Hikmah dari Niat Merobohkan Rumah dengan Ekskavator, H Ibrahim Yakin Wakafkan ke Panti Asuhan Hidayatullah

  • Whatsapp
Hikmah dari Niat Merobohkan Rumah dengan Ekskavator, H Ibrahim Yakin Wakafkan ke Panti Asuhan Hidayatullah

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Selalu ada hikmah di balik setiap masalah, kiasan kata orang bijak tersebut bisa dialamatkan atas perseteruan dalam keluarga besar Pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Soreang, H Abd Mukti Rachim dengan putranya sendiri H Ibrahim Mukti. Ketimbang mengutuk atau pun berujung pada proses hukum yang tak kunjung tuntas. Hingga keegoaan yang melupakan pentingnya menjaga silaturahmi dalam internal keluarga di masa tua.

Dua putra dari pasangan H Abd Mukti Rachim dan Hj Naimah Pakkere yakni H Mukhtar Mukti dan H Ibrahim Mukti, Sabtu 19 Desember, mengambil sikap atas perseteruan tersebut dengan menghibahkan rumah yang kerap dipersoalkan ayah kandungnya kepada pihak Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah. Hal itu dilakukan setelah, Jumat 18 Desember, H Abd Mukti Rachim yang tak lain ayah kandung keduanya mendatangkan ekskavator atau alat berat yang terangkai dari sebuah batang atau lengan, tongkat atau boom serta alat keruk dan digerakkan oleh tenaga hidrolis yang dimotori dengan mesin diesel dan berada
di atas roda rantai.

Bacaan Lainnya

Kendaraan besi tersebut sengaja didatangkan dari Kota Makassar, bertujuan untuk merobohkan rumah yang telah didiami putranya H Ibrahim Mukti selama bertahun-tahun dengan keluarga kecilnya. Dalam insiden tersebut, putra tertua dari kedua pasangan tersebut, H Mukhtar Mukti tak mampu membendung rasa kepedihannya dengan melontarkan kalimat-kalimat yang menunjukan rasa sedih atas perseteruan tersebut.

Terlebih, melihat tingkah laku dari ayahnya sendiri H Abd Mukti Rachim yang bersikukuh dengan sengaja mendatangkan ekskavator untuk merubuhkan rumah adiknya. ” Anakmu ini (H ibrahim-red) sungguh sudah bapak berikan rumah ini, sayalah diantaranya saksinya selain om dan tante lainnya. Lagian sayalah ketika itu tahun 1990 mengambil inisiatif atas lahan tanah tersebut, dan mengajukan untuk disetifikatkn atas nama ibu Hj Naimah demi investasi keluarga,”jelasnya.
” Sekarang sudah saatnya lebih baik bunuh saya dengan alat itu. Dari pada rumah itu dihancurkan dengan sia-sia,” lantangnya dalam teriakannya sambil menghalangi eskavator yang hendak merobohkan rumah tersebut.

Lebih jauh, H Mukhtar mengingatkan, kepada ayahnya jika seharusnya sudah sadar dengan umur yang setua ini. ” Untuk apa harta yang selalu mau diperdebatkan, toh itu tidak dibawa mati. Bapak bersumpah di pengadilan diatasnya ada Al-Quran sungguh sedih, dengan mulut yang tidak sejalan dengan hatinya. Dan nantinya akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak,”imbuhnya. “Saya sungguh malu bapak, waktu di pengadilan pakai kursi roda, sementara sekarang bapak pertontonkan disemua orang tidak menggunakan kursi roda. Artinya bapak telah membohongi publik di ruang pengadilan,”tegas H Mukhtar ditengah guyuran hujan deras.

H Mukhtar Mukti adalah anak tertua laki-laki dari 7 bersaudara dari pasangan H Abd Mukti Rachim dan Hj Naimah Pakkere yang kini tinggal di Kota Bandung, Jawa Barat. Dia mengakui, jika aib dari keluarga besarnya adalah akibat sebuah keserakahan dari orang-orang yang tak memahami arti dari pentingnya menjaga silaturahmi dan keutuhan keluarga. ” Kami sebagai anak bersyukur, karena insiden pembongkaran itu batal dilakukan. Hanya pagar yang dirusak,”jelasnya kepada PAREPOS Online, kemarin.

Dan sebuah hikmah atas perseteruan keluarga yang merupakan aib besar. “Siapa yang tak mengenal orang tua kami di Kota Parepare. Disinilah titik
dari rasa malu, dimana seharusnya sebagai orang tua yang kami pedomani tak melakukan hal sejauh ini,”sedihnya. Sebuah kesukuran, kata H Mukhtar, keinginan untuk mewakafkan rumah ini kepada panti asuhan hidayatullah mendapatkan hidayah.

Terlebih dalam kejadian, Jumat 18 Desember, hujan deras mewarnai langkah kurang bijak dari pihak-pihak yang terus memprovokasi orang tua kami. “Saat ini rumah yang selama puluhan tahun ditinggali H Ibrahim Mukti sudah mulai dibongkar, itu pun selain melibatkan anak panti asuhan juga masyarakat sekitar yang iba akan kondisi ini,”ungkapnya. Namun, kondisi ini diyakini keduanya tak akan berlangsung lama. Sebuah skenario lain, akan dilakukan orang tuanya itu selama orang-orang yang terus menghasut tak mencapai tujuan dari keserakahannya.

Harapan Pengacara

Makmur Raona sebagai salah satu pengacara hukum dari H Ibrahim Mukti yang akrab disapa H Aco menuturkan, dengan kondisi yang terjadi selama ini atas perseteruan yang telah menjadi konsumsi publik. “Saya kira dengan kondisi yang sebenarnya terjadi, klien kami sebagai anak tak ingin memperpanjang perseteruan. Dan publik harus memahami jika ini bukanlah perseteruan antara anak dan bapak, namun ini menyangkut hak yang melekat pada masing-masing subjek hukum,”ujar pria berperawakan gempal berkulit hitam tersebut.

Selaku pengacara hukum, jika situasi kolindown atau kundusif tentunya tak akan berbuat apa-apa. “Sepanjang orang tua itu tak melakukan hal-hal yang sifatnya memaksa atas kehartabendaan atas klien kami. Kami hanya berharap perseteruan ini tak berlangsung lama. Dan sebenarnya perseteruan ini
bukan antara bapak dan anak, tapi ada pihak-pihak yang mendorong orang tua ini melakukan hal demikian,”jelasnya.

Makmur Raona berharap agar persoalan ini dihentikan, jangan sampai opini-opini dari konsumsi publik yang terjadi selama ini kian berdampak pada keluarga besar H Mukti Rachim. “Kami melakukan pendampingan, sebagai orang profesional tentunya berharap tak ada sengketa yang terjadi
selanjutnya atau akan datang. Untuk pengacara hukum di pihak H Abd Mukti Rachman agar kiranya memperhatikan segi hukum yang ditanganinya. Justru disinilah profesi kita ditunjukan lebih dari pada sebuah ibadah,” tutupnya.(*/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *