SEOUL, KOREA SELATAN – Jennie BLACKPINK jadi korban body shaming lagi setelah video penampilan terbarunya beredar luas di media sosial. Alih-alih membicarakan aksi panggung dan musik yang dibawakan, sebagian pengguna internet justru menyoroti bentuk tubuh idol asal Korea Selatan tersebut dengan komentar merendahkan.
Perdebatan pun kembali muncul di kalangan BLINK dan pengguna media sosial. Banyak penggemar menilai komentar mengenai tubuh Jennie telah melewati batas kritik terhadap penampilan seorang artis.
Kami melihat situasi ini memperlihatkan satu masalah lama dalam industri hiburan yang tak kunjung hilang. Artis perempuan bisa tampil di panggung besar, membawakan belasan lagu, dan menghibur ribuan orang, tetapi pembicaraan di media sosial kadang justru berhenti pada ukuran tubuh.
Video Penampilan Jennie Memicu Body Shaming
Kontroversi bermula setelah cuplikan Jennie saat tampil di atas panggung beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, Jennie terlihat mengenakan kostum panggung yang cukup terbuka. Setelah video menyebar, sejumlah akun mulai memberikan komentar yang menyinggung bentuk tubuh dan bagian fisiknya.
Kami memilih tidak mengulang secara lengkap komentar tersebut karena substansinya jelas berupa ejekan fisik dan tidak memberikan konteks berarti terhadap performa Jennie sebagai musisi.
Namun, komentar semacam itu kemudian menjadi viral dan memicu respons dari penggemar.
Alih-alih menilai vokal, koreografi, konsep panggung atau kostum sebagai bagian dari sebuah pertunjukan, tubuh Jennie malah dijadikan bahan perbandingan.
Netizen tampaknya memang punya kemampuan unik. Konser satu jam bisa selesai, tetapi yang dianalisis justru beberapa detik potongan video.
Jennie Baru Saja Tampil Besar di Lollapalooza 2026
Sorotan terhadap Jennie muncul tak lama setelah ia tampil sebagai solois di Lollapalooza 2026 di Chicago pada awal Agustus.
Jennie menjadi salah satu penampil utama dan membawakan materi dari karier solonya, termasuk lagu-lagu dari album Ruby serta sejumlah materi baru. Penampilannya berlangsung sekitar satu jam dan mendapat perhatian besar dari penggemar yang hadir maupun menonton melalui siaran daring.
Media lain melaporkan bahwa beberapa video dari penampilan tersebut kemudian ikut menjadi sasaran komentar body shaming setelah beredar di media sosial.
Padahal, capaian menjadi headliner festival musik internasional merupakan prestasi yang jauh lebih relevan untuk dibicarakan dibanding mengukur tubuh seorang performer dari satu sudut kamera.
Penggemar Ramai Membela Jennie BLACKPINK
Komentar negatif tidak dibiarkan begitu saja.
Sejumlah penggemar kemudian membela Jennie dan mengkritik perilaku warganet yang merasa bebas memberikan penilaian terhadap fisik seseorang.
Banyak fans mengingatkan bahwa tubuh manusia tidak harus mengikuti satu standar tertentu agar dianggap pantas atau menarik. Penggemar juga memilih memberikan dukungan terhadap penampilan, musik, dan kepercayaan diri Jennie di atas panggung.
Respons tersebut memperlihatkan bahwa percakapan mengenai body shaming kini semakin mendapatkan perlawanan.
Bukan berarti seorang artis tidak boleh dikritik. Musik, konsep, koreografi, fashion hingga kualitas penampilan tetap dapat dibahas.
Namun, kritik terhadap karya jelas berbeda dengan penghinaan terhadap bentuk tubuh.
Baca juga: Artis Indonesia yang Suka K-Pop
Jennie Bukan Pertama Kali Jadi Sasaran Komentar Fisik
Kasus Jennie BLACKPINK jadi korban body shaming kali ini bukan merupakan kejadian pertama.
Sebagai salah satu idol K-Pop paling populer secara global, perubahan kecil dalam penampilan Jennie kerap menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Pakaian, gaya rambut, ekspresi hingga bentuk tubuhnya sering dianalisis jauh melampaui konteks sebuah penampilan.
Situasi semacam ini juga menunjukkan tekanan yang dihadapi figur publik perempuan.
Ketika seorang idol terlihat lebih kurus, publik berkomentar. Ketika terlihat lebih berisi, komentar kembali muncul. Bahkan ketika tidak ada perubahan berarti, satu sudut pengambilan gambar masih bisa digunakan sebagai bahan perdebatan.
Standarnya berubah-ubah, tetapi komentarnya selalu tersedia.
Body Shaming terhadap Idol Perempuan Kembali Diperdebatkan
Kasus Jennie kembali membuka diskusi lebih luas mengenai standar fisik dalam industri K-Pop.
Visual memang menjadi salah satu bagian kuat dalam industri tersebut. Fashion, tata rambut, makeup dan konsep panggung dirancang sebagai bagian dari identitas artis.
Namun, hal itu bukan berarti publik mendapatkan hak tanpa batas untuk merendahkan fisik seorang idol.
Video singkat di media sosial juga tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang secara utuh. Kamera, posisi tubuh, pencahayaan, kostum hingga gerakan saat tampil dapat menghasilkan tampilan berbeda dalam setiap potongan gambar. Okezone turut menyoroti bahwa satu momen video tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi seseorang secara keseluruhan.
Karena itu, menjadikan potongan video sebagai dasar untuk menyerang bentuk tubuh seseorang jelas tidak proporsional.
Jennie Tetap Fokus pada Karier Musik
Di tengah komentar negatif tersebut, aktivitas Jennie sebagai musisi terus berjalan.
Penampilan di Lollapalooza 2026 menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan karier solonya. Dalam pertunjukan itu, ia membawakan materi seperti Mantra, start a war, Handlebars, ExtraL, ZEN hingga Like Jennie.
Jennie juga memperlihatkan perkembangan karier solo yang semakin independen setelah perilisan album Ruby pada 2025.
Pada 8 Agustus 2026, BLACKPINK juga merayakan satu dekade debut. Jennie menyampaikan rasa terima kasih kepada BLINK dan mengatakan perjalanan bersama penggemar telah membantunya mengenal serta mencintai dirinya sendiri dengan lebih baik.
Pernyataan tersebut terasa relevan di tengah munculnya komentar mengenai tubuhnya beberapa hari kemudian.
Kritik Karya, Bukan Bentuk Tubuh
Jennie BLACKPINK jadi korban body shaming lagi menunjukkan bahwa popularitas besar tidak membuat seorang artis kebal terhadap komentar merendahkan.
Namun, reaksi penggemar juga memperlihatkan adanya perubahan cara publik merespons fenomena tersebut. Semakin banyak orang yang berani membedakan antara kritik terhadap karya dan serangan personal terhadap fisik seseorang.
Kami tentu tidak harus menyukai setiap kostum, lagu atau penampilan Jennie.
Tetapi kalau pembahasannya sudah bergeser dari musik menjadi mengukur tubuh orang lain dari layar ponsel, mungkin yang perlu dievaluasi bukan tubuh Jennie, melainkan cara kita menggunakan kolom komentar.

Baca berita terkini di Parepos untuk mendapatkan informasi terbaru seputar Sulawesi, nasional, hiburan, K-Pop, olahraga, dan berbagai peristiwa penting lainnya.
