Palsukan Faktur Perusahaan, Dua Pekerja Dituntut 4 Bulan Penjara di Sidrap

  • Whatsapp
Palsukan Faktur Perusahaan, Dua Pekerja Dituntut 4 Bulan Penjara di Sidrap

PAREPOS.CO.ID, SIDRAP — Dua terdakwa kasus dugaan pemalsuan faktur perusahaan menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin 29 Juni, kemarin.

Dua terdakwa yakni Firman dan Imran terjerat dituntut empat bulan penjara dan dikurangi masa tahanan yang sudah dijalaninya. Kedua terdakwa saat ini sudah menjalani dua bulan kurungan di Rutan Sidrap.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidrap Andi Herlina Pebriyanti meyakini kedua terdakwa bersalah.

Terlebih, kata Andi Herlina, keduanya tak mau meminta maaf dan berdamai dengan pihak perusahaan yakni CV Indowitama Sidrap.

“Selain itu hal yang memberatkan kedua terdakwa ini karena berbelit-belit dalam persidangan,” kata Andi Herlina.

Dia mengatakan, selain tuntutan memberatkan pihaknya juga mengajukan tuntutan meringankan.

Apalagi, kata dia, kedua terdakwa mengaku menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya.

“Terdakwa juga sopan di persidangan. Mereka tulang punggung keluarga dan sudah dinonaktifkan di perusahaan CV Indowitama Sidrap. Atas pertimbangan itu, kita perlu menuntut ringan terdakwa,” ucap dia.

Sementara itu, Kuasa Hukum Terdakwa Imran, Munawir Abdul Kamal sangat menyayangkan tuntutan jaksa.

Menurut Munawir, kedua terdakwa tidak melakukan tindak pidana pemalsuan. Sebab, faktur itu berasal dari perusahaan. Belum lagi, pihak perusahaan tidak dirugikan dalam kasus ini.

“Kita yakin terdakwa tidak melakukan tindak pidana. Alasannya, berdasarkan eksepsi pada sidang sebelumnya, seharusnya terdakwa tidak dihukum pidana. Oleh sebab itu, kami berharap majelis hakim memutus terdakwa bebas atau lepas dari segala tuntutan,” harap Munawir.

Sebelumnya, Imran dan Firman dituding memalsukan faktur perusahaan saat menjadi Sales di CV Indowitama Mulia tahun 2012-2020 yang berkantor di Sidrap. CV Indowitama merupakan anak perusahaan PT Sumber Sejati Perkasa (SSP) yang berkantor di Soreang, Kota Parepare.

Supervisor CV Indowitama Mulia, Yulis Aras Madjid saat dihadirkan menjadi saksi dalam kasus itu membeberkan kronologinya.

“Pada 17 Desember 2020, PT KAO Indonesia (induk perusahaan PT SSP) Dede Kamaruddin sebagai advisor melakukan audit faktur saat kunjungan di beberapa toko Kabupaten Pinrang. Dua terdakwa menggunakan faktur manual (palsu) sehingga nilai total faktur itu juga berbeda. Faktur yang seharusnya digunakan terdakwa yakni faktur print yang sudah tersistem,” kata Yulis saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Sidrap, Kamis 10 Juni, lalu.

Yulis mengemukakan, Dede selaku Ceo perusahaan merekomendasikan kedua terdakwa untuk pemutusan kerja (PHK).

Tak hanya Imran dan Firman, keempat rekannya yakni Usman Ahmad (driver), Hartono (helper), Andi Patiroi (helper), Hamzah (driver) juga di-PHK.

Dia mengungkapkan, sebanyak lima lembar faktur manual yang ditemukan dengan jumlah Rp304 ribu. Kelima faktur itu, kata dia, membuat toko kehilangan keuntungan promo.

“PT KAO Indonesia sebagai produsen itu kan memberikan promo harga kepada toko. Namun karena Sales menggunakan faktur manual, bukan print. Maka promo tak sampai ke toko. Karena itu perusahaan menuntut kedua terdakwa ganti rugi sebesar Rp48 juta,” tandas dia. (ami/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *