Limbah Covid, RSAM Libatkan Rekanan dari Makassar dan Jakarta

  • Whatsapp
Limbah Covid, RSAM Libatkan Rekanan dari Makassar dan Jakarta

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Rumah Sakit Andi Makkasau (RSAM) Parepare tak mampu memusnahkan limbah Covid-19. Yang telah digunakan tenaga kesehatan dan pasien. Meski rumah sakit rujukan ini memiliki wadah pembakaran sampah atau insinerator. Insinerator biasanya dipakai untuk membakar limbah medis. Sebelum dikemas dalam wadah berlabel bahan berbahaya dan beracun (B3).

Untuk limbah medis penanganan COVID-19 yang dimusnahkan antara lain, alat bekas tes swab, rapid test, alat makan pasien COVID-19, alat pelindung diri (APD) tenaga kesehatan, masker, dan lainnya. Dalam pemusnahan limbah itu, pihak RS Andi Makkasau harus melibatkan rekanan. Dari Makassar dan Jakarta.

Bacaan Lainnya

Sebab, menurut Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi RS Andi Makkasau, Mukarramah, insinerator mengelola dan memusnahkan limbah sudah tak memenuhi standar.
Yang dilibatkan adalah PT Mitra Hijau Asia Makassar sebagai perusahaan pengumpul sekaligus mengangkut limbah. Sementara PT Wastec International Jakarta sebagai perusahaan yang memusnahkan limbah. “Seandainya ada izin insinerator itu maka kita bakar di sini. Nanti residunya (ampas) dipihakketigakan,” kata Mukarramah.

Ia mengklaim limbah khusus Covid-19 yang diangkut telah melalui tahap sterilisasi dari rumah sakit. “Limbah sudah terpisah di ruangan. Ada sampah medis dan sampah infeksius. Sampah infeksius disemprot disinfektan dulu baru dikeluarkan. Setelah keluar disemprot lagi,” ungkap Mukarramah, Kamis 22 Oktober. Selanjutnya, limbah infeksius itu diletakkan ke tempat penyimpanan sampah (TPS) di area RS untuk sementara. Sambil menunggu mobil pengangkut dari PT Mitra Hijau. “Biasanya limbah Covid-19 diangkut dua kali sepekan,” terangnya.

PT Mitra Hijau dan PT Wastec disebutkan memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam mengolah limbah B3. Mukarramah mengungkapkan, limbah khusus infeksius Covid-19 pada Juli 686,63 kilogram, Agustus 369,76 kilogram dan September 432,86 kilogram.

Sementara Kepala Seksi Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Parepare, Andi Aminah mengaku telah lakukan pembinaan semua fasilitas pelayanan kesehatan.
Ada tahapan pengelolaan limbah Covid-19 di rumah sakit berdasarkan surat edaran nomor SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
Yaitu melakukan penyimpanan limbah dalam kemasan tertutup, paling lama 2 hari sejak dihasilkan.
Lalu mengangkut atau memusnahkan pada pengelolaan limbah B3, meliputi fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat celsius.

Autoclave yang dilengkapi dengan pencacah. Kemudian, residu hasil pembakaran atau cacahan hasil autoclave dikemas dan dilekatkan simbol beracun, atau label limbahB3. Selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan sementara limbah, dan diserahkan ke pengelola B3. (esa/A)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *