WALHI Sulsel Beberkan Dampak Lingkungan dan Sosial Proyek Reklamasi di Parepare

  • Whatsapp
WALHI Sulsel Beberkan Dampak Lingkungan dan Sosial Proyek Reklamasi di Parepare
Salah satu proyek reklamasi di Kota Parepare yakni Anjungan Cempae. Nampak perahu nelayan berjejer di belakang proyek tersebut

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Dampak dua proyek reklamasi yang terjadi di Kota Parepare, Selasa 31 Agustus, mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan. WALHI setidaknya menemukan dampak lingkungan dan sosial yang terjadi. Salah satu anggota WALHI Sulsel, Arif Maulana dalam jumpa pers secara virtual menjelaskan, dari hasil tindaklanjuti dan investigasi ditemukan dampak lingkungan yang terjadi. “Tindaklanjut dari WALHI Sulsel merupakan bentuk kepedulian atas keresahan masyarakat, termasuk laporan dari satuan pelajar pemuda pancasila (Sapma PP) Kota Parepare,”jelasnya.

Dua proyek besar yang menjadi sasaran investigasi diantaranya, Pembangunan Proyek Masjid Terapung di Jalan Mattirotasi, Kelurahan Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Barat dengan nilai proyek sekitar Rp 30 miliar dari DID. “Proyek itu dikerjakan oleh PT Lumpue Indah dengan masa pekerjaan 160 hari,”kata Arif Maulana.

Bacaan Lainnya

Untuk pembangunan Anjungan Cempae, di pesisir Pantai Cempae, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, dikerjakan oleh PT Apro Megatama dengan nilai kontrak sebesar Rp19.220.000.000,dari APBD 2021, untuk waktu pelaksanaan selama 150 hari. ” Luas proyek anjungfan cempae 6.000 meter persegi dengan nilai proyek Rp19 miliar lebih, menggunakan APBD TA 2021,”jelasnya.

Dampak Lingkungan

Kebijakan pemerintah kota parepare, kata Arif, lebih mengedepankan estetika dari pada dampak lingkungannya. “Kedua proyek ini jauh dari kebijakan azas manfaat yang kita temukan,”ungkapnya. Selain itu, dari investigasi dilapangan terdapat dugaan pengerjaan yang tidak sesuai. Dimana reklamasi mengakibatkan terjadinya pendangkalan dan juga tak sesuai dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL-UKL). “Untuk proses pelaksanaan reklamasi itu tak mudah, dimana membutuhkan kajian panjang,”jelasnya.

Proyek Anjungan Cempae, lanjutnya, telah mengakibatkan terjadi pencemaran laut. Akibatnya, tumbuhan lamun atau biasa disebut seagrass adalah tumbuhan yang hidup dan tumbuh di bawah permukaan laut dangkal dan tempat biota laut mati. “Lamun itu tempat biota laut, menyiapkan habitat laut dan penopang terumbu karang. Maka proyek anjungan cempae itu telah mengenyampingkan ekosistem lamun,”bebernya. Arif pun menambahkan, pendalaman investigasi dilakukan dengan menggunakan pantauan drown dan wawancara ke masyarakat. Dan pihak pengembang masif ke masyarakat. “Alasan karena ada bantuan dari pemerintah,”katanya.

Dampak Sosial

Sedangkan dampak sosial yang dirasakan khususnya warga Cappa Galung dan Cempae. ” Untuk proyek pembangunan Masjid Terapung dinilai akan berdampak pada Masjid yang tak jauh dari lokasi proyek,”kata Mira Janna sebagai tim yang melakukan investigasi ke lokasi tersebut. Mira Janna mengakui, WALHI melakukan pendekatan dan menanyakan langsung ke masyarakat sekitar.

Pada proyek Anjungan Cempae, daerah itu notabene merupakan daerah padat penduduk yang masyarakatnya sebahagian besar mengantungkan kehidupan sebagai nelayan. “Dengan adanya proyek ini, lokasi parkir perahu nelayan akan berpindah. Sudah bertahun-tahun memarkirkan kapal di lokasi reklamasi. Dan kini, harus dipindahkan ke selatan pesisir pantai cempae, keamanan perahu pun terancam bila terjadi abrasi,”katanya.

Namun, saat ini bentuk penolakan akan proyek dilakukan masyarakat dengan tetap memarkir perahu mereka dibelakang area lokasi reklamasi.”Nelayan mengalami beban ganda, karena bergeser jauh ke selatan dan jauh dari tempat tinggal mereka,”ujarnya. Mira Janna menegaskan, jika proyek anjungan cempae itu tak berdampak ke nelayan. Bahkan, dampaknya bisa dirasakan jika proyek sengaja dilakukan untuk menggusur mereka.”Patut diingat bahwa pemerintah menumpang ke masyarakat, sehingga mereka harus mengikuti harapan dan keinginan masyarakat, bukan keinginan individu atau kelompok,”tegasnya.(ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *