Dua Perusahaan Smelter, Dorong Kemajuan Ekonomi di Sulawesi Tenggara

  • Whatsapp
Dua Perusahaan Smelter, Dorong Kemajuan Ekonomi di Sulawesi Tenggara
PT Virtu Dragon Nickel Indonesia (VDNI) perusahaan asal Tiongkok di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

KONAWE,PAREPOS.CO.ID– PT Virtu Dragon Nickel Indonesia (VDNI) perusahaan asal Tiongkok yang telah lebih dulu rampung membangun smelter di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Bahkan, smelter milik PT VDNI telah difungsikan dan saat ini telah memproduksi dan mengekspor nikel ke luar negeri secara berkelanjutan, dengan mempekerjakan hingga ribuan karyawan.

Presiden Direktur PT VDNI dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS), Mr. Tony Zhou mengungkapkan pembangunan konstruksi Argon Oxygen Decarburization (AOD) untuk pembuatan stainless steel akan rampung pada tahun 2022.
“Untuk tahun depan, OSS akan fokus meningkatkan kapasitas produksi. Dari total 32 lini produksi NPI yang direncanakan, tahun ini telah beroperasi 20 lini, sisanya akan selesai tahun depan. Sedangkan konstruksi AOD untuk produksi stainless steel juga telah selesai 5 dari rencana 6 AOD yang akan selesai tahun depan juga,” ujar Tony, beberapa waktu lalu

Bacaan Lainnya

Perusahaan PMA China tersebut berdiri tahun 2014 yang merupakan anak usaha De Long Nickel Co Ltd yang berasal dari Jiangsu, China. Pada tahun 2017, perusahaan melakukan ekspor feronikel pertamanya sebanyak 7733 MT ke Chenjiagang, China.
Perusahaan ini berinvestasi 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,6 triliun. Investasi diwujudkan dalam bentuk pabrik dengan 15 tungku berteknologi RKEF. Kapasitas produksi smelter sebanyak 600.000 – 800.000 ton nickel pig iron per tahun dengan kadar nikel 10-12 persen, menjadikannya sebagai smelter nikel terbesar di Indonesia. Sampai dengan akhir 2018, PT VDNI telah berkontribusi 142,2 juta dollar AS terhadap ekspor RI.

Dalam proses produksinya, VDNI-OSS mengadopsi teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) untuk memproses nickel dan AOD furnace untuk memproses ke produk akhir, yaitu stainless steel. Teknologi ini merupakan teknologi yang paling mutakhir dan ramah lingkungan di dunia saat ini. Teknologi RKEF hanya menggunakan bijih nikel kadar tinggi untuk menghasilkan feronikel dan nikel matte dan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12 persen sebagai bahan baku industri stainless steel. “Dengan teknologi yang ramah lingkungan ini menjadikan hasil produksi di VDNI-OSS bukan hanya bermanfaat secara ekonomi, namun juga untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” lanjut Tony.

Tony juga menyampaikan bahwa sampai kuartal 3 tahun 2021, capaian ekspor VDNI-OSS masih memuaskan di tengah situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. “Capaian ini cukup memuaskan mengingat sampai saat ini produksi di smelter masih terkendala pandemi yang masih terjadi dan berbagai keterbatasan yang harus kami sesuaikan,” ujar Tony.

Tony mengungkapkan, pihaknya telah banyak menginvestasikan banyak energi, keuangan, dan sumber daya material dalam penelitian dan pengembangan green energi. “Pada saat yang sama, perusahaan kami akan terus meningkatkan investasi dan mencapai lebih banyak produksi green energy dan perlindungan lingkungan, sehingga dapat menghemat energi dan mengurangi konsumsi serta memberikan output berkualitas tinggi dan efisien,” tukasnya.

Kehadiran, PT Tiran Group dan PT VDNI masyarakat Sultra berharap dengan beroperasinya smelter maka kedua perusahaan ini dapat mendorong laju perekonomian di daerah ini. Sehingga nantinya warga masyarakat bisa secepatnya menggapai kesejahteraannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *