Merasa Dizalimi, Ratusan Pendukung Cakades Unjuk Rasa di Pemkab Polman

  • Whatsapp
Merasa Dizalimi, Ratusan Pendukung Cakades Unjuk Rasa di Pemkab Polman
Aksi warga pendukung cakades dari Desa Patampanua

PAREPOS.CO.ID, POLMAN –– Salah satu calon kepala desa (Cakades) dari Desa Patampanua, Kecamatan Matakali beserta ratusan pendukungnya menggelar aksi unjuk rasa didepan Kantor Bupati Polman di Jalan Manunggal, Senin 18 Oktober 2021. Ratusan massa melakukan protes terhadap keputusan Panitia Pilkades yang telah menganulir penetapan Cakades yang sebelumnya sudah ditetapkan.

Sri Wahyuni bakal Cakades Desa Patampanua sudah ditetapkan menjadi Cakades bersama 4 kandidat lainya dengan Nomor Surat 204/PAN Pilkades Kab./10/2021 yang dikuatkan dengan berita acara hasil penetapan Bakal calon kepala Desa menjadi calon kepala Desa dengan nomor : 06/BA/PAN Pilkades DP/X/2021.

Bacaan Lainnya

Namun, kemudian dibatalkan oleh panitia Pilkades dan membuat keputusan baru tanpa konfirmasi dan pemberitahuan kepada Sri Wahyuni, dan digantikan oleh Abdul Aziz yang berada diposisi ke 8. Kordinator Aksi, Rudi Idris mengungkapkan, pesta demokrasi pemilihan Kepala Desa serentak di 67 Desa di Polman dari awal pesta ini mengalami goyangan yang tidak sedikit. Mulai dari gelombang aksi terhadap rencana pelaksanaan (yang dinilai keluar dari aturan kemendagri) Permendagri No. 72 Tahun 2020 Tentang pemilihan desa (pasal 21 dan seterusnya) hingga penetapan bakal calon yang (dicurigai) sarat ketimpangan (memihak sebagian calon kepala desa) yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait (oknum).

Seperti yang terjadi di Desa Patampanua Kecamatan Matakali telah terjadi indikasi kecurangan yang sangat merugikan salah satu calon kepala desa. Dimana Panitia Pemilihan Desa tingkat kabupaten telah mengeluarkan surat RHST&SW (rekapan hasil seleksi tertulis & seleksi wawancara) bakal calon kepala desa patampanua kecamatan Matakali dengan urutan 1.Muhlis SH, 2. Bohari Y 3. Muh.Yusuf SH, 4. Alamsyah S. Kep, 5 Alimuddin, 6 Sri Wahyuni , 7. Napi 8. Abdul Aziz B, 9. HM Darwis. P, 10.Sunardi 11. Muis L (tertanggal 1 Oktober 2021) kemudian keluar lagi hasil seleksi tambahan dimana Sri Wahyuni naik ke urutan 5 (kelima) dan “TELAH DITETAPKAN” sebagai calon kepada desa patampanua bersama 4 kandidat lainnya dengan nomor surat : 204/PAN Pilkades Kab./ 10 / 2021 dikuatkan BERITA ACARA HASIL PENETAPAN BAKAL CALON KEPALA DESA MENJADI CALON KEPALA DESA dengan nomor : 06/BA/PAN. Pilkades DP/X/2021 sedangkan ABD. AZIS B tetap berada di posisi 8 (delapan) (tertanggal 6 Okteber 2021).

Dari sini kemudian panitia pemilihan desa (kabupaten/PMD) tiba-tiba mengeluarkan putusan baru tanpa konfirmasi dan pemberitahuan secara tertulis kepada pihak terkait (calon kepala desa patampanua) pada tanggal 15 Oktober 2021 dengan menetapkan Abdul Aziz sebagai calon kepala desa patampanua menggantikan Sri Wahyuni.

Rudi Idris pun menuntut dan menolak segala hasil penetapan Abd.Aziz sebagai calon Kepala Desa Patampanua, meminta panitia kembali menetapkan Ibu Sri Wahyuni sebagai calon kepala Desa Patampanua dan Penjarakan Pihak pihak yang bermain dalam Pilkades ini bila mana tuntutan kami tidak diindahkan maka akan kembali menggelar aksi dengan Gelombang Massa yang lebih besar lagi.

Ketua Panitia Pilkades Kabupaten Abdul Malik mengatakan, berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Kepala Sekolah dan surat Keputusan pengabdian nya disekolah itu kurang dari 5 tahun sehingga poin nya berkurang dan hanya ada 20 poin karna dibawa 5 tahun. “Hanya kondisi saat itu disana lebih ramai dan menurut klarifikasi panitia surat itu sudah diterima lantas kemudian ada masyarakat yang menyampaikan jangan menerima surat itu sehingga panitia merasa dibawah tekanan sehingga surat dikembalikan ke staf kami,” jelas Abdul Malik.

” Sebetulnya persoalan tersebut sudah dibahas bersama tim pengawas dan sudah meminta keterangan Kepala sekolah lalu surat nya dikirim ke Panitia Desa hanya kondisi saat itu disana lebih ramai dan menurut klarifikasi panitia surat itu sudah diterima lantas kemudian ada masyarakat yang menyampaikan jangan menerima surat itu sehingga panitia merasa dibawah tekanan sehingga surat dikembalikan ke staf kami,” jelas Abdul Malik.(win/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *