Balita Meninggal di RSUD Syekh Yusuf Gowa

GOWA, SULAWESI SELATAN – Kasus balita meninggal di RSUD Syekh Yusuf Gowa menjadi perhatian publik setelah video duka keluarga korban beredar di media sosial. Peristiwa ini memantik pertanyaan besar: apakah pasien terlambat mendapat rujukan, atau memang kondisi pasien sudah sangat kritis sejak awal tiba di IGD?

Kami melihat isu ini tidak bisa dibaca hanya dari potongan video viral. Di era media sosial, kabar bisa lari lebih cepat dari klarifikasi. Satirnya, kadang publik sudah lebih dulu menggelar “sidang komentar” sebelum fakta duduk di kursinya masing-masing. Karena itu, berita seperti ini perlu disampaikan dengan hati-hati, tidak menambah luka keluarga, tetapi juga tidak menutup ruang tanya publik.

Korban yang disebut dalam laporan media bernama Athar. Beberapa laporan menyebut korban sebagai bayi berusia dua bulan, sementara istilah balita juga digunakan dalam pemberitaan yang beredar luas. Kasus ini terjadi di Instalasi Gawat Darurat RSUD Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dan menjadi viral karena keluarga menyoroti dugaan lambatnya penanganan serta proses rujukan.

Kronologi Sementara yang Beredar

Berdasarkan laporan media, korban sebelumnya mengalami demam selama beberapa hari sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan. Korban sempat mendapat perawatan di Puskesmas Barombong, lalu dirujuk ke RSUD Syekh Yusuf Gowa.

Setelah tiba di IGD, korban disebut mendapatkan penanganan medis. Namun, kondisinya terus menurun. Pihak rumah sakit kemudian merencanakan rujukan ke rumah sakit lain dengan fasilitas yang dinilai lebih memadai. Sebelum proses rujukan itu selesai, korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WITA keesokan harinya.

Di titik inilah duka keluarga berubah menjadi sorotan publik. Keluarga menduga ada keterlambatan rujukan. Sementara di sisi lain, rumah sakit menyatakan prosedur sudah dijalankan sesuai standar.

Keluarga Soroti Dugaan Lambatnya Rujukan

Dalam kasus ini, sorotan utama bukan hanya soal pasien meninggal di IGD, tetapi soal proses menuju rujukan. Keluarga menilai korban membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit lain, namun proses tersebut dianggap tidak berjalan cukup cepat.

Bagi publik awam, satu jam di IGD saat kondisi pasien kritis terasa seperti seharian penuh. Apalagi ketika yang terbaring adalah anak kecil. Wajar bila emosi keluarga pecah. Tetapi dalam pemberitaan kesehatan, dugaan tetap harus dipisahkan dari kesimpulan. Dugaan keluarga perlu didengar, sementara penjelasan rumah sakit juga harus diuji secara terbuka.

RSUD Syekh Yusuf Gowa Bantah Ada Kelalaian

Pihak RSUD Syekh Yusuf Gowa membantah adanya kelalaian dalam penanganan pasien. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Syekh Yusuf Gowa, Nur Wahyudi, menyatakan bahwa penanganan terhadap korban sudah dilakukan sesuai standar operasional prosedur atau SOP.

Menurut penjelasan rumah sakit, korban datang dalam kondisi berat. Pihak RS menyebut pasien mengalami demam beberapa hari, sesak berat, dan kondisi tubuh yang mengarah pada keadaan kritis. Rumah sakit juga menyatakan tim medis telah memberikan bantuan pernapasan, cairan infus, obat suntik, serta melibatkan dokter sejak awal pasien tiba di IGD.

Dengan kata lain, versi rumah sakit berbeda dari narasi yang berkembang di media sosial. Rumah sakit menegaskan bukan tidak menangani, melainkan pasien datang dalam kondisi yang sudah berat dan tetap dalam proses stabilisasi.

Soal Sisrute dan Rumah Sakit Tujuan

Salah satu bagian penting dalam kasus ini adalah proses rujukan melalui sistem rujukan terintegrasi atau Sisrute. RSUD Syekh Yusuf Gowa menyebut telah menghubungi beberapa rumah sakit tujuan, termasuk RSUP Wahidin Sudirohusodo, RS Islam Faisal, dan RSUD Labuang Baji.

Menurut pihak rumah sakit, kewenangan menerima rujukan berada pada rumah sakit tujuan. RSUD Syekh Yusuf Gowa menyatakan pihaknya mengirim permintaan rujukan, tetapi harus menunggu konfirmasi dari rumah sakit penerima. Saat konfirmasi disebut datang, kondisi pasien sudah tidak tertolong.

Inilah bagian yang paling perlu dibuka terang. Bukan untuk mencari kambing hitam secara serampangan, tetapi untuk memastikan apakah alur rujukan darurat sudah cukup cepat bagi pasien kritis. Karena dalam kasus gawat darurat, menit bukan sekadar angka. Menit bisa menjadi garis tipis antara harapan dan kehilangan.

Evaluasi IGD Perlu Dibuka ke Publik

Kami menilai ada tiga hal yang perlu diperjelas setelah kasus ini. Pertama, rekam waktu penanganan pasien sejak tiba di IGD. Kedua, tindakan medis apa saja yang diberikan dan kapan dilakukan. Ketiga, bagaimana proses komunikasi rujukan berlangsung antara RSUD Syekh Yusuf Gowa dan rumah sakit tujuan.

iNews melaporkan bahwa RSUD Syekh Yusuf menyatakan akan melakukan evaluasi internal terhadap pelayanan IGD, terutama terkait percepatan proses rujukan pasien darurat. Pernyataan ini penting, tetapi evaluasi internal saja belum cukup bila publik masih bertanya-tanya.

Keluarga membutuhkan penjelasan yang manusiawi. Publik membutuhkan informasi yang jernih. Rumah sakit membutuhkan ruang untuk menjelaskan prosedur. Semua pihak harus mendapat tempat, asalkan tidak ada fakta yang disembunyikan.

Bukan Sekadar Viral, Ini Soal Kepercayaan

Kasus balita meninggal di RSUD Syekh Yusuf Gowa bukan hanya berita duka. Ini juga ujian kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan daerah. Ketika pasien anak meninggal dan keluarga merasa tidak mendapat penanganan yang cukup cepat, respons resmi harus lebih dari sekadar bantahan.

Bantahan boleh, tetapi transparansi harus jalan. SOP boleh disebut, tetapi publik perlu tahu bagaimana SOP itu bekerja dalam situasi darurat. Jangan sampai istilah prosedur terdengar seperti tembok dingin di tengah keluarga yang sedang berduka.

Di Parepos, kami melihat berita ini sebagai pengingat bahwa layanan publik harus terus diawasi. Rumah sakit adalah tempat orang datang membawa harapan terakhir. Maka, komunikasi, kecepatan, dan empati tidak boleh dianggap pelengkap. Itu bagian dari pelayanan.

Parepos logo text

Baca berita Sulawesi terkini di Parepos, media yang terus berupaya membawa terang informasi untuk pembaca Sulawesi, Indonesia, dan dunia.

By admin