Menyelamatkan Lingkungan di Surga Snorkeling

  • Whatsapp
Menyelamatkan Lingkungan di Surga Snorkeling

PAREPOS.CO.ID, POLMAN- Asri dan memesona. Saat menyusuri Gonda Mangrove Park di Dusun Gonda, Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat. Tempat ini masih dikunjungi wisatawan. Di masa pandemik Covid-19. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Alasannya sederhana. Suasana sejuk dan keindahan hutan bakaunya. Dan pengunjung yang suka snorkeling bisa menyaksikan biota bawah laut dengan barisan terumbu karang yang menakjubkan.

Wisata mangrove di Desa Laliko seluas 30 hektare. Ekosistem mangrove membuatnya tampak hijau dan natural. Ditumbuhi sedikitnya 17 jenis mangrove.
Pengelola Gonda Mangrove Park, Ashari Sarmedi mengaku, pada Tahun 2014, bersama masyarakat fokus pada rehabilitasi tanaman mangrove. Untuk menghindari abrasi pantai. Namun melihat potensi lautnya, pada Tahun 2015, masyarakat mengusulkan untuk dikelola, dijadikan destinasi wisata. Agar dikembangkan.

Ashari yang  kini Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Laliko pun mencobanya. Ternyata memang menarik. Sebab mulai banyak dikunjungi. Pengelolaannya pun terus dikembangkan. Melibatkan  pemerintah dan swasta. “Pada Tahun 2015, sehari ada ratusan pengunjung melakukan  snorkeling.  Kalau di Sulawesi Barat, terumbu karang di sini boleh dikatakan yang terbaik. Sehingga menjadi ‘surga’ snorkeling,” ungkap Ashari.

Sahabat Pesisir Polman pun dipercaya mengelola dan mengembangkan. Didukung pilar lingkungan Astra. Dan Ashari dipercaya menjadi Ketua Komunitas Sahabat Pesisir. Sebab ia adalah penggiat budaya dan wisata Mandar. “Rencana akan dikembangkan diving. Kita akan siapkan fasilitasnya,” ujarnya.

Snorkeling dan diving adalah penyelaman yang berbeda. Biasanya snorkeling dilakukan di permukaan air dengan kedalaman 1-3 meter. Sedangkan diving bisa dilakukan di kedalaman 200 – 300 meter atau bahkan lebih.

Beralasan. Sebab Gonda Mangrove Park memiliki beragam biota laut. Berbagai jenis ikan yang bermain di terumbu karang. Jenisnya ratusan. Belum lagi ombak yang bersahabat. Tak terlalu bising saat menghempas pantai. Makanya, tempat ini menyajikan panorama laut yang indah.

Hanya saja di tengah pandemik Covid-19,  Ashari menyebut, Gonda Mangrove Park tidak lagi beroperasi seperti sebelumnya. Paling yang berkunjung hanya untuk selfie. Di beberapa gazebo yang tersedia di sana.

Makanya, promosi akan digencarkan. Sehingga pada 2021 diharapkan akan ramai dikunjungi. Tentu dengan protokol kesehatan ketat. Promosi sangat diperlukan. Apalagi ke depan akan mengembangkan destinasi wisata desa yang mencakup  beberapa item. Seperti Pantai Labuang, Gonda Mangrove dan Marimin Park.  Makanya, menurut Ashari, jalan menuju ke objek wisata diperlebar.

Tujuannya, agar akses menuju lokasi yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat perdagangan di Kabupaten Polman, Kecamatan Wonomulyo, lancar. Agar pengunjung nyaman menikmati perjalanan sekira 700 meter dari jalan poros Polman-Mamuju (Ibukota Sulawesi Barat).

Sebab menurut Ashari, pengunjung tak hanya berwisata. Juga diberi edukasi lingkungan dari komunitas Sahabat Pesisir. Kalau mau, diajak menanam mangrove. Sebagai bentuk kepedulian menjaga keseimbangan lingkungan.
Pemerintah daerah sendiri mendukung pengembangan wisata di Desa Laliko. Plt Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan olahraga (Dispop) Polman,  Januari, mengaku pembenahan sarana dan prasarana mesti dilakukan di Gonda Mangrove Park.

Apalagi daerah itu masuk dalam program Kampung Berseri Astra (KBA). Di mana salah satu kontribusi sosial berkelanjutan yang diimplementasikan kepada masyarakat adalah lingkungan. Selain pendidikan, kewirausahaan dan kesehatan. Dan Gonda Mangrove Park masuk dalam dua kategori. Kampung wisata dan kampung hijau. Kampung wisata KBA merupakan kampung yang menawarkan suasana yang mencerminkan keaslian perkampungan. Baik kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat dan keseharian.

Sedangkan kampung hijau adalah perkampungan yang memiliki lingkungan hijau yang asri dan sehat, serta menerapkan program pelestarian fungsi lingkungan. Baik pada komponen lingkungan (biotik dan abiotik) maupun komponen sosial ekonomi, pendidikan dan budaya serta kesehatan masyarakat.(*/lim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *