Hukum dan Kriminal

Pengrusakan Berbuntut Panjang, Polisi Pasang Police Line

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Perseteruan pada kasus penyerobotan dan pengerusakan pagar yang berujung pada proses hukum antara Pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Soreang, Abd Mukti Rachim dengan putranya sendiri H Ibrahim Mukti, hingga kini tak berkesudahan. Walaupun, H Ibrahim Mukti telah menjalani hukuman dari perbuatannya dan di jalaninya dengan lapang dada. Permasalahan baru kembali terjadi, berawal dari dua kali surat somasi H Abd Mukti Rachim kepada putranya yang ditindaklanjuti H Ibrahim Mukti dengan niat baik mengosongkan rumah yang telah ditinggalinya selama kurang lebih 27 tahun.

Setelah pengosongan dilakukan, H Abd Mukti Rachim bersama putri tertuanya, Hj Neni melakukan pengrusakan pada rumah dan gudang yang berujung pemasangan garis police line oleh pihak kepolisian resort (Polres) Parepare. Saat pembongkaran itu, H Abd Mukti Rachim bersikukuh bersama putrinya Hj Neni untuk membongkar rumah tersebut. “Ini rumah saya, mau bongkar untuk pengembangan SPBU, mengapa ada yang ikut campur,” ujar H Abd Mukti, Kamis, 12 November, lalu.

Terpisah, Kuasa Hukum H Ibrahim Mukti, Muh H Y Rendi SH mengatakan, sebenarnya kliennya sudah tidak mempersoalkan rumah kayu tersebut. Namun, kiranya dilakukan dengan cara yang baik agar keadaan keluarga kembali kondusif. ” Klien kami sangat berharap agar rumah tersebut jangan dibongkar. Pasalnya, ada sejarah yang terjadi di dalam rumah tersebut,”katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan H Abdul Mukti Rachim beserta putrinya Hj Neni adalah keliru, karena kliennya menempati rumah tersebut bukan suatu yang melanggar hukum. “Klien kami sangat berharap agarkiranya rumah itu jangan dibongkar. Kalaupun mau digunakan, bisa untuk banyak orang, seperti untuk karyawan SPBU. Atau menjadi Rumah Hafiz Quran, bahkan anggarannya siap ditanggungnya,”jelasnya.

Perusakan dan Pencurian

Pemasangan garis polisi atau police line dilakukan pihak kepolisian. Kuasa Hukum H Ibrahim Mukti, Muh H Y Rendi SH menjelaskan, pemasangan tersebut dilakukan pihak penyidik kepolisian berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/398/XI/TUK.7.1.3/2020/Polda Sulsel/Res.Parepare pertanggal 12 November 2020. Pelapor dalam kasus ini adalah H Ibrahim Mukti dengan perkara kekerasan secara bersama-sama terhadap barang.

Terlapor yakni, Laciming (45) karyawan SPBU Soreang bersama lima orang rekannya. Dimana, Pasal 170 ayat (1) KUHP menyebutkan bahwa arangsiapa yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan penjara.

Selain itu, ada satu orang lagi yang menyuruh melakukan pembongkaran atau tindak kejahatan. Pelakunya tak lain adalah anak tertua dari H Abd Mukti Rachim bernama Hj Neni yang kini tinggal di Surabaya, Jawa Timur.  “Jadi dalam konteks kasus pidana ada yang langsung melakukan atau eksekutor dan orang yang menyuruh melakukan. Dan bisa dikenakan pasal 55 turut serta melakukan,”jelasnya.

Berdasarkan pasal 55 KUHP seseorang dapat di Pidana sebagai pelaku tindak pidana, karena mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan. Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Seharusnya, kata Rendi, Hj Neni selaku anak tertua memberikan nasehat kepada orang tuanya bukan malah sebaliknya. “Harusnya dia melakukan hal itu selaku kakak yang baik, bukan ikut memprovokasi,”jelasnya. Saat ini pihak penyidik kepolisian sudah melakukan penyidikan dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. “Rencananya, Selasa 24 November, akan dilakukan pemanggilan kepada pihak-pihak yang melakukan pengrusakan,”jelasnya.

Ada dua pengrusakan dilakukan mulai tanggal 1 November terhadap gudang pada bagian dinding dan atap. Dan tanggal 12 November terhadap jendela rumah rumah. “Kasus ini sebenarnya nyata karena gudang itu tak ada sangkut pautnya dengan orang tua H Ibrahim. Parahnya lagi, barang bukti tersebut raib entah kemana, ini bisa masuk tindak pidana pencurian”jelasnya.

Ditambahkannya, pelaporan terhadap pengrusakan dan pencurian atas properti tersebut, klienya memiliki hak. “H Ibrahim memiliki hak atas properti yang dirusak itu, karena dia yang merubah serta merenovasi rumah tersebut. Itu rumah tidak seperti itu sebelumnya,”jelasnya.(*/ade)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRENDING

To Top