Style dan Keren

Pulau Bakki dengan Aura Mistis Tersembunyi Tawarkan Keindahan Bawah Laut

Pengunjung Pulau Bakki berswafoto

PAREPOS.CO.ID,BARRU– Wilayah Kabupaten Barru yang memiliki 13 pulau-pulau kecil memiliki potensi alam yang menjanjikan sebagai tujuan objek wisata. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, kondisi pulau yang mulai memprihatinkan dengan berbagai pengrusakan habitat laut seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Salah satu yang ditawarkan para pemerhati lingkungan adalah menjadikan pulau tersebut sebagai objek ekowisata dimana memiliki manfaat seperti konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, menghormati kepercayaan masyarakat setempat, dan pendidikan lingkungan.

Salah satunya adalah Pulau Bakki yang berada diwilayah Lingkungan Jalangge, Kelurahan Mallawa, Kecamatan Mallusetasi. Pulau Bakki yang bisa ditempuh sekitar 10 hingga 15 menit baik dari wilayah Lingkungan Jalangge maupun Desa Kupa, memiliki luas sekitar 4 hektare. Pulau yang menawarkan keindahan alami bawah laut. Namun potensi itu belum tergali secara optimal, terlebih pulau ini ternyata dikelola oleh pihak kedua dengan segala kekurangannya.

Salah satu penjaga Pulau Bakki, Heri yang ditemui, Minggu 2 Agustus, bercerita panjang lebar terkait kondisi pulau yang dijaganya atas perintah pengelola pulau tersebut yakni Petta Wawo. “Yang kelola ini Pulau Bakki adalah Petta Wawo, termasuk bangunan berupa dua tempat penginapan (rumah kayu-red) dan tempat istirahat. Serta sebuah dermaga yang dibangun pemerintah,”katanya.

Pulau Bakki ini dulunya adalah milik keluarga Petta Wawo yang merupakan pejabat di wilayah Kabupaten Barru. Kondisi pulau yang konon memiliki aura mistis yang lumayan kuat, menjadi salah satu alasan belum dimanfaatkannya pulau yang memiliki sumber mata air tawar tersebut. “Dulunya pulau ini memang sedikit angker, tapi mungkin itu dahulu. Sekarang tidak lagi karena buktinya banyak juga oknum masyarakat yang memanfaatkan hal itu dengan merusak ekosistem yang ada disekitar pulau. Disini biasa ada orang membom ikan, bius hingga membuat karang disekitarnya rusak,”jelas Heri.

Kondisi saat ini, kata Heri, banyak pengunjung yang datang baik wisatawan lokal maupun asing. Terkadang, untuk wisatawan lokal memanfaatkannya dengan bermalam dan berkemah. “Kami sebagai penjaga mengharapkan perhatian lebih, utamanya dari pemerintah daerah. Termasuk kesadaran dan peran aktif dari masyarakat setempat tidak melakukan hal-hal negatif seperti mengotori pulau dan merusak habitat disekitarnya,”harapnya.

Ditambahkan Heri, untuk dapat mengunjungi Pulau Bakki dirinya tidak terlalu membebani biaya bagi pengunjung. “Cukup ala kadarnya, terkadang Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu buat anak-anak. Hasilnya itu kami gunakan untuk perawatan pulau ini,”singkatnya. Dari pantauan penulis saat mengunjungi Pulau Bakki dari Desa Kupa, dari kejauhan sudah terlihat hamparan pasir putih tidak begitu halus dan sedikit berbatu. Sisi kanan dan kirinya diapit hutan bakau, dimana kondisi pantainya melandai. Dan sangat mudah dijumpai hamparan terumbu karang luas.

Saat tiba di Pulau Bakki, akan mudah kita jumpat pohon kelapa dan disisi tengah ada sumber air tawar yang bisa digunakan mandi setelah puas berenang. Bukan hanya itu, masyarakat yang tinggal tak jauh dari pulau kerap memanfaatkan waktu datang untuk mencari kerang disaat air laut surut.

Salah satu pemilik kapal yang kerap mengantarkan pengunjung ke Pulau Bakki, Rahmat mengakui, memberikan biaya Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk menyebrang pulau pergi. “Iya, biasanya mereka diantar dan dijemput lagi. Terkadang biayanya antara Rp 50-100 ribu sekali jalan,”ungkap warga Desa Kupa tersebut.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Barru melalui Kadis Pariwisata, A Syarifuddin mengungkapkan, Pulau Bakki merupakan milik pribadi. Namun, selama ini diharapkan dengan potensi alam yang dimilikinya bisa menjadi daya tarik wisata bahari di Kecamatan Mallusetasi. ” Ada dua pulau yang berdekatan diwilayah Mallusetasi dan masing-masing memiliki potensi besar yakni Pulau Bakki dan Dutungan. Walaupun keduanya dikelola swasta,”ujarnya.

Upaya pemerintah dalam mendukung dan mendorong mewujudkan hal itu telah dilakukan. Bentuk support yang dilakukan berupa pembangunan dermaga yang ada di Pulau Bakki, yang merupakan fasilitas dari Dinas Pariwisata Barru. Bukan hanya itu, hadirnya desk center di lingkungan Jalangge yang akan segera difungsikan. ” Adanya upaya ini diharapkan bisa konek dengan dua pulau tersebut, terlebih diantara dua pulau tersebut menawarkan pesona bawah laut yang cukup indah,”katanya.

Potensi daya tariknya, kata A Syarifuddin, snorkeling dan diving bahkan didepan pusat belanja gogos Jalangge itu menurut survei dari UNHAS sangat bagus sekali untuk snorkeling. Dan hingga saat ini kondisinya masih sangat baik.

Ada juga diantara dua pulau tersebut yang bisa dikembangkan sebagai titik singgah yakni omming atau fenomena pasir timbul yang hanya dapat ditemukan saat laut surut dan pada musim bulan terang sebagai spot snorkeling. ” Omming ini tak pernah hilang dan bagus sebagai titik singgah. Ini antara pulau Bakki dan Dutungan,”katanya.

A Syarifuddin pun mengakui telah mengarahkan kepada para pemilik pulau utamanya Pulau Bakki untuk menjadi lokasi wisata bahari yang alami dibandingkan Pulau Dutungan yang lebih lengkap fasilitasnya. ” Kita arahkan untuk menjadi Pulau Bakki yang alami dan dijadikan tempat kemping dan berpetualang,”jelasnya. Ditambahkannya, dukungan pemerintah sudah sangat besar dan itu dibuktikan. ” Bupati Barru ada janji politiknya pada waktu awal terpilih, salah satunya adalah pengembangan Pulau Bakki dan itu sudah dibuktikan,”tutupnya.(*/ade)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRENDING

To Top