Panen Raya di Desa Bumiayu, Mentan: 90 Persen Kedelai untuk Tempe Tahu

  • Whatsapp
Panen Raya di Desa Bumiayu, Mentan: 90 Persen Kedelai untuk Tempe Tahu

PAREPOS.CO.ID,POLMAN — Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam kunjungannya di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Didampingi Gurbenur Sulbar, Ali Baal Masdar (ABM) dan Bupati Polewali Mandar (Polman), Andi Ibrahim Masdar (AIM) melaksanakan panen raya komoditas kedelai di Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo, Rabu 4 November 2020.

Panen raya kedelai di lokasi tersebut merupakan upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dengan dukungan pemerintah daerah untuk menyokong ketahanan pangan nasional. Mentan Syahrul menyatakan, penyediaan kedelai dalam jumlah mencukupi sangat penting sebagai bahan pangan bergizi bagi masyarakat, dan terkait hal tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai stakeholder ditengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Bacaan Lainnya

“Untuk 273 juta penduduk Indonesia, kita harus produksi sebanyak banyaknya, dan kebutuhan kedelai itu 2 sampai 3 juta ton. Orang di pulau Jawa tidak bisa makan tanpa tahu dan tempe. Sekarang kita banyak dipenuhi oleh impor, sementara di luar sana juga takut kehilangan sumberdayanya. Jadi kita tanam kedelai sekarang biar kita tahun depan kecukupan kedelai.” ungkap Mentan saat memberikan sambutan.

Kebutuhan kedelai sendiri untuk satu tahun sebanyak 90% untuk tempe tahu, 5% untuk kecap, yoghurt dan produk makanan lain. Kendala saat ini benih kedelai bersertifikat terbatas dan sebagian besar terkonsentrasi di Jawa dengan masa kadaluarsa benih pendek sekitar 4 bulan, dan ini butuh dukungan dari daerah yang memiliki potensi untuk dilakukan pengembangan produksi kedelai.

Guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, saat ini Kementan melakukan pemberian bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, serta mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster.

Bentuk komitmen Kementan tahun ini dikembangkan bantuan budidaya kedelai seluas 500 hektare di Polman. Mentan pun memerintahkan jajaran dibawahnya agar mendampingi produksi pertanaman dengan menjaga kualitas bibit tanaman yang terbaik. “Ditjen Tanaman Pangan, ganti bibit di sini (untuk seluruh komoditas) 1.000 hektare bibit ya, mau padi, jagung, kedelai, nanti Bupati yang bantu aturnya mau dikasih kemana bibit ini,” perintah Mentan SYL kepada Direktur Akabi Ditjen Tanaman Pangan.

Data panen Kedelai Provinsi Sulawesi Barat tahun 2019 lalu tedapat luas tanam sebesar 16.158 Ha dengan produksi 28.800 ton biji kering, dengan produktivitas sekitar 1,7 Ton/Ha.
Untuk itu, Mentan menyampaikan perlu adanya pengembangan varietas benih yang provitasnya lebih tinggi lagi. “Pengembangan varietas benih provitas di atas 3 ton per hektar, dengan kunci pengembangan kedelai ada di aspek benih dan harga. Seluruh benih unggul yang ada di Litbang Kementan harus disalurkan untuk peningkatan produksi.” pungkasnya.(win/B)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *