HPN 2021, Mengenang Lahirnya PWI Ajatappareng

  • Whatsapp
HPN 2021, Mengenang Lahirnya PWI Ajatappareng

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2021 merupakan kegiatan yang paling bersejarah sepanjang adanya HPN. Bahkan sejak lahirnya PWI, 9 Februari 1946, di Kota Solo, Surakarta selalu dilakukan dengan tatap muka.

Oleh: Ibrahim Manisi.               (Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel)

Bacaan Lainnya

Dahulu, Hari Ulang Tahun (HUT) PWI hingga kini sudah 75 tahun diperingati dan Hari Pers Nasional (HPN) juga sudah dirayakan selama 36 tahun. (Sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 5 tahun 1985). Namun selalu dirayakan secara tatap muka dengan dihadiri ribuan wartawan dari seluruh Indonesia.

Nah, sekarang – HPN 2021 diperingati berbeda dengan sebelumnya. Selasa pagi hari ini, 9 Februari 2021, HPN diperingati secara virtual/during dan dipusatkan di Ancol, DKI Jakarta dan di Istana Bogor. Meski dihadiri Presiden RI Joko Widodo dengan disaksi di seluruh penjuru tanah air, namun tidak bisa lagi salaman dan Selfi dengan kepala negara tersebut seperti sebelumnya. Semua itu penyebabnya adalah Pandemi Covid 19.

PWI Ajatappareng

Sebelum Pandemi Covid 19, setiap kali jelang peringatan HPN, Saya selalu berniat menulis tentang riwayat pembentukan dan berdirinya PWI Perwakilan pertama di Sulawesi Selatan tetapi selalu terhalang dengan kesibukan menghadapi persiapan pemberangkatan delegasi PWI Ajatappareng atau PWI Parepare – Barru untuk mengikuti langsung acara peringatan HPN di provinsi yang telah ditentukan setahun sebelumnya oleh PWI Pusat.

Baru kali ini, HPN 2021, Saya berkesempatan menulis kenangan tentang proses terbentuknya PWI Ajatappareng. Mungkin inilah hikmahnya – HPN diperingati secara Virtual sehingga tidak ada undangan panitia sampai ke provinsi, kecuali Walikota Parepare dan rombongan yang diundang khusus untuk menerima penghargaan “AK – PWI Pusat 2021” dari Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor, Selasa pagi hari ini (9/2/2021).

HPN kali ini rasanya Saya punya waktu luang untuk kembali mengenang proses terbentuknya PWI Ajatappareng. Bahkan momen ini kembali mengingatksn Saya dengan beberapa teman – saudara seprofesi Saya yang ikut berjuang dahulu seperti; Yahya Djabal Tira, Muh. Nasri Aboe, Edy Husain dan Abdul Azis Karim serta Syeh Ahmad. Kelimanya sudah almarhum.

Dan yang masih hidup ada saudaraku; Marno Pawessai dan Andi Takdir Gizim yang setiap saat nempel terus bersamaku. Ada H. Benny Latanrang, SH, Takdir Abduh, SE, Drs. Idris D dan Sulaeman Nasir serta Wijaya WS di Parepare. Begitu pula di Pinrang, ada Syarifuddin Ibrahim dan Chandra. Ada Ambo Upe, Mattau Kulattang, Drs. M. Amin Umar dan Mangkella di Sidrap. Sementara ada H. Muh. Syarif A. Longi, Sirajuddin Thahir dan Abdul Majid di Barru. Dan masih banyak yang Saya ingat wajahnya tapi sudah lupa namanya. Mohon maaf, kawan. Semoga Allah SWT membalas jasa-jasa kalian.

Hadirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Ajatappareng meliputi 4 kabupaten dan 1 kota merupakan Perwakilan pertama yang dibentuk Pengurus PWI Cabang Sulawesi Selatan, pada periode kepemimpinan H. Muhammad Alwi Hamu, yang juga Pemimpin Umum HarianFAJAR Makassar, tepatnya, pada 5 Februari 1999.

Ajatappareng sendiri merupakan suatu wilayah pemerintahan Hindia Belanda yang membawahi lima kerajaan yang saat ini berubah menjadi lima kabupaten/kota yaitu; Kabupaten Pinrang, Sidrap, Enrekang, Barru dan Kota Parepare sebagai pusat kegiatan organisasi wartawan tertua di tanah air.

Mendahului terbentuknya PWI Perwakilan Ajatappareng, Alwi Hamu selaku Ketua PWI Cabang (sekarang-Provinsi) melakukan dua kegiatan besar di luar kota Makassar. “Kedua even ini
menjadi ujicoba teman anggota PWI yang berdomisili wilayah Ajatappareng”, tantang Alwi Hamu pada suatu rapat di pengurus di Sekretaris PWI Sulsel di Jl. AP. Pettarani dengan sengaja mengundang wartawan anggota biasa dari Parepare tahun 1997.

Kedua kegiatan tersebut yakni; (1)
Rapat Kerja (Raker) Pengurus PWI Provinsi Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di kota Parepare akhir tahun 1997. (2) Pekan Olah Raga Wartawan Daerah (PORWARDA) pertengahan tahun 1998. Alhamdulillah, kedua kegiatan tersebut terlaksana dengan baik, aman dan sukses.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *