Sodiq Dibalik Gelar Ustaz ‘Pencabut Nyawa’ di Parepare

  • Whatsapp

Opini negatif ditujukan kepada Ustaz Sodiq Asli Umar. Dari sebagian orang, bahkan rekannya sendiri. Pria bertubuh gempal itu dicap sebagai ustaz ‘pencabut nyawa’. Ini karena tertempel di benak orang, Sodiq bila menjenguk orang sakit, maka kematian sudah dekat. Doa-doa yang dipanjatkan disebut mempercepat kematian. Padahal, tak ada yang lepas dari kematian. Tak ada yang bisa sembunyi, karena sebuah kepastian.

Laporan: Rachmat Ariadi

Sodiq merasakan itu.  “Sebagian warga Parepare memberi saya gelar ustaz pencabut nyawa.,” ujarnya sambil tertawa lepas di salah satu warung kopi (warkop) di Parepare, Kamis, 7 Januari 2021. Ia tak pernah permasalahkan gelar yang diberikan warga kepadanya. Menurutnya, itu merupakan salah satu risiko. Bahkan ada yang lebih sadis.

Sodiq menceritakan, tak jarang beberapa warga menutup pintu rumahnya saat diundang mendoakan orang sakit. “Sering sekali. Pernah ada salah seorang warga Parepare yang sakit, pas saya datang, keluarganya menutup pintu. Katanya kalau saya datang keluarganya meninggal. Padahal kematian itu takdir Allah,” tuturnya.

Padahal, kata Sodiq dirinya hanya ingin mendoakan warga tersebut agar diangkat penyakitnya. “Saya hanya mendoakan agar orang diangkat penyakitnya, dan dilancarkan sakaratul mautnya. Tapi orang sudah berpendapat lain,” tutur Kasi Pengaduan Sintap Parepare ini. “Bahkan, ada teman aparatur sipil negara (ASN) pernah tanya saya, kalau dia sakit tidak usah dikunjungi,” lanjutnya.

Sodiq mengungkapkan, setiap harinya dirinya sering mendapatkan panggilan dari warga untuk mendoakan orang sakit dan meninggal hingga tiga kali dalam sehari. Ia juga sering mendapatkan panggilan dari rumah sakit untuk mendoakan pasien Covid-19 yang meninggal dunia. “Paling banyak 3 warga dalam sehari. Sering juga dipanggil di rumah sakit. Kalau pasien Covid-19, saya hanya mendoakan secara virtual. Tidak kontak langsung,” ungkapnya.

Ketua LazisnNu Parepare ini membeberkan, beberapa ciri-ciri orang yang sudah dekat dengan ajal. Di antaranya, mata hitam sudah naik ke atas, hidung miring, kuku tangan dan kaki berwarna hitam. “Dari beberapa pengalaman ini, biasanya orang meninggal itu tidak jauh dari kelahirannya. Bagi laki-laki juga sering menyentuh alat kelamin, dan mata hitam menghadap ke atas,” beber Sodiq. (*/lim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *