Lailatul Qadri dan Nilai Kehidupan

  • Whatsapp
Lailatul Qadri dan Nilai Kehidupan

Sepuluh Ramadan terakhir, adalah saat dimana umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan, lebih meningkatkan kegiatan ibadahnya berlipat lipat kali dibanding hari hari sebelumnya.

Laporan: H Mappiar HS        (Direktur Pimpinan Umum Harian PAREPOS)

Lailatul Qadri lebih baik dari seribu bulan, bukan seribu ukuran duniawi tapi ukuran Allah SWT. Sehingga apapun amaliah yang dilaksanakan dengan ikhlas pada saat itu, akan bernilai seribu bulan.

Banyak yang mengencangkan tadarusnya, sadakah, hadiyah, zikir, zakat, infaq, tahmid, istigfarnya, bahkan banyak di antara kita yang menetap di mesjid melaksanakan i’tikaf. Melakukan ibadah di mesjid selama beberapa hari dan terus muhasabah.

Semuanya satu tujuan, mencapai ridho Allah SWT. Ramadan memang sering disebut bulan mubaraq, bulan pengampunan bahkan bulan Alquran. Karena di bulan mulia inilah diturunkan Alquranul Qarim yang menjadi petunjuk bagi Umat manusia.
Ramadan, adalah bulan penuh berkah. Karena Allah menjanjikan pengampunan dosa bukan hanya kepada ahli ibadah, tapi juga bagi pendosa yang bahkan seumur hidupnya berbuat dosa, namun pada bulan suci ini bersungguh sungguh tobat nasuha dan berjanji tidak mengulang perbuatan dosanya akan diampunkan oleh Allah SWT.

Sangat wajar kalau Ramadan sangat dinanti oleh kaum Muslimin. Bulan penghapusan dosa, dan meraih sebanyak banyaknya pahala. Khusus ahli puasa, akan disiapkan satu buah pintu khusus di Surga kelak yang disebut Arrayan. Semua apa ditulis di atas, umumnya, teramat sering kita dengar dan baca. Apalagi di era modern ini, era digital era distrupsi, begitu banyak informasi yang kita peroleh menyangkut kemuliaan bulan yang suci ini.
Lailatul qadri, ada di deretan malam malam ganjil bulan Ramadan.

Itulah yang banyak kita pehami selama ini. Dengan berbagai tanda tandanya, seperti udara malam yang tiba tiba jadi sangat lembut, hujan gerimis yang tipis, perasaan menjadi sangat indah, bahagia. Tapi itu bagi ahli ibadah. Dulu, sering pula kita mendengar kalau malam yang mulia itu ditandai dengan berkokoknya ayam padahal belum masuk waktu subuh, atau semua pepohonan tiba tiba bersujud ditandai dengan tunduknya pucuk pepohonan ke tanah.

Semua kisah itu, masih kita kenang dari ceramah ulama kita dulu. Sekarang, kajian yang bertebaran di Goegle, Youtube, instagram, fb dll memenuhi android kita. Tinggal tulis dan klik materi yang kita butuhkan, langsung muncul. Yaa asalkan ada data dan pulsanya. Lailatul Qadri dalam perspektif lain tentu saja, bagaimana agar ibadah yang kita laksanakan selama Ramadan dapat terus kita lanjutkan setelah bulan Ramadan berlalu.

Salat sunnat, menjaga perkataan, pandangan dan pikiran kotor. Lebih care lagi kepada sesama manusia, banyak bersedeqah membagi kepada yang membutuhkan, berperilaku lebih baik dari sebelumnya. Nilai Lailatul Qadri yang dijanjikan Allah begitu luas, sehingga tidak akan mungkin dapat diulas dengan pemikiran terbatas kita.
Perubahan. Itulah kata yang paling tepat setelah melewati Ramadan dan janji Allah akan Lailatul Qadri. Tadarus yang tidak terhenti, shalat tahajud dan duha yang berkesinambungan, berpuasa Senin Kamis, sebagaimana dilaksanakan ketika berpuasa Ramadan sebulan penuh, dan lebih meningkatkannya hubungan silaturahmi kita kepada sesama.

Kalau setelah Ramadan, kita malahan meningkatkan waktu menonton sinetron, film yang kurang bermanfaat, bergosif, sombong, bangga, merasa lebih dari yang lain, mungkin tahun ini nilai Lailatul Qadri belum seratus persen kita raih. Saatnya, Sepuluh malam terakhir, kita lipatgandakan kegiatan amaliah kita, agar waktu yang tersisa bisa menjadi penutup yang indah, sembari berdoa semoga Allah masih mempertemukan Ramadan berikutnya. Allahumabaligna Ramadan yang Rab, ya Allah wa ya mujibussailin. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *