Pemakaman Maradona Diwarnai Gas Air Mata

  • Whatsapp

PAREPOS.CO.ID, SAN ANDRES – Jenazah Diego Armando Maradona telah dimakamkan di pemakaman pribadi. Proses pemakaman sang dewa sepakbola pun, hanya diikuti oleh sekitar dua puluhan orang kerabat dan teman dekat.

Dilaporkan BBC, sempat terjadi ketegangan antara para pelayat dengan aparat kepolisian saat pemakaman. Para aparat dipakaa untuk menembakan gas air mata dan peluru karet terhadap pelayat yang ingin mengucapkan salam perpisahan terhadap sang idola.

Diego Armando Maradona

“Awalnya kami tengah berbaris dengan rapi, namun tiba-tiba aparat mulai menembakan peluru karet. Situasinya berubah menjadi gila. Padahal saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada Diego (Maradona),” kata salah satu pelawat bernama Ruben Hernandez, saat diwawancarai Reuters, yang dikutip FIN, Jumat 27 Nopember, kemarin.

Usai masa yang memenuhi jalan berhasil dikendalikan, rombongan rumah duka pun memasuki area pemakaman Bella Vista, yang terletak di pinggiran Ibu Kota negara tersebut. Pemilik gol ‘Tangan Tuhan’ itu kemudian dimakamkan, tepat di sebelah makam kedua orangtuanya. Di luar, massa yang berkerumun untuk memasuki area pemakanan melantunkan nyanyian dan iringan doa.

Diketahui, jika pria yang sempat merayakan ulang tahun ke-60 itu, sempat berkata jika meninggal nanti, jasadnya ingin diawetkan dan dipamerkan di depan umum.

“Saat muncul ide untuk membuat patung dirinya, dia berkata: ‘Tidak, saya ingin mereka membalsem (mengawetkan) saya’,” ungkap jurnalis Argentina, Martin Arevalo yang merupakan teman dekat Maradona kepada TyC sports, seperti dikutip Reuters.

Bukan hanya Arevalo, pengacara maradona, Matias Morla juga mengetahui ide tersebut. Morla bahkan meminta Maradona untuk meresmikan permintaannya dengan notaris, dan telah dilakukan pada 13 Oktober lalu.

Namun, tak ada pernyataan resmi soal pengawetan jenazah Maradona dari keluarga. Kini jenazah Maradona telah dikebumikan di pemakaman Bella Vista, Buenos Aires, Argentina, pada Kamis petang kemarin.

Dalam sejarah Argentina, menurut laporan Marca, hanya terdapat tiga orang yang jenazahnya diawetkan. Mereka adalah mantan jenderal militer Jose de San Martin, dan mantan presiden Argentina Juan Domingo Peron dan istrinya.

Napoli Ubah Nama Stadion

Sementara di Napoli, Italia, para fans berkerumun di depan markas klub, meneriakan nama “Diego, Diego!” untuk menghomati sang pemain. Bersama Napoli, Maradona berhasil mencetak total 81 gol dari 188 penampilannya, bersama tim Serie A itu. Tidak hanya itu, dua gelar Scudetto pun dipersembahkan sang pemain, untuk musim 1986/87 dan 1989/90. Gelar lain seperti satu kali juara Coppa Italia, UEFA Cup dan Supercppa Italiana, dipersembahkan dalam kurun waktu empat musimnya di sana.

Usai kematian Maradona, walikota Naples Luigi De Magistris menyarankan Napoli untuk mengganti nama stadion mereka, dari San Paolo menjadi Stadion Diego Maradona. Dalam akun media sosialnya, Sang walikota berjanji akan mewujudkan ucapannya sebagai bentuk rasa hormat yang teramat dalam.

“Kami akan (mengganti nama) Stadio San Paolo, untuk menghormati Diego Armando Maradona. Maradona adalah pesepak bola terbaik sepanjang masa, kini ia telah berpulang. Dia sudah berjasa pada Napoli (dua gelar Serie A), dia adalah jenius sepak bola,” kata Luigi De Magistris dalam akun media sosial yang dikutip Goal.

Sebelum ke Italia, pemain yang dikenal dengan dribel mematikan itu, sudah duluan berprestasi bersama Spanyol. Bermain untuk Barcelona, pemilik nomor 10 itu sempat mencicipi tiga gelar besama rival Real Madrid itu. Copa del Rey (1982/83), Copda de la Liga (1983) dan Supercopa de Aspana (1983) adalah yang dipersembahkannya untuk Blaugrana.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *