PDIP Tertawakan Jokowi Injak Kepala Kerbau

BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG – Polemik PDIP Tertawakan Jokowi Injak Kepala Kerbau menjadi sorotan setelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjalani prosesi adat Lampung saat menerima gelar kehormatan Baginda Pemuka Bangsa.

Momen itu terjadi dalam rangkaian kunjungan Jokowi ke Lampung. Dalam prosesi adat di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Jokowi tampak mengikuti ritual dengan meletakkan kaki di atas kepala kerbau yang berada di atas karpet merah.

Foto dan video momen tersebut kemudian viral. Sebagian warganet mengaitkannya dengan simbol politik, terutama karena kepala kerbau dianggap mirip dengan kepala banteng yang selama ini identik dengan PDIP. Dari sinilah polemik melebar: PDIP tertawa, PSI membela, dan publik ikut menafsirkan.

Kami di Parepos melihat kasus ini menarik karena memperlihatkan benturan tiga hal sekaligus: adat, politik, dan budaya viral. Satu prosesi adat bisa berubah menjadi debat nasional hanya karena sudut kamera, warna karpet, dan tafsir politik yang bergerak lebih cepat daripada penjelasan tokoh adat. Satirnya, sekarang simbol budaya belum selesai dijelaskan, kolom komentar sudah lebih dulu buka sidang.

PDIP Tertawakan Tafsir Jokowi Injak Kepala Kerbau

Respons PDIP datang setelah momen Jokowi injak kepala kerbau ramai dibicarakan. Sejumlah politikus PDIP menertawakan tafsir yang menghubungkan prosesi tersebut dengan simbol politik.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengaku tidak memahami adat injak kepala kerbau tersebut, tetapi ia menilai lucu jika ada pihak yang memaknai tindakan itu sebagai simbol penghinaan atau serangan terhadap PDIP.

Politikus PDIP lainnya, Mohamad Guntur Romli, juga ikut merespons. Ia menyebut bahwa yang diinjak Jokowi adalah kepala kerbau, bukan kepala banteng. Sindiran ini kemudian memanaskan suasana karena banteng merupakan simbol kuat dalam identitas PDIP.

Dari sisi politik, respons PDIP bisa dibaca sebagai cara menertawakan tafsir yang dianggap terlalu jauh. Namun, dari sisi budaya, tawa dan sindiran seperti itu bisa ditangkap berbeda oleh pihak lain, terutama jika menyangkut prosesi adat daerah.

PSI Tuding PDIP Hina Adat Lampung

Partai Solidaritas Indonesia atau PSI langsung membela Jokowi. Politikus PSI Bestari Barus menyebut prosesi itu merupakan bagian dari adat Lampung dan bukan simbol politik untuk menyerang PDIP.

Bestari menilai respons PDIP tidak tepat karena mengomentari tradisi yang sudah ada jauh sebelum dinamika politik hari ini. Ia menyebut prosesi tersebut sebagai bentuk penghargaan dari pimpinan adat Lampung kepada Jokowi.

PSI juga menuding PDIP menghina adat dan budaya Lampung. Menurut PSI, jika ada pihak yang tidak memahami prosesi adat, sebaiknya tidak buru-buru menertawakan atau menariknya ke tafsir politik.

Di titik ini, polemik tidak lagi hanya soal Jokowi. Isunya bergeser menjadi pertanyaan lebih besar: apakah sebuah ritual adat boleh ditafsirkan secara politik ketika dilakukan oleh tokoh politik? Jawabannya tidak sederhana. Karena dalam politik Indonesia, simbol apa pun bisa cepat berubah menjadi amunisi.

Tokoh Adat Lampung Jelaskan Makna Prosesi

Tokoh adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama, kemudian memberikan penjelasan. Ia meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi Jokowi menginjak kepala kerbau dengan kepentingan politik.

Menurut Mawardi, prosesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi yang telah diwariskan turun-temurun. Ritual meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau memiliki makna filosofis sebagai simbol menghilangkan sifat buruk dalam diri manusia.

Sifat buruk yang dimaksud antara lain kesombongan, iri, dengki, tamak, dan sifat-sifat kebinatangan lainnya. Dengan kata lain, prosesi itu bukan dimaksudkan sebagai penghinaan terhadap hewan, bukan pula sindiran terhadap partai tertentu.

Penjelasan tokoh adat ini penting karena mengembalikan polemik ke konteks awalnya. Sebelum dipotong menjadi bahan debat politik, prosesi tersebut adalah bagian dari adat Lampung yang memiliki makna simbolik.

Kenapa Polemik Ini Cepat Membesar?

Ada beberapa alasan mengapa polemik PDIP Tertawakan Jokowi Injak Kepala Kerbau cepat viral.

Pertama, nama Jokowi masih sangat kuat dalam politik nasional. Setelah tidak lagi menjabat presiden, setiap geraknya tetap dibaca sebagai sinyal politik, apalagi ketika ia hadir dalam agenda yang juga bersinggungan dengan PSI.

Kedua, hubungan Jokowi dan PDIP dalam beberapa tahun terakhir memang tidak lagi sehangat dulu. Maka, simbol sekecil apa pun mudah ditarik ke narasi perseteruan politik.

Ketiga, prosesi adat tersebut memiliki visual yang kuat. Kepala kerbau, karpet merah, tokoh nasional, dan suasana adat adalah kombinasi yang mudah memancing interpretasi publik.

Keempat, media sosial membuat tafsir berkembang liar. Sebagian orang melihatnya sebagai adat. Sebagian melihatnya sebagai pesan politik. Sebagian lagi hanya ikut tertawa tanpa memahami konteks. Paket lengkap untuk menjadi viral.

Adat Jangan Ditarik Sembarangan Ke Politik

Polemik ini memperlihatkan risiko besar ketika simbol adat ditarik terlalu jauh ke politik praktis. Indonesia punya banyak ritual adat yang maknanya tidak bisa dibaca secara dangkal. Jika hanya dilihat dari potongan foto, banyak prosesi budaya bisa tampak aneh bagi orang luar.

Masalahnya, ruang digital sering tidak sabar membaca konteks. Yang penting visual menarik, tafsir tajam, dan bisa dipakai menyerang lawan. Padahal adat punya lapisan makna, sejarah, dan kehormatan yang tidak bisa disederhanakan menjadi bahan sindiran.

Namun, pihak yang menjalani prosesi adat juga perlu menyadari bahwa setiap gerak tokoh politik di ruang publik pasti akan dibaca politis. Apalagi jika terjadi dalam momentum safari politik dan melibatkan partai tertentu. Jadi, problemnya bukan hanya publik yang berlebihan, tetapi juga konteks politik yang memang sudah panas.

Catatan Parepos

Kami di Parepos menilai polemik ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak. PDIP boleh mengkritik atau menertawakan tafsir politik yang dianggap berlebihan. PSI juga boleh membela Jokowi dan meminta publik menghormati adat Lampung. Namun, yang paling penting adalah tidak mengorbankan kehormatan budaya daerah hanya untuk menang debat harian.

Tokoh adat sudah menjelaskan bahwa prosesi injak kepala kerbau merupakan bagian dari adat Lampung dan memiliki makna menghilangkan sifat buruk dalam diri manusia. Penjelasan itu seharusnya menjadi pijakan utama, bukan sekadar tempelan setelah polemik meledak.

Politik boleh keras, tetapi budaya jangan dijadikan korban. Kalau semua simbol adat ditarik ke gelanggang politik, lama-lama setiap upacara daerah bisa berubah menjadi bahan meme, bahan serangan, dan bahan framing. Itu bukan kemajuan demokrasi. Itu hanya kebisingan yang memakai pakaian adat.

Pada akhirnya, kasus PDIP Tertawakan Jokowi Injak Kepala Kerbau, PSI Tuding Hina Adat Lampung menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu belajar membedakan kritik politik, tafsir simbol, dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Tertawa boleh. Membela boleh. Menafsirkan boleh. Tapi sebelum semua itu, pahami dulu adatnya.

Parepos logo text

Baca berita nasional, politik, dan kabar Sulawesi terkini di Parepos, media dengan semangat Membawa Terang Informasi untuk pembaca yang ingin mengikuti isu penting secara jernih, berimbang, dan tidak mudah terseret gaduh media sosial.

By admin