Tekan Laju Covid-19, Ahli: Perketat Prokes 3M dan Hindari Mobilitas

  • Whatsapp
Guru Besar Virologi Universitas Udayana, Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika

PAREPOS.CO.ID,JAKARTA– Pemerintah sangat perlu untuk mempelajari peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di India. Faktor kerumunan sosial, baik kerumunan pada upacara agama dan juga kampanye politik jadi pemicu tingginya kasus COVID-19 di India. Guru Besar Virologi Universitas Udayana, Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, menyampaikan, pelajaran yang harus diambil adalah dengan kasus COVID-19 yang meningkat, maka akan diikuti oleh peningkatan fatalitas atau kematian. Memang menurut Prof. Mahardika, virus COVID-19 sangat mudah tersebar melalui pergerakan manusia. “Pergerakan orang inilah yang selalu membawa virus ini, bukan melalui angin, hewan, dan sebagainya. Kalau ingin menekan mutasi, pertama kurangi jumlah orang tertular dan yang kedua membatasi pergerakan manusia,” terangnya.

Meskipun pemerintah sudah mengintervensi pandemi COVID-19 dengan program vaksinasi nasional, Prof. Mahardika menilai masyarakat harus tetap waspada dan tidak perlu euforia terlebih dahulu. “Kita harapkan dari vaksin COVID-19 adalah kita terpapar virus, tapi kemudian kita tidak bergejala yang berat. Kedua, orang yang sudah divaksinasi, kemungkinan masih membawa virus tapi viral low, sehingga peluang menularkan virus jauh lebih rendah dibandingkan orang yang tidak divaksinasi,” terangnya lebih lanjut.

Bacaan Lainnya

Di sisi lainnya, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM menyampaikan, masyarakat perlu menyadari bahwa saat ini kita masih dalam kondisi pandemi. “Kita sangat mengharapkan, seluruh pihak menyadari bahwa pandemi belum usai, positive rate-nya juga masih tinggi. Penerapan protokol kesehatan itu tidak boleh ditawar,” terang Dr. Ede. Lebih lanjut lagi, Dr. Ede menyampaikan bahwa konteks protokol kesehatan yang utama dalam pandemi adalah menjaga jarak, “Implikasi dari jaga jarak ini otomatis mencegah kerumunan. Baru yang kedua memakai masker. Ketiga, tentu saja sering mencuci tangan. Nah, abainya kita mematuhi protokol kesehatan inilah yang akan sangat berisiko,” ujarnya.

Dr. Ede juga mengimbau agar mudik atau melakukan mobilitas secara massal sebisa mungkin untuk dihindari, “Kalau bisa semua tetap berada di kota masing-masing. Mobilitas biasanya akan mendorong dua hal yakni satu, berkerumun, kedua, kelelahan. Dua hal ini yang membuat orang menjadi rentan terkena infeksi penyakit menular,” terangnya. Untuk mencegah laju penularan COVID-19 di Indonesia tidak terkendali, Dr. Ede menyarankan tahun ini masyarakat tidak melakukan perjalanan mudik lebaran. “COVID-19 masih ada dan potensi untuk tertular masih besar. Lebih baik, kita khusyuk, kemudian silaturahmi secara virtual. Rasa-rasanya hal tersebut tidak mengurangi esensinya,” tegasnya.(*)

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *