DOHA, QATAR – Raditya Dika tertahan di Doha Qatar setelah perjalanan pulangnya menuju Jakarta berubah drastis akibat erupsi Anak Krakatau. Pesawat yang ditumpangi komika dan kreator konten tersebut bahkan sudah terbang sekitar empat jam dari Doha sebelum akhirnya memutuskan berbalik arah saat berada di sekitar wilayah udara Sri Lanka.
Raditya menceritakan kejadian tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Ia awalnya hendak kembali ke Indonesia pada Sabtu, 5 September 2026 setelah menempuh perjalanan dari New York menuju Doha. Penerbangan pertama berlangsung tanpa masalah, tetapi situasinya berubah ketika perjalanan dilanjutkan dari Doha menuju Jakarta.
Kisahnya menjadi salah satu gambaran nyata besarnya dampak abu vulkanik Anak Krakatau terhadap penerbangan. Bukan hanya penerbangan domestik, rute internasional menuju Jakarta pun ikut mengalami perubahan, pembatalan, dan penundaan.
Pesawat Sudah Terbang Empat Jam dari Doha
Raditya mengatakan penerbangan dari Doha menuju Jakarta awalnya berjalan seperti biasa.
Pesawat sudah mengudara sekitar empat jam dan berada di sekitar Sri Lanka ketika keputusan untuk tidak meneruskan penerbangan menuju Indonesia dibuat.
Menurut penuturan Raditya, pesawat kemudian kembali menuju Doha karena dampak erupsi Anak Krakatau.
Artinya, penerbangan tersebut tidak sekadar mengalami keterlambatan sebelum keberangkatan.
Penumpang sudah berada di udara selama berjam-jam sebelum akhirnya kembali menuju bandara asal.
Kalau biasanya perjalanan pulang berarti jarak menuju rumah semakin pendek, Raditya justru empat jam terbang hanya untuk mendapatkan perjalanan pulang ke titik awal.
Putar Balik Dilakukan Demi Keselamatan
Raditya memahami keputusan tersebut berkaitan dengan keselamatan seluruh penumpang.
Abu vulkanik memang merupakan bahaya serius dalam penerbangan.
Pada periode erupsi Anak Krakatau, abu terpantau mencapai ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki di sisi Jawa dan bahkan 50.000 kaki di sisi Sumatra. Kondisi tersebut membuat otoritas menghentikan sementara aktivitas penerbangan di sejumlah bandara.
Darwin Volcanic Ash Advisory Centre juga terus menerbitkan peringatan abu vulkanik untuk Krakatau. Pada 7 September, abu masih teramati hingga Flight Level 150 atau sekitar 15.000 kaki, dengan emisi berkelanjutan pada lapisan yang lebih rendah.
Jadi, keputusan mengubah rute bukan karena pesawat “takut lewat dekat gunung”.
Dalam penerbangan, awan abu bahkan yang berada jauh dari kawah tetap dapat memengaruhi jalur yang dianggap aman.
Raditya Dika Batal Hadiri Acara di Jakarta
Dampak berikutnya langsung terasa pada agenda Raditya di Indonesia.
Ia seharusnya menghadiri sebuah talkshow Royal Canin pada Minggu, 6 September 2026.
Karena masih tertahan akibat perubahan penerbangan, Raditya menyampaikan permintaan maaf kepada penyelenggara dan masyarakat yang telah menunggu kehadirannya.
Ia juga sempat mencari berbagai alternatif agar tetap bisa pulang lebih cepat.
Pilihan penerbangan melalui negara lain diperiksa, tetapi jadwal yang tersedia tetap tidak memungkinkan dirinya tiba tepat waktu untuk menghadiri acara tersebut.
Agenda akhirnya harus dikalahkan oleh situasi keselamatan.
Dalam kasus seperti ini, “usahakan hadir tepat waktu” memang berhenti berlaku ketika rintangannya berupa awan abu gunung api.
Baca juga: Erupsi Anak Krakatau Mereda, Kenapa Abu Masih Bisa Beterbangan?
Perjalanan Raditya Ternyata Belum Berakhir di Doha
Perkembangan terbaru membuat cerita Raditya lebih panjang dibanding laporan awal saat dirinya masih tertahan di Qatar.
Dalam unggahan berikutnya pada Selasa, 8 September 2026, Raditya menjelaskan bahwa perjalanan awalnya dimulai dari New York menuju Doha.
Setelah penerbangan Doha-Jakarta berbalik arah, ia kemudian mencoba mengambil jalur melalui Singapura agar bisa kembali ke Indonesia.
Namun, solusi tersebut kembali menemui hambatan.
Setelah tiba di Singapura, tiket penerbangan menuju Indonesia disebut sudah penuh sehingga dirinya belum dapat langsung melanjutkan perjalanan.
Raditya akhirnya kembali menunggu sambil memantau dibukanya penerbangan menuju Jakarta.
Dari New York ke Doha, menuju Sri Lanka, balik lagi, lalu Singapura.
Liburannya mungkin sudah selesai, tetapi itinerary tambahan justru dibuat gunung api.
Soekarno-Hatta Sempat Hentikan Operasional
Kesulitan yang dialami Raditya terjadi ketika penerbangan menuju Jakarta mengalami gangguan besar.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta menghentikan sementara operasi penerbangan pada Minggu, 6 September 2026 setelah abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi di wilayah penerbangan.
Gangguan tersebut kemudian diperpanjang beberapa kali karena kondisi abu masih dinilai membahayakan operasi pesawat.
Bukan hanya Soekarno-Hatta.
Secara keseluruhan, delapan bandara sempat terdampak pada Minggu. Lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terkena dampak gangguan pada tahap awal.
Pada Senin, jumlah penumpang terdampak dilaporkan meningkat menjadi sekitar 341.000 orang dengan hampir 3.000 penerbangan terganggu atau dibatalkan.
Jadi, Raditya bukan satu-satunya orang yang harus mengubah rencana perjalanan.
Ia hanya salah satu dari ratusan ribu penumpang yang merasakan efek erupsi terhadap transportasi udara.
Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya untuk Pesawat?
Abu vulkanik berbeda dengan asap biasa.
Partikelnya terdiri atas material batuan dan kaca vulkanik yang sangat kecil. Ketika pesawat melewati konsentrasi abu, material tersebut dapat mengganggu mesin, kaca kokpit, sensor, dan berbagai sistem pesawat.
Salah satu risiko paling serius terjadi ketika abu masuk ke mesin jet.
Material vulkanik dapat meleleh akibat suhu tinggi di dalam mesin kemudian menempel pada komponen, menghambat aliran udara, dan dalam kondisi tertentu berpotensi menyebabkan mesin kehilangan tenaga.
Itulah mengapa maskapai dan otoritas penerbangan cenderung memilih mengubah rute, menunda penerbangan, atau menutup bandara daripada mengambil risiko ketika abu terdeteksi.
Gangguan rute internasional selama erupsi Anak Krakatau juga tidak terbatas pada Doha. Penerbangan dari dan menuju Singapura, Sydney, Kuala Lumpur, serta berbagai kota lain ikut terdampak.
Soekarno-Hatta Akhirnya Kembali Beroperasi
Penantian Raditya mendapatkan titik terang ketika operasional Bandara Soekarno-Hatta kembali normal.
Berdasarkan pembaruan yang dikutip pada Selasa, 8 September 2026, penerbangan di Soekarno-Hatta kembali beroperasi sejak dini hari.
Raditya mengatakan dirinya langsung mencari tiket setelah mendapatkan informasi bandara Jakarta sudah kembali dibuka.
Dalam gaya khasnya, ia menggambarkan perjuangan pulang tersebut seperti perjalanan panjang Odysseus.
Kalimat itu cukup masuk akal setelah rute yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjalanan lintas beberapa negara.
Yang awalnya hanya ingin pulang ke Jakarta akhirnya hampir terasa seperti mengumpulkan stempel paspor.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Dipantau
Meski penerbangan mulai pulih, aktivitas Anak Krakatau belum berarti sepenuhnya selesai.
Erupsi yang berlangsung sejak awal September menyebabkan abu menyebar luas di kawasan Selat Sunda, Banten, Jakarta, hingga jalur penerbangan.
Gunung tersebut juga masih berada pada Level III atau Siaga, dengan masyarakat dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Abu vulkanik pun masih terus dipantau melalui citra satelit dan peringatan penerbangan. Bahkan pada 8 September, peringatan SIGMET masih mencatat awan abu pada wilayah Jakarta Flight Information Region.
Kondisi ini menjelaskan mengapa jadwal penerbangan bisa berubah dengan cepat.
Bandara dapat kembali beroperasi ketika kondisi dinilai aman, tetapi maskapai tetap harus mempertimbangkan posisi dan pergerakan awan abu pada jalur penerbangannya.
Raditya Dika Akhirnya Temukan Jalan Pulang
Raditya Dika tertahan di Doha Qatar menjadi cerita yang awalnya tampak sederhana, tetapi akhirnya menggambarkan betapa luasnya dampak erupsi Anak Krakatau terhadap penerbangan.
Pesawatnya telah terbang sekitar empat jam dari Doha menuju Jakarta sebelum berbalik arah ketika berada di sekitar Sri Lanka. Ia sempat gagal menghadiri agenda di Indonesia, mencari penerbangan alternatif, berpindah ke Singapura, hingga kesulitan mendapatkan tiket karena penerbangan menuju Indonesia penuh.
Setelah Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi, barulah Raditya mendapatkan kesempatan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Kisah tersebut juga memberikan konteks bahwa keputusan pesawat putar balik bukan kejadian yang berdiri sendiri.
Pada periode yang sama, abu Anak Krakatau menyebabkan penutupan sejumlah bandara dan mengganggu ribuan penerbangan dengan ratusan ribu penumpang terdampak.
Bagi Raditya, perjalanan pulang itu akhirnya menjadi materi cerita baru.
Bagi penerbangan, pesannya lebih sederhana: kalau abu vulkanik sudah masuk jalur, jadwal boleh berubah, keselamatan tidak.

Baca berita terkini di Parepos untuk mendapatkan informasi terbaru seputar hiburan, nasional, bencana, selebritas, Sulawesi, olahraga, dan berbagai peristiwa penting lainnya.
