Pandemi, Media dan Memori Kolektif

  • Whatsapp
Pandemi, Media dan Memori Kolektif

Pernahkah kita bertanya, apa yang membuat kita hari ini dapat mengingat hal-hal tertentu yang juga menjadi memori atau ingatan kolektif nyaris semua orang di luar sana, lalu memprioritaskan hal-hal tertentu itu sebagai sesuatu yang perlu kita pikirkan dan layak menyita perhatian kita?

Laporan: La Ode Arwah Rahman (Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Parepare, Penggiat Media Culture Study)

Bacaan Lainnya

Disisi lain, mengapa hal-hal yang dulu dianggap penting, pada hari ini tak lagi masuk agenda pembahasan di ranah publik media Indonesia, yang perlu diperdebatkan panjang lebar seperti sebelumnya hingga menguras energi misalnya.

Termasuk dalam hal ini, mengapa di benak masyarakat kita ancaman Covid-19 tak lagi sesangar awal-awal pandemi, meski berbagai pihak dan juga Kementerian Kesehatan beberapa hari lalu mengumumkan bahwa varian virus baru yang lebih ganas yang dikenal sebagai varian Corona India B1617.2 atau varian delta, telah masuk Indonesia.

Apakah karena dalam benak masyarakat, Covid-nya tak benar-benar nyata sehingga ada banyak yang meragukannya? Atau karena masyarakat telah lelah dengan pandemi, sehingga tak lagi peduli dengan ancaman yang ada?

Mengapa pula kini masyarakat lebih focus membicarakan sesuatu yang belum tentu jadi ‘ancaman’, seperti pajak sembako dan hal-hal lain yang penerapannya masih simpang siur, ketimbang misalnya ancaman hilangnya kepekaan kita terhadap pandemi.

Jika semua mau sedikit tenang, kita akan bisa menangkap sebuah fakta bahwa naik turunnya perhatian dan kepekaan publik terhadap pandemi, ternyata sedikit banyaknya dipengaruhi oleh media massa. Entah itu media mainstream maupun media sosial.

Lihat saja, saat pemberitaan media tentang ancaman pandemi yang bertubi-tubi lalu melahirkan infodemik sekira Februari, Maret, April hingga Juni 2020 tahun lalu, nyaris setiap hari, setiap jam, dan setiap menit ruang publik Indonesia dan bahkan dunia dipenuhi hiruk pikuk pembicaraan soal ancaman covid-19.

Namun, ketika media masa mulai mengalihkan perhatian pada hal-hal di luar pandemi, memori atau ingatan kita semua tentang bahaya pandemi Covid-19 juga perlahan memudar. Hal-hal yang sebelumnya dianggap penting dan layak menguras energi untuk didiskusikan di forum-forum resmi hingga media sosial, kini tak lagi mendapat perhatian dari kita semua.

Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori agenda setting, yang mengasumsikan bahwa hanya ketika media massa menganggapnya penting, maka publik juga akan menganggapnya penting. Ketika media melupakannya, maka publik juga akan melupakannya.

Agenda setting mengatakan, media mungkin tak sepenuhnya berhasil mengubah perilaku kita, namun media ternyata berhasil mengontrol kesadaran kita dengan menekankan sebuah isu yang dianggap paling penting untuk kita lihat, dengar, baca, dan percaya.

Karena itu, jangan heran jika soal-soal yang dulu heboh dibincangkan oleh publik Indonesia, seperti kasus Harun Massiku, kenaikan tarif BPJS Kesehatan, atau masalah Freeport, hari ini tak lagi jadi prioritas dalam wacana publik Indonesia.

Penyebabnya adalah media massa kita tak lagi memberi tempat pada masalah-masalah tersebut dalam headline pemberitaan mereka. Lalu, apa pentingnya merawat ingatan – ingatan seperti itu?

Dalam konteks Harun Massiku, kenaikan tarif BPJS Kesehatan, atau masalah Freeport mungkin memang tak terlalu signifikan lagi untuk dipikirkan dan memenuhi benak publik. Seperti manusia, memori publik juga terbatas. Banyak hal-hal baru yang penting untuk didiskusikan. Toh, lagi pula masalah-masalah tersebut telah diserahkan pada pihak-pihak berkompeten untuk menanganinya.

Namun perlu dipahami bahwa tak semua masalah yang terjadi dalam kehidupan ini sepenuhnya perlu dilupakan dan cukup menjadi sejarah. Ada hal-hal yang mesti kita jaga dan bahkan lestarikan sebagai memori kolektif atau ingatan bersama, dan selanjutnya menjadi perangkat literasi bagi masyarakat dan generasi mendatang, termasuk dalam soal pandemi Covid-19.

Masalahnya, hasil-hasil penelitian menyebutkan bahwa bencana-bencana besar yang merenggut banyak jiwa manusia hanya mampu mengendap dalam ingatan publik paling lama satu setengah generasi, dan bahkan mungkin lebih cepat dari itu. Setelahnya dilupakan dan ketika bencana baru atau bencana serupa muncul, masyarakat termasuk juga para pengambil kebijakan panik dan tak punya referensi yang cukup tentang tindakan yang diperlukan dalam menghadapi masalah tersebut.

Memori kolektif tak hanya berkaitan dengan masalah-masalah bangsa, tetapi juga bisa berkaitan dengan soal soal keluarga atau masyarakat atau soal-soal spesifik lainnya. Memori kolektif pada dasarnya adalah jiwa sebuah keluarga, jiwa masyarakat, atau jiwa sebuah bangsa.

Tanpa ingatan bersama tentang hal hal penting untuk dikenang, sebuah keluarga, sebuah masyarakat atau sebuah bangsa akan kehilangan pengetahuan tentang diri dan jati diri mereka, dan pada akhirnya mereka akan melupakan masa lalunya, dan bangsa atau masyarakat tersebut tak lebih hanya sebagai sejarah. Secara fisik ada tapi secara jati diri mereka tak lebih hanya masa lalu.

Memori kolektif membuat seseorang menjadi bagian dari sebuah kelompok, menciptakan pemahaman kolektif tentang apa yang telah dialami, sebuah pemahaman yang membawa sekelompok orang menjadi lebih dekat. Memori kolektif bukan hanya catatan sejarah masa lalu, tapi cerita tersebut mempengaruhi identitas diri dan memberi makna kehidupan sehari-hari yang diwariskan dari generasi ke generasi (Seil, 2010).

Peristiwa buruk dapat diingat atau dilupakan untuk membentuk pemikiran atau membentuk identitas sosial bagi seseorang atau masyarakat. Ada beberapa tujuan untuk mengingat masa lalu, salah satunya untuk menjadikan pelajaran agar sebuah peristiwa tidak terulang Kembali (Barbara A Misztal, 2003).

Tentu dalam kehidupan ini, mestinya kita tak hanya merawat memori kolektif kita tentang hal-hal baik dan menyenangkan, tetapi juga hal-hal buruk untuk menjadi pembelajaran berharga yang akan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai pengetahuan bersama yang akan berguna bagi kelangsungan peradaban manusia di planet ini. Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *