‘Telapak Kaki’ di Kota Cinta, Bangun Kota Industri Tanpa Cerobong Asap Lewat Budaya

  • Whatsapp
'Telapak Kaki' di Kota Cinta, Bangun Kota Industri Tanpa Cerobong Asap Lewat Budaya

TULISAN ini, saya rangkum dari berbagai sumber (sekali-sekali tidak mengapa kaan….?, pen), sehubungan terpilihnya Walikota Parepare DR HM Taufan Pawe SH MH sebagai penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Tahun 2021, di antara 10 bupati/walikota se-Indonesia.

Oleh: Syahrir Hakim                 (Ketua Seksi Kebudayaan PWI Sulsel)

Bacaan Lainnya

Majunya Walikota Parepare sebagai calon penerima Anugerah Kebudayaan 2021 dari PWI Pusat, tidak lepas dari peranan Harian PARE POS. Media inilah yang mengusulkan agar Walikota Parepare dua periode ini menjadi salah satu kandidatnya.

Taufan Pawe menyuguhkan ide dan kreativitasnya yang dikemas dalam proposal berjudul “Parepare Kota Industri Tanpa Cerobong Asap Melalui Gerak Kebudayaan”. Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Tahun 2021 itu akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2021 di Jakarta hari ini.

Saya warga Parepare kelahiran Bulukumba. Dua puluh tahun yang lalu, saya menginjakkan kaki di Kota Jasa dan Niaga. Sebutan Parepare waktu itu. Tak lama kemudian, terdengar sebutan Kota Peduli. Akhir-akhir ini terdengar lagi sebutan Kota Cinta.

Kota Parepare tetap memegang peranan penting sebagai kota niaga dan kota jasa di Sulawesi Selatan. Keberadaan Pelabuhan Nusantara di kota ini, membuat beberapa daerah tetangga membutuhkan jasanya. Terutama untuk transportasi laut, baik barang maupun penumpang.

Sebagai kota jasa, Parepare mendapat keuntungan dari penyerapan tenaga kerja dan jasa-jasa lain, seperti retribusi dan pajak. Penekanan pada jasa-jasa ini, karena Parepare hampir tidak punya pemasukan dari sektor lain, semisal pertanian atau perikanan.

Meski demikian, nantinya Parepare akan menjadi kawasan industri. Tapi jenisnya unik. Industri tanpa cerobong asap. Padahal umumnya yang kita ketahui, setiap industri memproduksi asap yang keluar melalui cerobong.

Dalam sebuah kesempatan, Walikota Taufan menuturkan, Pemkot Parepare sengaja memilih visi sebagai kota industri tanpa cerobong asap. Alasannya, berorientasi kepada sektor pelayanan jasa, meliputi jasa pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kepariwisataan.

Pariwisata, salah satu pilar Kota Industri Tanpa Cerobong Asap, sehingga dijadikan satu bukti konkret dan kerja nyata untuk mewujudkan itu. Dengan demikian, mewujudkan Kota Industri Tanpa Cerobong Asap, tentunya harus didukung pengembangan pariwisata dan budaya yang lestari.

Satu contohnya, Rumah Sakit dr Hasri Ainun Habibie yang dibangun di wilayah Tonrangeng, akan mengusung konsep medical tourism (wisata medis). Rumah sakit ini, diandalkan akan menjadi tujuan wisata, sehingga mengundang banyak orang ke Parepare.

Inilah yang diprakarsai Walikota Parepare sebagai teori pembangunan ‘Telapak Kaki’. Teori ini pada hakikatnya, diartikan sebagai pijakan kaki, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Pembangunan dengan teori yang dinilai cukup unik itu, sarat dengan makna. Apa itu? Sudah barang tentu menarik kunjungan warga daerah lain ke Parepare, baik untuk berwisata maupun tujuan lainnya seperti pendidikan.

Taufan yakin, melalui pembangunan teori ‘Telapak Kaki’, Parepare akan mampu menjadi kota yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Sejumlah aset telah dibangun sebagai andalan.

Sebutlah Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun yang sekarang menjadi ikon Kota Parepare. Ada juga Tonrangeng River Side yang menjadi pionir wahana medical tourism.

Tak hanya itu, juga telah didirikan destinasi pariwisata lima dimensi di Kawasan Sungai Karajae. Pengunjung akan dimanjakan sajian lima objek wisata menarik dengan harga tiket yang sangat terjangkau.

Pembangunan teori ‘Telapak Kaki’ pada akhirnya diharapkan akan menjadikan Parepare bukan lagi sekadar kota transit, tetapi menjadi kota tujuan.

Akhir-akhir ini muncul sebutan Parepare sebagai ‘Kota Cinta’. Sesungguhnya Kota Parepare dikenal karena sosok Bapak BJ Habibie yang merupakan kota kelahirannya. Tidak heran, jika kota ini dibangun dengan menjadikan BJ Habibie sebagai sumber inspirasi. Gagasan Walikota Taufan inipun mendapat apresiasi dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI.

Deputi Bidang Inovasi Administrasi LAN RI, Dr Tri Widodo Wahyu mendukung penuh inovasi Pemkot Parepare dalam menghadirkan branding ‘Kota Cinta’. Dia mengungkap dalam Perkuatan Inovasi Daerah yang digelar secara virtual Bappeda Kota Parepare, beberapa waktu lalu.

Materi Dr Tri Widodo yang disajikan saat itu berjudul “Menyemai dan Merawat Inovasi di Kota Cinta”. Pemilihan dua kata, ‘Kota Cinta’ sebagai brand yang disematkan untuk Parepare, lantaran hadirnya sejumlah ikon kota yang bernafaskan cinta, seperti Monumen Cinta Habibie-Ainun.

Malah Dr Tri mempertanyakan sendiri judul materinya. Mengapa mengambil judul seperti itu? Dia jawab sendiri, karena dia sangat mendukung Parepare yang sangat beruntung memiliki legasi Presiden RI dan menjadikan Bapak BJ Habibie sebagai branding yang tidak dimiliki kota lain.

‘Kota Cinta’, seperti yang dikatakan WaliKota Taufan Pawe, bukan persoalan muda-mudi atau antara laki-laki dan perempuan. Tetapi cinta yang dimaksud itu, secara menyeluruh. Misalnya, antara manusia dan seluruh alam semesta.

Menurut Dr Tri, brand ‘Kota Cinta’ akan menjadi kekuatan bagi Parepare. Cinta sebagai bahan baku yang akan menjadikan kota ini semakin masuk ke hati bagi pengunjung, sehingga visi dan misi Walikota menjadikan Parepare sebagai Kota Industri Tanpa Cerobong Asap, dapat terwujud. Sekian, semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *