Gerhana Bulan Langka, Lapan: 195 Tahun Sekali

  • Whatsapp
Gerhana Bulan Langka, Lapan: 195 Tahun Sekali

PAREPOS.CO.ID, JAKARTA — Gerhana bulan total (GBT) yang bertepatan hari raya waisak merupakan peristiwa langka yang terjadi hari ini, Rabu 26 Mei.

Peneliti dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Andi Pangerang Hasanuddin menjelaskan, peristiwa itu terjadi tiap 195 tahun sekali.

Bacaan Lainnya

“GBT kali ini sangat spesial karena beriringan dengan terjadinya Perige, yakni ketika bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi,” kata Andi Pangerang kepada Parepos.co.id, sore tadi.

Andi Pangerang menuturkan, puncak gerhana terjadi pukul 18.18 Wib dengan jarak 357.464 kilometer dari bumi. “Sementara itu puncak Parige terjadi pada pukul 8.57 Wib dengan jarak 357316 kilometer dari bumi,” kata Andi Pangerang.

Oleh sebab itu, kata dia, gerhana bulan kali ini juga bisa disebut bulan merah super. Sebab, lebar sudutnya lebih besar 13,77 persen dibandingkan dengan ketika berada di titik terjauhnya (apoge). “Kecerlangannya 15,6 persen lebih terang dibandingkan dengan rata-rata atau 29,1 persen lebih terang ketika Apoge. Selain itu, durasi fase total gerhana kali ini cukup singkat, yakni 14 menit 13 detik,” kata dia.

Dia menjelaskan, gerhana bulan kali ini juga bertepatan dengan detik-detik hari raya waisak. Pada dasarnya, katanya, detik-detik waisak terjadi ketika purnama waisak yang selalu jatuh pada tanggal 15 sulapaksa di bulan waisaka. “Saat bulan purnama, matahari dan bulan akan berada dalam satu garis lurus. Sehingga cahaya matahari dapat menerangi permukaan bulan secara maksimal, dengan bumi berada diantara keduanya. Karena cahaya matahari berada di permukaan bulan secara maksimal. Maka bulan nampak bulan sempurna dipandang dari bumi,” ujar dia.

Dia menyebutkan, kedudukan membentuk gari lurus seperti itu dikenal dengan oposisi (solar) atau istiqbal. “Jadi matahari dan bulan membentuk 180 derajat satu sama lain dalam peredarannya. Saat kedua benda langit tersebut tepat membentuk sudut 180 derajat di hari waisak dikenal sebagai ‘detik-detik waisak’. Dengan kata lain, detik-detik waisak merupakan puncak bulan purnama pada bulan waisaka menurut penanggalan India yang didasari oleh peredaran bulan. Keputusan merayakan trisuci ini diatur dalam Konferensi Fellowship of Buddhists (WFB),” ujarnya.

Dia mengungkapkan, peristiwa ini dapat disaksikan seluruh Indonesia dari arah Timur-Tenggara tanpa melalui alat bantu optik. Dia membeberkan, kejadian gerhana bulan bertepatan hari raya waisak ini pernah terjadi 24 Mei 1910, 14 Mei 1938, 14 Mei 1957, dan 16 Mei 2003. “Fenomena ini akan kembali terjadi 26 Mei 2040, 7 Mei 2050, 6 Mei 2069, 17 Mei 2087, dan 29 Mei 2106,” bebernya.

Untuk dua siklus saros berturut-turut, kata dia, akan berulang setiap 195 tahun sekali. Fenomena itu akan terjadi lagi pada 10 Mei 2199, 21 Mei 2217, dan 16 Mei 2398.”Satu siklus saros sama dengan 18 tahun 11 hari,” tutupnya. (ami/B)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *