Mobil Pikap Terbakar Depan SPBU Pangkep

PANGKEP, SULAWESI SELATAN – Mobil pikap terbakar depan SPBU Pangkep setelah mengisi bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertalite. Peristiwa itu terjadi di kawasan SPBU Maleleng, Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu malam, 21 Juni 2026.

Insiden ini langsung menjadi sorotan karena kendaraan tersebut diduga membawa jeriken berisi BBM. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran, termasuk dugaan adanya barang bawaan yang berkaitan dengan bahan bakar di dalam kendaraan. Dalam laporan iNews, mobil Granmax itu terbakar setelah keluar sekitar 5 sampai 10 meter dari area SPBU.

Dari kacamata kami di Parepos, kasus seperti ini tidak bisa dianggap sekadar “mobil terbakar biasa”. Lokasinya dekat SPBU, barang bawaannya diduga berkaitan dengan BBM, dan ada potensi risiko lebih besar bila api merambat. Kalau api sudah bertemu bahan bakar, itu bukan lagi drama kecil. Itu sudah masuk kategori jangan sampai salah langkah.

Kronologi Mobil Pikap Terbakar Depan SPBU Pangkep

Berdasarkan keterangan kepolisian yang dikutip sejumlah media, mobil pikap Daihatsu Grand Max tersebut baru saja selesai mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Maleleng. Setelah keluar dari area SPBU, kendaraan tiba-tiba mengeluarkan asap lalu terbakar.

Kasat Reskrim Polres Pangkep AKP Halim menjelaskan laporan kebakaran diterima sekitar pukul 19.00 Wita lebih. Peristiwa itu disebut terjadi sekitar pukul 19.57 Wita, dengan kendaraan dikemudikan pria berinisial IS, warga Kecamatan Balocci, Pangkep.

Menurut polisi, kendaraan tersebut sempat bergerak beberapa meter dari SPBU sebelum muncul asap dan api. Kondisi ini membuat warga dan petugas harus bergerak cepat agar kebakaran tidak meluas, apalagi titik kejadian berada dekat fasilitas pengisian bahan bakar.

Polisi Temukan Jeriken Diduga Berisi BBM

Bagian yang membuat kasus ini ramai adalah temuan barang bawaan di kendaraan. Polisi menyebut mobil tersebut membawa barang campuran, mulai dari dus berisi kerupuk, air minum, hingga jeriken yang untuk sementara diduga berisi Pertalite atau bensin.

Inilah alasan keyword Diduga Pelangsir BBM, Sebuah Mobil Pikap Terbakar Depan SPBU Pangkep menjadi ramai dicari. Namun, secara editorial, kami perlu menegaskan bahwa status “pelangsir BBM” masih dalam ranah dugaan. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan muatan, tujuan pengangkutan, serta penyebab utama kebakaran.

Dalam kasus seperti ini, kata “diduga” bukan hiasan kalimat. Itu batas penting agar berita tidak berubah menjadi vonis. Media boleh tajam, tapi tetap harus presisi.

Sopir Diduga Sempat Bermain HP

Selain soal jeriken, polisi juga mendalami dugaan lain. Berdasarkan keterangan awal di lokasi, sopir disebut sempat bermain handphone di dalam kabin. Hal ini menjadi salah satu informasi yang sedang ditelusuri polisi dalam penyelidikan penyebab ledakan atau kebakaran.

Kami tidak akan langsung menyimpulkan bahwa HP menjadi penyebab kebakaran. Penyebab pasti tetap harus menunggu hasil penyelidikan. Namun, kejadian ini kembali mengingatkan publik bahwa area SPBU bukan tempat untuk main-main dengan risiko. Larangan merokok, menyalakan api, menggunakan ponsel sembarangan, atau membawa BBM dengan cara tidak aman bukan dibuat untuk gaya-gayaan.

Satirnya, kadang orang lebih takut baterai HP habis daripada sadar bahwa kebiasaan kecil di area BBM bisa menjadi masalah besar. Padahal di SPBU, satu percikan saja bisa membuat semua orang mendadak religius dan kompak berlari.

Api Tidak Menghanguskan Seluruh Mobil

Beruntung, api tidak sampai membakar seluruh bagian kendaraan. Polisi menyebut kebakaran hanya terjadi di bagian depan, terutama area tempat duduk sopir. Petugas yang tiba di lokasi langsung melakukan penanganan sehingga api tidak meluas ke seluruh badan mobil.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Meski demikian, insiden ini tetap menjadi alarm keras untuk pengelola SPBU, pengendara, dan warga yang masih menganggap pengangkutan BBM dalam jeriken sebagai hal biasa.

Kalau terbukti ada praktik pelangsiran BBM, aparat perlu menindak tegas. Bukan hanya karena menyangkut distribusi BBM bersubsidi, tetapi juga karena cara pengangkutan yang tidak aman dapat membahayakan banyak orang.

Bahaya Membawa BBM Dalam Jeriken

Membawa BBM dalam jeriken, apalagi dalam jumlah banyak dan tanpa standar keamanan, punya risiko besar. Uap bahan bakar mudah terbakar. Jika berada dalam kendaraan tertutup atau dekat sumber panas, risikonya semakin tinggi.

Masalahnya, praktik seperti ini sering dianggap sepele di lapangan. Ada yang berdalih untuk kebutuhan usaha kecil, ada yang membeli untuk dijual eceran, ada pula yang memanfaatkan celah distribusi BBM. Apa pun alasannya, keselamatan tetap harus menjadi garis pertama.

Kebakaran di depan SPBU Pangkep ini seharusnya menjadi pelajaran. BBM bukan barang dagangan biasa. Salah simpan, salah angkut, salah kebiasaan, akibatnya bisa merembet ke banyak pihak. SPBU bukan parkiran santai, apalagi tempat eksperimen nasib.

Catatan Parepos

Kasus Mobil Pikap Terbakar Depan SPBU Pangkep memperlihatkan bahwa keselamatan di area pengisian BBM harus benar-benar diawasi. Polisi perlu membuka hasil penyelidikan secara terang, termasuk apakah benar terdapat praktik pelangsiran BBM dan apa penyebab utama kebakaran.

Kami di Parepos melihat ada tiga poin penting. Pertama, pengemudi wajib mematuhi aturan keselamatan di SPBU. Kedua, pengelola SPBU perlu memperketat pengawasan terhadap kendaraan yang membawa jeriken. Ketiga, aparat harus menindak praktik pengangkutan BBM yang tidak sesuai ketentuan bila terbukti melanggar.

Peristiwa ini memang tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi jangan tunggu ada korban baru semua pihak merasa perlu serius. Dalam urusan BBM dan api, pencegahan selalu lebih murah daripada penyesalan.

Parepos logo text

Baca berita Sulawesi terkini di Parepos, media yang terus berupaya Membawa Terang Informasi untuk pembaca yang ingin tahu kabar terbaru dari Sulawesi, Indonesia, dan dunia.

By admin