Proyek Anjungan Cempae Diduga Abaikan Kontrak Kerja

  • Whatsapp
Proyek Anjungan Cempae Diduga Abaikan Kontrak Kerja
Pelaksanaan proyek anjungan cempae sudah mulai dilaksanakan

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE — Proyek pembangunan Anjungan Cempae terus berjalan. Saat ini, pengerjaan penimbunan terus berproses. Hanya saja, pengerjaan penimbunan itu, tidak mengabaikan kontrak kerja yang telah disetujui pelaksanaan proyek. Salah satunya, sebelum dilakukan penimbunan untuk pondasi talud, pelaksana proyek harus melakukan pengerukan atau galian pembersihan sampah dan lumpur permukaan di dasar laut.

Sebab jika pengerukan atau galian pembersihan sampah dan lumpur permukaan tidak maksimal, maka bisa berdampak terhadap pondasi talud Anjungan Cempae nantinya Selain itu, jika proses pengerukan atau galian pembersihan sampah dan lumpur permukaan di laut, maka sebaiknya dibongkar untuk diulang pekerjaan tersebut. Ini agar pondasi talud lebih berkualitas.

Bacaan Lainnya

Apa lagi proses pengerukan atau galian pembersihan sampah atau lumpur dengan volume 4288,58 meter kubik (m3) tercantum pada Rencana Anggaran Belanja (RAB) pada proyek senilai Rp19,2 miliar itu. Akbar, salah satu perwakilan dari PT Apro Megatama yang dihubungi kemarin mengatakan, galian pembersihan sampah dan lumpur permukaan tetap dilakukan.

Dia menyebutkan, metode yang digunakan pada pengerukan sampah atau lumpur permukaan dengan cara mengumpulkan galian itu, pada sisi kanan dan kiri di lokasi pembangunan. “Kami kumpulkan galiannya di sudut kanan dan kiri, disatukan baru diangkut keluar,” katanya. Akbar lebih jauh menjelaskan, galian itu nantinya akan diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang berada di Lapadde.

Bahkan, pihaknya sebelumnya telah bersurat ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait pembuangan sampah dan lumpur dari hasil galian pembersihan atau pengerukan itu. “Kami juga telah bersurat ke DLH. Karena kami tidak bisa menimbun apabila masih banyak sampahnya,” katanya. Dia juga mengungkapkan, mesin pemadatan timbunan menggunakan vibro seberat 12 ton. Meskipun, aktivitas di atasnya nantinya pejalan kaki, bukan aktivitas kendaraan berat.

Hal itu dilakukan, kata dia, untuk menjaga stabilitas tanah. “Makanya kita gunakan vibro yang besar untuk menjaga stabilitas tanah. Termasuk setiap 30 centimeter timbunan kami ratakan, kemudian di vibro lagi dan naik lagi 60 centimeter hingga mencapai batas maksimalnya,” jelasnya. Ditambahkannya, pihaknya juga melakukan penyiraman setelah penimbunan untuk pemadatan. “Kecuali hujan, kita tidak siram karena vibro tidak maksimal apabila terlalu becek,” tandasnya. (nan/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *