Darurat Sampah di Polman, Warga Tolak Pembukaan TPA Sampah

  • Whatsapp
Darurat Sampah di Polman, Warga Tolak Pembukaan TPA Sampah
tumpukan sampah menggunung di TPA Binuang

PAREPOS.CO.ID,POLMAN– Kabupaten Polewali Mandar (Polman)  dalam kondisi darurat sampah. Pasalnya, Aliansi Pelajar Pemuda Mahasiswa (APPM) Polman mewakil masyarakat Desa Paku, Kecamatan Binuang menolak permintaan Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar. Permintaan itu terkait keinginannya untuk membuka kembali tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Dusun Passu, Desa Paku, Kecamatan Binuang. Penolakan tersebut, juga mengindahkan keinginan Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar yang sudah membuat pernyataan akan melakukan pembenahan di lokasi TPA sampah dan hanya akan digunakan hingga Desember 2021.

Dalam surat tersebut dijelaskan jika Pemkab Polman bersedia menutup TPA sampah itu apabila di bulan Desember masih terjadi pencemaran.Isi surat tersebut, isinya dengan ini menyatakan bahwa Pemkab Polman akan melakukan pembenahan pada TPA agar tidak terjadi pencemaran lingkungan, namun jika nanti pada bulan Desember 2021 masih terjadi pencemaran maka akan ditutup. Surat pernyataan itu dibuat pertanggal 8 Juni yang dibubuhi langsung tanda tangan Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar.

Bacaan Lainnya

Hal itu dibenarkan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam APPM Polman yang dengan tegas menolak permintaan tersebut karena tidak diterima oleh massa aksi. Sehingga ada mobil yang disuruh kembali pulang membawa surat tersebut. “Memang tadi sore ada surat dari Pak Bupati yang masuk, hanya saja ditolak,”kata salah seorang mahasiswa. Terpisah, Camat Binuang Andi Idrus mengatakan, mediasi antara masyarakat bersama mahasiswa masih terus dilakukan dan belum ada hasilnya. “Saya juga sementara menunggu hasil mediasi, karena proses mediasi masih berlangsung,”singkatnya.

Lokasi Alternatif

Berdasarkan informasi yang dihimpun parepos.co.id, saat ini Pemkab Polman masih terus melakukan upaya untuk mencari lokasi TPA alternatif yang berada disejumlah Desa di Kabupaten Polman. Bahkan, sudah menemukan satu lokasi yang layak menggantikan TPA Sampah di Desa Paku yakni di Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo. Namun, dari beberapa tokoh masyarakat di Desa Tenggelang pun mulai angkat bicara dan menolak daerahnya sebagai lokasi alternatif TPA sampah.

Anggota BPD Desa Tenggelang, Basri Bas menegaskan, TPA sampah tidak ada manfaatnya apabila ditempatkan di desanya, bahkan sebaliknya akan menimbulkan masalah. Dewan Pembina FPPS Polman itu menilai, pemerintah terlalu buru-buru, mestinya selain mencari TPA baru, bisa juga dilakukan langkah lain. Misalnya sampah diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. “Bayangkan sampah dari kecamatan lain di buang ke wilayah kami, padahal persoalan sampah di Kecamatan Luyo tidak ada masalah. Yang tadinya tidak ada masalah, malah menjadi bermasalah,”katanya.

Pemerintah harus mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan, mulai persoalan lingkungan, hewan ternak sapi, belum lagi bau busuk dan lain-lain. “Kita berharap, pemerintah jangan asal tunjuk lokasi, kasian warga yang dirugikan,”tegasnya. Sambil meratapi pengalamannya saat dirinya masih tinggal di daerah Antang, Kota Makassar. “Kuingat dulu waktu di Antang, jika daerah itu usai diguyur hujan maka akan tercium bau busuk, yang sangat mengganggu pernapasan,”tutupnya. (win/B)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *