Teknologi Biotani, Panen Padi Perdana di Sidrap Capai 10 Ton per Hektare

  • Whatsapp
Teknologi Biotani, Panen Padi Perdana di Sidrap Capai 10 Ton per Hektare

PAREPOS.CO.ID, SIDRAP — Panen padi perdana di Kabupaten Sidrap diperkirakan mencapai 9 atau 10 ton per hektare. Hal itu diungkapkan Bupati Sidrap saat meninjau panen perdana dengan penerapan paket teknologi biotani di areal persawahan di Kelurahan Lautang Benteng, Kecamatan Maritengngae.

Panen dilakukan pada demplot seluas 23 hektar ini dikelola Biota Grup bersama Kelompok Tani Tipuminasae yang diketuai Labeddu. Bupati Sidrap, H Dollah Mando menyebutkan, panen perdana dengan menerapkan paket teknologi biotani cukup memuaskan.

Bacaan Lainnya

Ia memprediksi, kisaran produksi demplot tersebut ini bisa mencapai 10 ton per hektare. “Dari tampilannya saja tanaman bisa dilihat, ini sekitar 9 atau 10 ton per hektar,” kata Dollah saat meninjau panen perdana, Senin 15 Februari.

Dollah mengapresiasi kemampuan teknologi tersebut. Sebab, menurut dia, biotani itu bisa mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 50 persen. “Ini yang perlu kita harapkan agar kebutuhan petani akan pupuk kimia bisa dikurangi,” katanya.

Melalui panen tersebut, lanjut dia, para petani dapat melihat langsung hasil paket teknologi biotani yang ditawarkan. “Para petani bisa menilai sendiri. Silakan dicoba, sambil tetap dievaluasi hasilnya,” ucap dia.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Maritengngae, Musfiani menjelaskan, varietas yang digunakan dalam panen itu yakni situbagendit, inpari 42 dan inpari 32. “Waktu tanam 16 November 2020, artinya umur tanaman yakni 105 hari,” jelas Musfiani.

Ia menyebutkan, jumlah anakan padi sebanyak 40 batang dengan tinggi 100-105 cm. “Untuk hasil ubinan sebanyak 6,5 kg dengan hasil produksi sekitar 10,4 ton per hektar,” sebutnya.

Sementara itu, Direktur PT Biota Grup, Ali Ngiwa mengatakan, biotani ini sudah diterapkan sekitar tiga tahun. Produknya, kata dia, berupa pupuk organik cair, pestisida nabati dan fungisida organik. Rata-rata menghasilkan 8 hingga 13 ton. “Keuntungan paket ini, ramah lingkungan, biaya murah, hasil panen meningkat, dan mudah dilaksanakan,” terangnya.

Selain itu, kata dia, paket tersebut dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 50 persen. “Ada daerah yang full organik,” pungkasnya. (ami/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *