.

Kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang masih berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan daerah sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat memakai masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Bagi kami, kondisi ini jelas tidak bisa dianggap sebagai kabut pagi biasa.

Kalau udara sudah masuk kategori berbahaya, masker bukan lagi aksesori tambahan saat keluar rumah.

Udara Palembang Masih Berbahaya Akibat Asap Karhutla

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan kualitas udara Palembang masih tercatat pada kategori berbahaya.

Pemantauan dilakukan melalui Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang.

Kondisi buruk bahkan sudah terlihat sejak dini hari.

Pada pukul 01.00 WIB, konsentrasi PM2.5 berada di angka 372,8 µg/m³.

Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 474,6 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.

Situasi semakin buruk beberapa jam berikutnya.

PM2.5 Tembus 514,7 µg/m³

Puncak konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar pukul 05.00 WIB.

Pada waktu tersebut, angkanya mencapai 514,7 µg/m³.

Kualitas udara pun berada pada kategori berbahaya.

Setelah mencapai titik tersebut, konsentrasi PM2.5 perlahan mulai mengalami penurunan.

Pada pukul 07.00 WIB, angkanya tercatat 432,6 µg/m³.

Meski sudah turun dari puncaknya, kualitas udara tetap berada dalam kategori berbahaya.

Artinya, turun bukan berarti sudah aman.

Kondisi Berbahaya Terjadi Sejak Dini Hari

Data tersebut memperlihatkan buruknya kualitas udara bukan hanya muncul ketika aktivitas warga mulai ramai pada pagi hari.

Konsentrasi PM2.5 sudah berada pada level berbahaya sejak dini hari.

Pola peningkatan terjadi dari pukul 01.00 hingga mencapai puncaknya pada pukul 05.00 WIB.

Situasi ini membuat masyarakat perlu memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah.

Terutama bagi warga yang harus melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor atau bekerja dalam waktu lama di ruang terbuka.

Asap Karhutla Berasal dari OKI dan Sekitarnya

BMKG menyebut kabut asap yang masuk ke Kota Palembang masih berasal dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan Ogan Komering Ilir dan sekitarnya.

Asap dari lokasi kebakaran dapat terbawa angin menuju wilayah lain.

Inilah yang menyebabkan kualitas udara sebuah kota dapat ikut memburuk meskipun titik kebakaran tidak berada tepat di pusat kota.

OKI sendiri menjadi salah satu wilayah Sumatera Selatan yang menghadapi kebakaran lahan selama musim kemarau.

Karhutla bukan hanya persoalan api di lokasi kebakaran.

Ketika asap bergerak ke daerah lain, dampaknya bisa dirasakan masyarakat dalam wilayah yang jauh lebih luas.

Baca juga perkembangan mengenai kebakaran hutan di Kalimantan dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat.

Sebelumnya PM2.5 Bahkan Pernah Tembus 881 µg/m³

Kondisi buruk udara Palembang sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa waktu sebelumnya.

Pada 5 Oktober 2026, pemantauan BMKG di Stasiun PM2.5 Talang Betutu mencatat konsentrasi hingga 881 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.

Sementara itu, Stasiun Musi 2 Palembang pada hari yang sama mencatat angka tertinggi sekitar 802,3 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.

Angka tersebut menunjukkan persoalan asap di Palembang belum benar-benar selesai.

Meski konsentrasi PM2.5 dapat berubah dari jam ke jam, kemunculan angka sangat tinggi secara berulang tetap membutuhkan kewaspadaan masyarakat.

Warga Keluhkan Sesak Napas dan Mata Perih

Dampak kabut asap sudah dirasakan sebagian warga Palembang.

Pada awal Oktober, sejumlah masyarakat mengeluhkan mata perih hingga sesak napas ketika harus beraktivitas di tengah asap.

Keluhan terutama dirasakan mereka yang berkendara atau berada cukup lama di luar rumah.

Beberapa warga bahkan memilih mengurangi aktivitas di luar jika tidak memiliki keperluan mendesak.

Situasi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan kualitas udara bukan sekadar angka yang muncul pada layar pemantauan.

Efeknya benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Warga Diminta Pakai Masker

Melihat kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan.

Mengurangi aktivitas luar juga dapat menjadi pilihan ketika kualitas udara sedang berada di tingkat berbahaya.

Warga disarankan terus memperhatikan informasi kualitas udara terkini karena kondisi dapat berubah berdasarkan titik api, arah angin, cuaca, serta intensitas hujan.

Kalau tidak ada urusan penting, menunda nongkrong sebentar mungkin lebih masuk akal daripada pulang membawa bonus asap ke paru-paru.

Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Paparan polusi udara perlu menjadi perhatian semua orang, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat gangguan pernapasan atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati.

Jika kualitas udara sedang buruk, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi.

Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak karena tubuh mereka masih berkembang dan dapat lebih sensitif terhadap polutan udara.

Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, batuk berat, atau keluhan kesehatan yang tidak membaik, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu dipertimbangkan.

Mengapa PM2.5 Perlu Diwaspadai?

PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat kecil, dengan diameter sekitar 2,5 mikrometer atau kurang.

Karena ukurannya yang kecil, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu sumber PM2.5.

Itulah mengapa konsentrasi partikel ini menjadi salah satu indikator penting ketika mengukur kualitas udara selama musim karhutla.

Semakin tinggi konsentrasinya, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap risiko paparan.

Kesimpulan

Udara Palembang Masih Berbahaya Akibat Asap Karhutla pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Data Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang menunjukkan konsentrasi partikel halus mencapai 514,7 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.

Meski kemudian turun menjadi 432,6 µg/m³ sekitar pukul 07.00 WIB, kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya.

BMKG menyebut kabut asap masih berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Ogan Komering Ilir dan kawasan sekitarnya.

Masyarakat pun diminta memakai masker saat berada di luar rumah serta membatasi paparan asap, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya penting untuk menghentikan kebakaran, tetapi juga untuk memulihkan kualitas udara yang digunakan jutaan orang setiap hari.

Parepos logo text

Baca berita terkini di Parepos untuk mengikuti perkembangan nasional, lingkungan, Sulawesi, cuaca, bencana, dan informasi terbaru lainnya. Parepos, Membawa Terang Informasi.

By admin