TPA Paku Diblokade Warga, Ini Penjelasannya

  • Whatsapp
TPA Paku Diblokade Warga, Ini Penjelasannya

PAREPOS.CO.ID,POLMAN — Ratusan masyarakat di Desa Paku menggelar aksi blokade jalan menuju lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang berada di Dusun Passu’be Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Aksi ratusan masyarakat Desa Paku dipimpin salah satu tokoh masyarakat, Abdul Rahman, Senin 31 Mei 2021.

Dalam aksinya warga membawa spanduk bertuliskan sejumlah bahasa penolakan. Pasalnya, selama 10 tahun TPA sampah di Desa Paku beroperasi hanya memberikan dampak buruk kepada masyarakat sekitar lokasi. Berbagiau orasi pun disampaikan, denganpengawalan dari aparat kepolisian Sektor ( Sektor) Polman.

Bacaan Lainnya

Abdul Rahman mengatakan, selama 10 tahun TPA beroperasi, mulai tahun 2011 hingga 2021, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi masyarakat hanya menjadi keresahan masyarakat Paku dan sekitarnya. Apalagi, lanjut Abdul Rahman, jarak TPA dengan perkampungan sangat dekat, sehingga imbas dari limbah TPA tersebut sangat merugikan lingkungan seperti sumber air, tanah dan udara menjadi berbau.

Awalnya pemerintah mengatakan, bahwa nantinya TPA akan memproduksi pupuk kompos dan gas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pertanian atau perkebunan. Namun kenyataannya sampai saat ini pupuk kompos tersebut tidak ada sama sekali. “Jadi kami berpikir pihak pemerintah dan DPRD (Polman) telah membohongi masyarakat,”sambung Rahman.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat Desa Paku untuk bersatu dan ikut berperan dalam rangka menolak dan menutup TPA di wilayah Desa Paku. “Kita akan memblokade jalan menuju TPA, terutama untuk semua armada atau kendaraan yang akan masuk ke TPA membawa sampah. Apalagi saat ini kondisi TPA sudah over kapasitas,” tegas Rahman.

Ditambahkannya, warga akan melakukan penutupan TPA sebab limbah dari sampah tersebut telah menyusahkan masyarakat sekitar. “Menurut aturan, keberadaan TPA dengan jarak perkampungan minimal 1 kilometer (Km), sedangkan TPA Desa Paku tidak sesuai aturan, bahkan jarak tersebut tidak lebih dari 250 meter saja,” ujar Rahman. Dia mengakui, beberapa temuan di lapangan, diantaranya tingkat pencemaran polusi udara mencapai 2 Km. Untuk air tanah berwarna, berbau dan berminyak. Selain itu, masyarakat banyak yang mengalami gatal-gatal, kembung dan mual akibat bau dari kandungan gas methan. Terdapat beberapa wilayah terdampak dari TPA diantaranya Desa Paku, Mirring dan Amola. Untuk dampak ekonomi adalah berkurangnya hasil panen para petani. Dampak sosial menurunnya tingkat kenyamanan lingkungan dan masyarakat memilih untuk menjual lahan mereka.

Selain meminta TPA ditutup massa juga meminta agar segera dilangsungkan rapat denganr pendapat RDP bersama DPRD dengan dinas terkait (Dinas Lingkungan Hidup/DLH) berseta masyarakat untuk membahas masalah TPA Desa Paku. “Kami menuntut agar TPA di Desa Paku ditutup atau dihentikan pengoperasiaannya,”tutupnya (win/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *