Polman Wacanakan Pengolahan Sampah jadi Lokasi Objek Wisata

  • Whatsapp
Polman Wacanakan Pengolahan Sampah jadi Lokasi Objek Wisata

PAREPOS.CO.ID,POLMAN– Menjadikan lokasi pengolahan sampah menjadi lokasi wisata merupakan sebuah revitalisasi kreatif dari pemerintah. Hal itu pun menjadi sebuah upaya yang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dalam pengolahan sampah dengan menjadikannya sebagai obyek wisata yang dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD).

Wacana tersebut disampaikan, Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar yang ditemui di salah satu Warkop di Pekkabata Polewali usai menggelar pertemuan dadakan dengan sejumlah LSM dan awak media, Kamis, 1 Juli 2021.

Bacaan Lainnya

Bupati menjelaskan penerapan pengolahan sampah nanti nya akan menerapkan konsep olah sampai tuntas (Osamtu) yaitu dengan melakukan pembakaran sampah. Dan hasil dari pada pembakaran itu, dapat dijadikan kolam renang air panas dan menjadi obyek wisata. Selain itu, saat proses pembakaran terjadi juga menghasilkan debu yang kemudian berguna sebagai pupuk, batako, breket, semen dan masih banyak manfaat lainnya.

Tak hanya itu, lanjut Bupati Polman dua periode, rezeki untuk pemulung juga terbuka. Sebab saat pengelolaan sampah nantinya, dilakukan pemisahan seperti sampah plastik yang tentunya bernilai ekonomi bagi pemulung. Lebih jauh, kata Bupati, kalau dihitung itu sampah yang tertampung di Polewali Mandar mencapai 40 ton, nah dengan mengelola sampah sebanyak itu harus membuat 6 tungku sebagai wadah pengelolaan sampah agar tak mengeluarkan bau, bersih, dan bernilai ekonomi. “Langkah awal dalam menerapkan konsep ‘Osamtu’ yaitu pembuatan tungkuk. Sembari mencari lokasi TPA sampah yang baru karena TPA Binuang akan di tutup pada Desember 2021 mendatang,” jelasnya. ” Sehingga kita mencari lahan yang betul-betul tempat tidak jauh dari masyarakat, karena sesuai penjelasan pak Prof kita akan buat pengelolaan sampah terpadu,”tambahnya.

Bupati pun mengakui, jika dulunya yang di survei adalah Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo. “Tapi kita pindahkan sebab disana sangat jauh dan ketika diangkut menggunakan armada banyak rumah warga yang dilalui dan itu akan menimbulkan bau dan mengganggu warga. Sehingga kita pilihnya yang  kecamatan dekat saja yaitu Campalagian, Matakali dan Polewali. Kita liat saja nanti lah,”ungkap adik Gubernur Sulbar tersebut.

Dia pun menjelaskan, biaya dalam pembuatan tungkuk adalah, satu tungkuk akan menghabiskan dana sebanyak Rp 280 juta. Sebelum memulai harus ada perubahan pada Perbup, terkait pengelolaan sampah, dan itu sudah mendapat dukungan dari DPRD Polman.” Revisi Perbupnya besok saya kasi masukkan untuk bisa di studikan anggota dewan yang terhormat untuk bisa secepatnya kita lakukan,”tutupnya.

Terpisah, Ketua DPRD Polman Jupri Mahmud mengatakan, jika ini yang diurusi saya yakin pemerintah kita sangat mensuport untuk bagaimana cepat diresmikan. Karena terkait kesepakatan warga dengan pemerintah. “Pak Bupati dengan warga Paku Amola bahwa bulan 12 itu TPA akan ditutup permanen,”ujar Jupri Mahmud. Terkait persoalan anggaran, Jupri mengatakan, pihak DPRD secepatnya melakukan rapat untuk mendiskusikan secara bersama agar desain pengelolaan sampah segera dilaksanakan.(win/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *