Antara Mudik dan Pulang Kampung, Apa yang Lucu?

  • Whatsapp
Antara Mudik dan Pulang Kampung, Apa yang Lucu?

Oleh : IBRAHIM MANISI

SEPEKAN Sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H (13 Mei 2021 M), Pemerintah Indonesia resmi mengeluarkan larangan mudik lebaran di kampung halaman bagi masyarat. Seperti dilansir Kompas.com edisi 10 April 2021, larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan COVID-19 No. 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah selama 6-17 Mei 2021.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, terjadilah hiruk pikuk di tengah masyarakat. Bahkan lebih heboh lagi dan viral di media sosial setelah Presiden Jokowi memberikan pernyataan yang membedakan antara mudik dengan pulang kampung, saat diwawancara oleh Najwa Shihab pada 21 April 2020 lalu.

Menurut Jokowi, masyarakat yang pulang kampung itu tidak dilarang. Dan yang dilarang adalah masyarakat yang mudik lebaran. Mendengar pernyataan presiden RI tersebut, banyak yang tertawa karena mereka menganggap pengertian antara kata “mudik” dengan “pulang kampung” itu sama.

Secara sepintas dan menurut bahasa memang ada kesamaan. Tetapi jika membaca Surat Edaran Kepala Satgas Covid-19 tersebut di atas, pelarangan itu ditujukan bagi masyarakat yang ingin mudik ramadan dan hari raya Idul Fitri 1443 H.

Dalam surat edaran tersebut, memang tidak disinggung masyarakat yang “pulang kampung” bertepatan dengan ramadan 1442 H. Kelompok masyarakat inilah yang disinggung Jokowi “pulang kampung” lebih awal dengan alasan sudah habis pekerjaan atau tidak bekerja lagi di kota, sehingga mereka harus pulang kampung berpuasa dan lebaran bersama anak, isteri dan keluarga yang ditinggalkan di rumahnya di kampung selama bekerja di kota.

Jadi menurut hemat saya, pernyataan Presiden Joko Widodo tersebut, betul dan sama sekali tidak lucu bagi saya. Nah, sekarang mari kita bahas kata “mudik” kaitannya dengan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H.

Istilah mudik lebaran itu, selama ini dilakukan oleh masyarakat dari kampung yang tinggal di kota, baik yang sudah bekerja maupun yang mungkin masih sekolah atau kuliah. Bahkan tidak sedikit di antara pemudik itu, sudah berkeluarga atau bahkan sudah menjadi warga di kota tersebut. Lalu mereka rindu sanak keluarga di kampung halaman sehingga ingin kembali berlebaran sekaligus silaturrahmi. Tidak sedikit pula di antara mereka yang mudik bersama anak dan isterinya.

Mengingat masyarakat pemudik tersebut terikat dengan pekerjaan dan atau kampusnya sehingga mudik itu tidak pakai lama. Biasanya seiring dengan masa libur hari raya. Ambil contoh lebaran Idul Fitri 1443 H yang bertepatan dengan Kamis, 13 Mei 2021.

Sementara masa libur nasional dimulai Rabu, 12 Mei sampai Ahad, 16 Mei 2021. Jadi masa liburnya 5 hari. Bahkan banyak di antara mereka yang curi star mulai berangkat Sabtu 8 Mei jadi bisa tinggal di kampung 8 sampai 9 hari. Bahkan mungkin ada yang bolos sampai Senin 17 Mei baru balik ke kota tempat mereka bekerja atau kuliah. Makanya, tahun ini banyak sekali yang memanfaatkan libur panjang ini untuk mudik.

Sedangkan, masyarakat yang dikatakan “pulang kampung” tersebut, tidak terikat waktu untuk balik ke kota segera. Sebab selain karena sudah habis kontrak kerjanya, juga mereka ingin menikmati hasil jerih payahnya bersama dengan anak dan isterinya di kampung berlama-lama.

Lantas kapan masyarakat yang kategori “pulang kampung” tadi balik ke kota lagi? Jawabnya ada dua kemungkinan. Bagi yang merasa sudah cukup modal untuk usaha di kampung ata mungkin karena faktor kesehatan, mereka tidak kembali lagi bekerja di kota. Dan boleh jadi ada yang mungkin kembali bekerja di kota setelah persediaan di kampung sudah mulai menipis.

Menurut anda gimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *