Gowa, Sulawesi Selatan. Dari sudut kabupaten yang tidak terlalu jauh dari hiruk pikuk kota, saya menemukan kenyataan yang menampar kesadaran. Di tengah narasi kemajuan pendidikan nasional, masih ada sekolah yang jauh dari kata layak.
Sebagai bagian dari redaksi Parepos, saya percaya bahwa informasi harus membuka mata publik. Salah satunya dengan mengangkat cerita nyata tentang kondisi pendidikan di daerah. Inilah kisah tentang Sekolah MI di Gowa berdinding jerami bambu, potret yang seharusnya tidak lagi kita temukan di era modern.
Sekolah MI Di Gowa Berdinding Jerami Bambu
Sekolah Madrasah Ibtidaiyah ini berdiri sederhana. Dindingnya bukan beton atau papan kokoh, melainkan anyaman jerami bambu. Atapnya sebagian mulai rapuh, lantainya masih tanah, dan ruang kelasnya jauh dari standar ideal.
Setiap kali angin bertiup kencang, dinding jerami itu bergetar. Ketika hujan turun, air mudah merembes masuk. Di sinilah puluhan anak tetap belajar, mengeja huruf dan angka, dengan segala keterbatasan yang ada.
Kondisi ini membuat saya bertanya, apakah benar pendidikan sudah merata hingga pelosok?
Realitas Ruang Belajar Yang Serba Terbatas
Fasilitas di sekolah ini sangat minim. Meja dan kursi seadanya, papan tulis yang mulai pudar, serta alat belajar yang jauh dari cukup. Tidak ada laboratorium, tidak ada perpustakaan yang layak, bahkan listrik pun kadang menjadi persoalan.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya bangunan sederhana. Tetapi bagi anak-anak di dalamnya, tempat ini adalah satu-satunya harapan untuk meraih masa depan.
Jauh dari kata merdeka, Sekolah MI di Gowa Sulsel hanya berdinding jerami bambu, namun semangat belajar para siswanya tidak pernah padam.
Semangat Guru Dan Siswa Di Tengah Keterbatasan
Yang paling menyentuh dari semua ini adalah dedikasi para guru. Dengan gaji terbatas dan fasilitas minim, mereka tetap datang setiap hari. Mereka mengajar dengan tulus, berusaha memberikan yang terbaik.
Saya melihat langsung bagaimana anak-anak tetap ceria meski ruang kelas mereka sangat sederhana. Bagi mereka, sekolah adalah tempat bermimpi, meski dindingnya hanya jerami bambu.
Semangat seperti inilah yang membuat saya yakin bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung megah, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar.
Harapan Akan Perhatian Pemerintah
Kondisi sekolah ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Pemerintah daerah maupun pusat perlu turun tangan lebih serius. Pendidikan adalah hak dasar, dan tidak boleh ada anak yang belajar dalam kondisi tidak layak.
Bantuan renovasi gedung, penyediaan fasilitas belajar, hingga perhatian pada kesejahteraan guru menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, mimpi pemerataan pendidikan hanya akan menjadi slogan kosong.
Sebagai media yang lahir dan tumbuh di Sulawesi, Parepos merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan persoalan seperti ini.
Pendidikan Yang Jauh Dari Kata Merdeka
Lebih dari tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, namun masih ada sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Ini ironi yang harus segera diperbaiki.
Sekolah MI di Gowa berdinding jerami bambu adalah bukti bahwa masih banyak pekerjaan rumah di sektor pendidikan. Anak-anak ini berhak mendapatkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak.
Selama kondisi seperti ini masih ada, perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa belum benar-benar selesai.
Kesimpulan
Cerita dari Gowa ini menjadi pengingat bahwa informasi memiliki peran penting untuk mendorong perubahan. Dengan mengangkat realitas, kita berharap lahir kepedulian dan aksi nyata.
Parepos akan terus hadir sebagai situs terpercaya untuk menyajikan berita dan informasi terkini dari Sulawesi. Kami berkomitmen menjadi jembatan antara fakta di lapangan dan kesadaran publik.
Untuk mengikuti perkembangan isu pendidikan dan berbagai peristiwa penting lainnya, baca berita Sulawesi terkini di Parepos. Bersama, kita membawa terang informasi bagi masa depan yang lebih baik.
