JAKARTA, DKI JAKARTA – Artis Indonesia yang mengidap gangguan mental kini semakin berani berbicara mengenai pengalaman mereka. Mulai dari bipolar disorder, borderline personality disorder hingga obsessive-compulsive disorder, sejumlah figur publik memilih membagikan perjalanannya kepada masyarakat.
Bagi kami, keterbukaan tersebut penting bukan untuk memberi label pada seseorang, tetapi menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental dapat dialami siapa saja.
Di balik layar televisi, jutaan followers, dan karier yang terlihat baik-baik saja, ada perjalanan pribadi yang tidak selalu terlihat publik.
Berikut tujuh artis dan figur publik Indonesia yang pernah terbuka mengenai kondisi kesehatan mental mereka.
1. Marshanda

Marshanda menjadi salah satu figur publik Indonesia yang paling terbuka berbicara mengenai gangguan bipolar.
Ia pernah mengungkap telah mendapatkan diagnosis bipolar sejak 2009 dan menjalani proses panjang untuk memahami kondisinya.
Marshanda juga aktif membagikan pengalaman tentang kesehatan mental dan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan self-diagnosis.
Menurutnya, kondisi setiap orang berbeda sehingga pemeriksaan profesional tetap penting.
Keterbukaannya selama bertahun-tahun membuat Marshanda menjadi salah satu sosok yang ikut membawa pembicaraan bipolar ke ruang publik Indonesia.
2. Ariel Tatum

Ariel Tatum juga pernah berbicara terbuka mengenai kesehatan mentalnya.
Aktris tersebut mengungkap mengalami borderline personality disorder atau BPD.
Ariel mengatakan persoalan kesehatan mental sudah dirasakannya sejak usia muda.
Pengalaman tersebut kemudian membuatnya semakin aktif menyuarakan pentingnya memahami kesehatan mental dan mencari bantuan ketika diperlukan.
Perjalanan Ariel menunjukkan bahwa penampilan seseorang dari luar tidak selalu menggambarkan apa yang sedang dihadapi secara emosional.
3. Aliando Syarief

Aliando Syarief mengungkap dirinya didiagnosis obsessive-compulsive disorder atau OCD.
Kondisi tersebut sempat membuatnya menarik diri dari industri hiburan selama sekitar dua tahun.
Aliando mengatakan aktivitas sederhana pun sempat terasa sangat berat ketika gejalanya memburuk.
Ia kemudian menjalani terapi dan perlahan kembali muncul di dunia hiburan.
Kisah Aliando juga membantu meluruskan anggapan bahwa OCD sekadar kebiasaan ingin segala sesuatu bersih atau rapi.
Kondisinya bisa jauh lebih kompleks dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
4. Awkarin

Karin Novilda atau Awkarin juga pernah terbuka mengenai kondisi kesehatan mentalnya.
Ia mengungkap menjalani konsultasi dengan tenaga profesional sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis bipolar.
Awkarin pernah menceritakan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi pola tidur hingga perubahan energi dan pikirannya.
Ia kemudian menggunakan media sosial untuk berbicara lebih terbuka mengenai kesehatan mental.
Keterbukaan tersebut menjadi penting karena audiens Awkarin banyak berasal dari kelompok usia muda yang juga semakin aktif membicarakan isu kesehatan mental.
5. Rachel Vennya

Rachel Vennya pernah mengungkap bahwa dirinya mendapatkan diagnosis bipolar disorder.
Ia menceritakan pengalaman tersebut secara terbuka melalui media sosial dan kanal YouTube.
Rachel mengatakan dirinya sudah mengalami kesulitan mengelola emosi sejak usia muda sebelum akhirnya mendapatkan bantuan profesional.
Ia juga pernah berbicara mengenai stigma terhadap orang dengan gangguan bipolar.
Baca juga artikel Parepos mengenai deretan artis Indonesia yang operasi plastik dan terbuka mengenai perubahan penampilan mereka.
6. Medina Zein

Medina Zein juga pernah menyampaikan bahwa dirinya didiagnosis bipolar tipe II.
Ia mengaku sudah mengetahui kondisi tersebut sejak sekitar 2016.
Bipolar tipe II sendiri berbeda dengan sekadar perubahan suasana hati sehari-hari dan membutuhkan penilaian profesional untuk diagnosis.
Karena itu, pengalaman seorang figur publik sebaiknya tidak digunakan pembaca sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa dirinya memiliki kondisi serupa.
7. Rina Nose

Rina Nose pernah berbicara terbuka mengenai pengalaman yang ia sebut sebagai OCD.
Ia menceritakan bagaimana sesuatu yang dianggap tidak sesuai atau tidak rapi dapat memicu kecemasan dan membuatnya kesulitan mengendalikan emosi.
Namun, berbeda dengan beberapa nama sebelumnya, pemberitaan mengenai Rina tidak secara jelas menyebut apakah kondisi tersebut merupakan hasil diagnosis psikiater atau psikolog.
Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai pengalaman kesehatan mental yang ia sampaikan sendiri, bukan menetapkan diagnosis atas dirinya.
Mengapa Keterbukaan soal Kesehatan Mental Penting?
Cerita dari figur publik dapat membantu membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental.
Dulu, menemui psikolog atau psikiater sering dianggap sesuatu yang harus disembunyikan.
Kini, semakin banyak orang memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan.
Namun, keterbukaan artis bukan berarti suatu diagnosis bisa disimpulkan hanya dengan mencocokkan gejala di internet.
Kalau tiga video TikTok sudah cukup untuk diagnosis, sekolah kedokteran mungkin bisa selesai sambil rebahan. Kenyataannya tentu tidak sesederhana itu.
Jangan Melakukan Self-Diagnosis
Bipolar, BPD, OCD, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan mental mempunyai kriteria diagnosis masing-masing.
Merasa sedih tidak otomatis berarti depresi.
Suka kebersihan tidak otomatis berarti OCD.
Perubahan mood juga tidak otomatis menunjukkan bipolar.
Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga profesional berdasarkan evaluasi menyeluruh.
Jika kondisi emosional, pikiran, atau perilaku mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, maupun sekolah, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang lebih tepat.
Kesimpulan
Tujuh artis Indonesia yang terbuka dengan gangguan kesehatan mentalnya antara lain Marshanda, Ariel Tatum, Aliando Syarief, Awkarin, Rachel Vennya, Medina Zein, dan Rina Nose.
Mereka memiliki perjalanan berbeda dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.
Ada yang didiagnosis bipolar, borderline personality disorder, OCD, maupun berbagi pengalaman pribadi mengenai kecemasan dan perilaku obsesif.
Kisah mereka menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental tidak menentukan nilai maupun kemampuan seseorang untuk tetap berkarya.
Yang lebih penting adalah mendapatkan bantuan yang sesuai, memahami kondisi berdasarkan penilaian profesional, serta menghindari stigma terhadap orang yang sedang menjalani proses pemulihan.

Baca berita terkini di Parepos untuk mengikuti informasi hiburan, selebritas, kesehatan, nasional, Sulawesi, dan kabar terbaru lainnya. Parepos, Membawa Terang Informasi.
