Miris, Bumil Ditandu 12 KM untuk Peroleh Layanan Kesehatan di Polman

  • Whatsapp

PAREPOS.CO.ID,POLMAN — Kondisi infrastruktur yang kurang memadai menuju ketempat fasilitas kesehatan di Desa Lenggo Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Kembali mencuri perhatian sejumlah pihak. Seorang ibu hamil (Bumil) bernama Nurmi (40), terpaksa ditandu sejauh 12 kilometer hanya untuk mendapat pertolongan persalinan di Puskesmas terdekat di wilayahnya.

Bacaan Lainnya

Ibu Rumah tangga tersebut itu ditandu melewati kawasan hutan dan sungai, karena kampung halamannya belum dijangkau kendaraan roda empat lantaran buruknya akses jalan. Perjuangan warga, membawa Nurmi ke Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan terekam kamera warga dan telah beredar luas di media sosial.

Dalam video tersebut, terlihat Nurmi ditandu menggunakan dua potong bambu. Nurmi duduk pada dua kursi plastik yang disusun memanjang menjadi satu. Untuk memberi rasa nyaman, pada bagian belakang diberi sandaran dari kasur. Sesekali warga berhenti, untuk beristirahat, sembari memeriksa cairan infus yang dipasang di tubuh Nurmi.

Salah satu warga Desa Lenggo yang ikut menandu Nurmi, Habibi menuturkan bahwa apa yang dilakukan warga ini adalah upaya untuk menyelamatkan warga yang tengah hamil dan hendak melahirkan. “Ibu ini terpaksa ditandu karena akses jalan buruk dan rusak. Kendaran roda empat tidak boleh melewati jalan ini. Kami menandu Mama Inu sapaan Nurmi untuk menuju Puskesmas karena dia mau melahirkan, sudah dua hari dirumah merasakan kesakitan sebab anaknya belum mau keluar-keluar. Dalam perjalanan itu kami tempuh kurang lebih selama empat jam,”jelasnya. ” Kami itu start jam 05.00 wita subuh dari Lenggo, dan tiba di Puskesmas Bulo Jam 09.00 wita pagi, ‚Äú ungkap Habibi, Rabu 13 Januari 2021.

Ia menambahkan, Nurmi ditandu lantaran harus segera mendapat pertolongan untuk dioperasi caesar karena tidak bisa melahirkan secara normal. Pasien saat ini sudah berada di Rumah Sakit Umum Polewali, dan masih dalam ruangan operasi. Sulitnya kendaraan menjangkau kampung halamannya, kata Habibi, karena akses jalan yang buruk, juga karena tidak adanya jembatan penghubung. “Sebenarnya jaraknya itu jalan yang rusak ada 9 kilometer yang belum bisa (dijangkau kendaraan) dan juga jembatan tidak ada, jadi akses sangat sulit,”ungkap Habibi.

Mewakili warga lainnya, lanjut Habibie, berharap dengan buruknya kondisi jalan menuju kampung halamannya untuk segera mendapat perhatian pemerintah daerah. Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, dan ini sudah kesekian kalinya terjadi.

Sementara itu, Camat Bulo Muh Danas mengungkapkan, pemerintah pernah melakukan upaya perbaikan jalan menuju Desa Lenggo. Perbaikan jalan dihentikan karena dianggap melanggar kawasan hutan. ” Perhatian pemerintah itu sudah ada dengan adanya perbaikan jalan menuju Lenggo, itulah yang terhambat karena dianggap kawasan hutan lindung yang diklaim kehutanan. Jadi dihentikan,”singkatnya.(win/B)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *