Pemerintah Targetkan 500.000 Testing per Hari untuk Mengendalikan COVID-19

  • Whatsapp
Pemerintah Targetkan 500.000 Testing per Hari untuk Mengendalikan COVID-19

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Menyusul pengumuman perapan perpanjangan PPKM Level 4, pemerintah menegaskan bahwa perkembangan virus COVID-19 masih sangat dinamis dan perlu diwaspadai. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjalankan berbagai strategi untuk menekan pertambahan
kasus dan angka kematian pasien COVID-19. Pencegahan penularan, penyelamatan dan penyembuhan pasien menjadi prioritas pemerintah.

Mengutip pernyataan Presiden, kebijakan penanganan pandemi di Indonesia bertumpu pada 3 pilar,
yakni kecepatan vaksinasi, penerapan 3M, serta peningkatan testing, tracing, dan treatment.
Menindaklanjuti kebijakan tersebut, pemerintah berkomitmen terus memperbaiki dan meningkatkan kapasitas testing, tracing, dan treatment (termasuk di dalamnya adalah isolasi) secara nasional agar
lonjakan kasus segera bisa dikendalikan.

Bacaan Lainnya

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menegaskan, testing,
tracing, treatment adalah strategi utama dalam penanganan COVID-19. Seperti yang selalu
diutarakan para pakar kesehatan, terutama kita masih berhadapan dengan varian Delta yang tingkat
transmisinya sangat tinggi. Harus diupayakan agar tidak ada keterlambatan deteksi dini maupun penanganan pasien.

Oleh sebab itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan volume testing nasional dari semula 300.000 menjadi 500.000 per hari. Melalui Inmendagri, pemerintah telah menetapkan standar testing dan tracing COVID-19 yang harus dipenuhi setiap kepala daerah, dalam rangka mempercepat deteksi dan pengendalian laju penularan COVID-19. Penetapan standar tersebut tertuang dalam Inmendagri 27/2021, 28/2021, dan 29/2021.

Terkait testing, pemerintah menetapkan target minimal jumlah orang yang harus di tes setiap minggunya di masing-masing kabupaten/kota. Sebagai contoh:
● Jakarta 159.684/minggu
● Bali 57.631/minggu
● Jawa Barat 751.548/minggu
Penetapan angka ini berdasarkan hasil perhitungan positivity rate dengan jumlah penduduk di tiap
daerah. Pemerintah optimis target testing nasional bisa terlampaui, dengan menggerakkan potensi
personil di masing-masing daerah. Terlebih selama masa penerapan PPKM 3-25 Juli 2021, tercatat
30 provinsi berhasil memenuhi standar testing WHO.

Sementara untuk tracing, pemerintah menetapkan pelacakan setidaknya bisa lebih dari 15 kontak erat per kasus konfirmasi. Jika hasil pemeriksaan positif maka perlu dilakukan isolasi. Pemerintah mengimbau kerja sama dari pasien kasus positif dan kontak erat, agar sukarela melapor dan
membantu mempermudah pelaksanaan petugas di lapangan. Upaya tracing diperkuat melalui sistem digital. Digital tracing dilaksanakan melalui aplikasi
PeduliLindungi dan Silacak untuk meningkatkan telusur yang dilakukan para tracer di daerah,
terutama dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Hasil digital tracing akan memudahkan masyarakat mendapatkan treatment atau penanganan.
Masyarakat juga dapat mengunduh aplikasi PeduliLindungi dan mengaktifkan data lokasi (karena aplikasi ini berbasis GPS), sehingga secara berkala sistem dapat melakukan identifikasi lokasi serta
memberikan informasi terkait dengan tingkat risiko lokasi dan zonasi penyebaran COVID-19.

Treatment dilakukan dengan komprehensif sesuai dengan berat gejala. Bagi pasien bergejala
sedang, berat, dan kritis bisa dirujuk ke RS, sedangkan pasien tanpa gejala dan gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri dan memperoleh layanan telemedicine. Pemerintah berupaya mengamankan pasokan obat dan multivitamin untuk pasien positif COVID-19 sesuai dengan tingkat gejala yang dialami.

Sebagai salah satu upaya treatment, terdapat penguatan sistem isolasi. Ikhtiar ini dilakukan tidak hanya dengan menambah kapasitas dan fasilitas isolasi terpusat, namun juga dengan melakukan pendampingan dan edukasi kepada pasien tanpa gejala atau gejala ringan yang melakukan isolasi mandiri. Pasien yang melakukan isolasi mandiri diharapkan melapor kepada petugas kesehatan terdekat atau bidan desa, agar dapat dipantau kesehatannya. Apabila pengukuran saturasi dengan
oksimeter sudah di bawah 94%, segera dirujuk ke isolasi terpusat atau rumah sakit, untuk mencegah
keterlambatan penanganan.
Pemerintah menjamin ketersediaan tempat isolasi mandiri terpusat dan fasyankes lainnya di tiap daerah. lebih dari 21.000 unit isolasi terpusat dibangun di Jawa dan Bali.

Setiap isoter didukung dengan nakes dan fasilitas pengobatan yang memadai. “Keberhasilan testing, tracing, dan treatment adalah kunci penting dalam percepatan pengendalian
pandemi. Pemerintah terus melakukan koordinasi dengan daerah agar setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik. Kami mengajak semua pihak bergotong royong mengawal pelaksanaan program ini di pusat maupun daerah agar berjalan lancar,” pungkas Menteri Johnny.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *