Legislator Sulbar Minta Kajian Program Bela Negara di Kampus

  • Whatsapp
Legislator Sulbar Minta Kajian Program Bela Negara di Kampus

PAREPOS.CO.ID,JAKARTA– Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru meminta agar dilakukan kajian lebih mendalam tentang program pendidikan bela negara di kampus terkait kerja sama Kementerian Pertahanan (Kemhan) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Perjelas dulu isi materi serta tujuan dari progam pendidikan bela negara itu seperti apa. Juga perjelas lagi sifatnya wajib atau bagaimana, dan dikaji apakah bertentangan dengan program mereka belajar atau tidak,” kata legislator dari dapil Sulawesi Barat (Sulbar), tersebut beberapa waktu lalu.

Pihak Kemhan menjelaskan bahwa program bela negara itu merupakan upaya pemerintah agar generasi muda saat ini tidak hanya kreatif dan inovatif tetapi juga cinta bangsa dan negara dalam kehidupan sehari-hari. Terkait hal ini Kapoksi Komisi X DPR Fraksi Partai NasDem tersebut sepakat akan perlunya kurikulum pendidikan untuk meningkatkan rasa nasionalisme, namun mempertanyakan waktu pendidikan bela negara yang menyita satu semester dari keseluruhan masa belajar mahasiswa di kampus.

Bacaan Lainnya

“Jika ditanya perlu atau tidak, kembali lagi perlu dilihat dulu tujuan dan isi materinya. Jika tujuannya untuk menumbuhkan atau menguatkan rasa cinta dan kepedulian kepada negara dan menghalau paham radikalisme atau apatisme, rasanya memang perlu. Tetapi daripada mengambil satu semester waktu belajar mahasiswa, bukankah lebih baik pendidikan ini diberikan secara perlahan pada setiap jenjang pendidikan,” tanya Legislator NasDem asal Polewali Mandar (Polman) tersebut.

Wakil Menteri Pertahanan, Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan, mahasiswa peserta program bela negara nantinya dapat secara sukarela bergabung dalam Komponen Cadangan (Komcad) dan bahkan dapat menjadi Perwira Cadangan. Terkait hal ini Ratih kembali menegaskan urgensi dan relevansi dari program pendidikan bela negara/militer tersebut.
“Perlu dilihat kembali relevansinya antara urgensi dari pendidikan bela negara/militer dan kebutuhan mahasiswa itu sendiri. Jadi nanti bisa dikaji manfaat dan urgensinya, terus bisa juga dicari alternatif programnya (kalau ada) untuk mencapai tujuan serupa,” tutupnya.(*/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *