Indikasi Lonjakan Kasus COVID-19, Kemenkes Imbau Masyarakat Perketat Prokes

  • Whatsapp
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid.

PAREPOS.CO.ID,JAKARTA– Kementerian Kesehataan (Kemenkes) dalam kurun waktu 2 minggu terakhir melihat adanya tren peningkatan jumlah keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Ratio/BOR) disejumlah rumah sakit di Indonesia. Hal ini menyusul peningkatan jumlah pasien COVID-19 dan peningkatan status sejumlah Kabupaten/Kota dari 6 Kabupaten/Kota berisiko tinggi menjadi 19 Kabupaten/Kota. Sementara itu untuk status risiko sedang juga mengalami peningkatan dari 322 Kabupaten/Kota menjadi 340 Kabupaten/Kota. “Kita melihat ada kecenderungan perubahan dari wilayah kategori risiko rendah menjadi risiko sedang dan risiko tinggi,” terang Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid.

Sebagai gambaran, situasi di Indonesia pada 29 April lalu angka kasus mencapai 5.833. Lalu pada 30 April menjadi 5.500 kasus. “Ini menjadi alarm kita setelah kita mengupayakan sejak Februari hingga Maret untuk turun, lalu di April ini terlihat ada kecenderungan kenaikan,” terang dr. Nadia. Indikasi lainnya menurut keterangan dr. Nadia adalah adanya catatan peningkatan kasus kematian akibat COVID-19 sebanyak 20% dalam tujuh hari terakhir. Begitu juga dengan tren rawat inap di rumah sakit, terjadi peningkatan 1,28%. “Ada 14 Provinsi dengan kriteria transmisi komunitas level 4, yang berarti angka rawat inap kasus COVID-19 mencapai lebih dari 30 per 100 ribu penduduk tiap minggunya,” jelas dr. Nadia.

Bacaan Lainnya

Pantauan Kemenkes mencatat terjadi jumlah keterpakaian baik itu ruang isolasi maupun ruang perawatan insentif pada rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan, TNI/Polri, dan BUMN/Kementerian lainnya. Dalam seminggu terakhir, terlihat ada kecenderungan peningkatan keterisian tempat tidur di 18 Provinsi seperti misalnya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Kep. Riau, Sulawesi, pulau Jawa, dan Kalimantan. “Tentunya kita melihat beberapa minggu ini muncul beberapa klaster penularan COVID-19 seperti klaster perkantoran, buka bersama, klaster tarawih di Banyumas, klaster mudik di Pati, dan klaster takziah di Semarang. Kemungkinan terjadinya super spreader pada klaster-klaster tersebut,” terang dr. Nadia lebih lanjut.

Super spreader yang dimaksud adalah jumlah terkonfirmasi secara singkat dan cepat ke sejumlah orang, dikarenakan adanya interaksi dan diikuti oleh lemahnya disiplin protokol kesehatan.“Kami mendapatkan informasi, di Banyumas ada 51 orang terkonfirmasi positif COVID-19 pelaksanaan salat tarawih di dua masjid,” ungkap dr. Nadia. Selain kasus di dalam negeri, Kemenkes juga melihat terjadinya lonjakan kasus di negara-negara Eropa, diikuti dengan upaya lockdown di negara-negara tersebut. Selain India, negara lain seperti Turki, juga sudah memasuki kondisi lockdown akibat terjadinya peningkatan kasus.

Jepang juga sudah terkonfirmasi kembali mengalami 1000 kasus per hari setelah 3 bulan lamanya menekan angka di bawah 1000. Kemudian juga Singapura terkonfirmasi 16 kasus komunitas baru. “Negara-negara tersebut merupakan negara yang sudah mewaspadai peningkatan kasus
COVID-19, dan kita tahu sebelumnya negara-negara ini berhasil menekan laju penularan bahkan bisa dianggap mengendalikan pandemi COVID-19 ditambah upaya vaksinasi yang mereka lakukan. Tentunya, kita tidak ingin hal tersebut terjadi di Indonesia. Kewaspadaan dan kerjasama dari seluruh masyarakat perlu dilakukan untuk bahu membahu menekan laju penularan dan mengantisipasi lonjakan kasus,” ujar dr. Nadia.

Berkaca dari meningkatnya tingkat keterisian tempat tidur serta pengalaman di negara-negara lain, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak serta menjauhi kerumunan di mana saja, baik di perkantoran, rumah ibadah, maupun di ruang publik wajib dilakukan. “Sebagai upaya menekan laju penularan. Pemerintah juga terus memperpanjang dan memperluas kebijakan PPKM Mikro ke 25 Provinsi di Indonesia. Parameter keberhasilan PPKM Mikro terhadap tren penanganan COVID-19 dinilai cukup efektif. Hingga saat ini kita mampu menekan persentase penularan di angka 6,1%,” jelas dr. Nadia. Pemerintah juga telah melakukan intervensi kesehatan melalui program vaksinasi COVID-19 yang sedang berlangsung, untuk menciptakan herd immunity bagi 181,5 juta penduduk Indonesia. “Kami kembali ingatkan bahwa vaksinasi bukan cara satu-satunya kita keluar dari pandemi COVID-19, tapi juga harus didukung oleh disiplin penegakan protokol 3M, hingga nanti pemerintah menyatakan Indonesia bebas dari pandemi COVID-19,” tutup dr. Nadia.(*)

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *