Banjir Produk Impor Tekstil, Ketua DPD RI Desak Pemerintah Proteksi Pasar Lindungi IKM

  • Whatsapp
Banjir Produk Impor Tekstil, Ketua DPD RI Desak Pemerintah Proteksi Pasar Lindungi IKM

PAREPOS.CO.ID, BALIKPAPAN — Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mendesak pemerintah untuk memproteksi pasar demi melindungi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dari serbuan produk impor yang dipasarkan secara online. Sebagaimana diketahui, pandemi Covid-19 membuat sejumlah pihak menggunakan jasa e-commerce untuk memasarkan produk mereka. Salah satunya adalah produk impor tekstil yang merajalela di pasaran, dimana

dampaknya tentu saja dirasakan pelaku IKM yang ditandai dengan menurunnya penjualan mereka.

Bacaan Lainnya

Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur menilai e-commerce amat besar pengaruhnya terhadap produk-produk impor, baik konsumsi kebutuhan rumah tangga maupun pakaian jadi. “Keluhan yang dirasakan di tengah-tengah program Pemerintah terkait program pemulihan ekonomi nasional adalah pelaku usaha garmen yang merasakan sulitnya penjualan produk karena tidak mampu bersaing. Padahal harga terbilang lebih murah dan kualitas juga jauh lebih baik,” ujar LaNyalla Mattalitti sesaat setelah mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu 4 April, pagi tadi.

Melalui siaran persnya yang disampaikan oleh Ajbar Abdul Kadir Anggota DPD RI Perwakilan Sulbar, kepada parepos online. Lanyalla meminta pemerintah untuk memproteksi pasar melalui regulasi yang melindungi pelaku usaha lokal. ” Jika hal ini dibiarkan, maka kita akan menghadapi kematian industri kecil menengah dan bersiap menghadapi permasalahan sosial yang besar,” katanya.

Senator Dapil Jawa Timur itupun mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan regulasi yang memproteksi pasar. Pasalnya, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menilai hingga kini hal tersebut belum juga dirampungkan pemerintah. “Ini urgent dan harus menjadi prioritas hingga saatnya kita mampu bersaing di pasar bebas,” tegasnya.

Menurut dia, Industri Kecil dan Menegah (IKM) tekstil mengalami penurunan penjualan,disebabkan pandemi covid-19 dan banjir produk impor di pasaran. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia menyebutkan produk impor tekstil tidak hanya terjadi di pasar swalayan, namun juga masuk ke marketplace.

Data Indotextiles yang menyebutkan, sepanjang 2020 produksi garmen IKM mencapai sekitar 641.000 ton. di Jawa Barat banyak sekali produksinya, misalnya sentra rajut binong di Bandung. Mereka produksi terus-menerus dengan pekerja yang juga banyak. ” Miris ketika produknya tidak dapat bersaing dengan impor. Harganya jauh sekali tetapi kualitas lebih baik dibandingkan produk impor,”tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *