Juara III Nasional, Begini Isi Cerpen Napi di Rutan Sidrap

  • Whatsapp
Juara III Nasional, Begini Isi Cerpen Napi di Rutan Sidrap

PAREPOS.CO.ID, SIDRAP — Warga binaan rutan kelas IIB Sidrap, Risman bin Basri (30) memperoleh juara III lomba membuat cerpen tingkat nasional. Napi asal Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap itu membuat cerpen dengan judul ‘filosofi pohon’.

Napi dengan kasus narkotika itu mengaku meraih juara karena dibimbing salah satu pegawai rutan Sidrap bernama Akmal. Diketahui, Rasman merupakan narapidana kasus narkotika. Dia dijerat lima tahun penjara. Saat ini, dia telah menjalani hukuman satu tahun penjara dan tak mendapatkan remisi 17 Agustus. Berikut isi cerpennya ?

Bacaan Lainnya

FILOSOFI POHON

Tuhan telah menciptakan berbagai macam makhluk yang mengisi kehidupan dunia. Setiap makhluk sekecil apa pun mereka memiliki tujuan dan makna dalam penciptaannya.

Berbagai pelajaran dan makna kehidupan dapat kita raih selama kita ingin membuka mata, hati, dan pikiran kita dalam menyerap setiap inci aspek dari kehidupan setiap makhluk.

Tidak terkecuali tetumbuhan atau pun
pepohonan. Dalam bentuk mereka yang pasif tanpa gerak berbagai pelajaran dan makna hidup dapat kita petik.

Sebuah pohon yang besar pasti diawali oleh sebuah biji atau benih yang kecil dan rapuh. Benih dan biji yang meski pun rapuh tapi adalah bentuk pilihan dan bentuk terbaik dari spesies mereka.

Bibit ini kemudian akan berkembang melengkapi dirinya dengan berbagai organ yang tercipta sebagai produk hasil evolusi dari alam. Bentuk yang dikenal saat ini tidak luput dari tempaan dan bentukan yang memerlukan waktu hingga beribu tahun untuk mencapai fisik yang terbaik yang tampak di mata kita.

Dan ketika tiba saatnya kelak, ia harus meneruskan regenerasi dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, bibit dan biji yang baru akan muncul menggantikan posisi spesies mereka yang telah habis masa hidupnya.

Selayaknya pohon, seorang manusia pun lahir dari pembuahan sel-sel yang tak kasat mata. Sel-sel terbaik dan pilihan yang dalam perjuangan untuk dapat mempertahankan hidup dan menciptakan kehidupan, tidak akan pernah berhenti hingga takdir menyatakan tugas mereka telah usai.

Sel tak kasat mata yang mampu bertahan akan melalui tahap penciptaan kehidupan yang melahirkan bentuk darah, daging, tulang, hingga tersusunlah fisik seorang insan yang sempurna.

Bahkan ketika hidup kita masih hanya bagian dari partikel kecil tak terlihat, kita telah belajar arti berjuang.

Berjuang untuk bertahan, belajar untuk menciptakan, dan belajar untuk menyesuaikan diri.

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana sebuah pohon yang rindang dapat terus tumbuh menjulang ke atas namun tidak melupakan untuk melebarkan jangkauan ranting-rantingnya ke samping.

Jangkauan ranting dan dedaunan yang akan melindungi kehidupan lain yang bernaung di
bawahnya.

Pohon tidak akan pernah bertindak egois untuk hanya tumbuh menjulang memenuhi kebutuhannya akan sinar matahari dan melupakan unsur kehidupan lain yang ada di sekitarnya.

Setiap helai daunnya menciptakan udara yang menjadi unsur utama makhluk hidup lainnya dalam bernafas.

Setiap lembaran daun menciptakan naungan suasana sejuk yang segar dan melahirkan
kenyamanan bagi setiap makhluk.

Bahkan ketika dedaunan itu menguning dan jatuh berguguran, ia masih akan bermanfaat dalam menciptakan kesuburan bagi tanah tempat ini menjejakkan akarnya.

Batang dan dahan yang kokoh nan kuat menjadi tempat sandaran makhluk dari dalam mengistirahatkan dirinya setelah melewati perjuangan panjang dalam siklus kehidupan.

Batang dan dahan yang juga menjadi saksi kelahiran kehidupan-kehidupan lain yang menggantungkan hidup mereka pada sebuah pohon.

Menggantungkan nasib mereka dalam mencari perlindungan dari para pemangsa. Belajar dari filosofi bagian tubuh pada sebuah pohon, sudah selayaknya sebagai seorang insan berakal untuk pandai mempelajari dan mencari hikmah atas penciptaan diri kita dalam kehidupan.

Seorang manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah dalam hidupnya. Ia dituntut untuk mampu hidup layaknya sebuah pohon, berjuang untuk bertahan namun disisi lain memberikan penghidupan dan naungan bagi makhluk lainnya.

Mewujudkan suatu keseimbangan dan keselarasan dalam alam. Lakukan dan kerahkanlah upaya terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup.

Dedikasikan hidup kita dengan penuh keikhlasan untuk bisa berguna dan bermanfaat.

Sebuah pohon tidak akan menunjukkan amarahnya walaupun badai mencoba untuk
merobohkannya Pohon tidak akan membalas akan perlakuan makhluk yang merusaknya bagian tubuhnya.

Pohon tidak pernah melayangkan tanda protes ketika ia dipaku dengan berbagai dekorasi saat kampanye pemilu atau momen-momen seperti 17 Agustus.

Pohon tidak mengenal dendam dan
marah. Bisa saja, ia berhenti mengeluarkan buahnya sebagai tanda penolakan, bisa saja ia memilih untuk mengerdilkan dirinya dan berhenti menaungi makhluk lain sebagai bentuk pembalasan.

Tetapi tidak, sebuah pohon tidak memilih jalan ini. Ia memilih untuk tetap tegar dan kokoh bertahan dengan makna yang ia miliki.
Begitulah seorang manusia seharusnya mempelajari hakikat kesabaran.

Jangan hanya karena gejolak wabah yang terjadi, membuat kita hanya mau menyalahkan keadaan dan tidak berbuat apa-apa.

Jangan hanya karena sebuah sandungan kecil membuat kita mengeluhkan pahitnya kehidupan yang telah dijalani di dunia.

Tidakkah kita pernah sadari bahwa di balik sandungan kecil, atau benturan besar selalu ada hikmah tersembunyi yang harus kita gali.

Hikmah yang tidak akan pernah bisa ditemukan di awa ketika kita baru saja tersandung atau terbentur. Hikmah itu baru akan menampakkan dirinya ketika benturan dan sandungan itu telah kita selesaikan.

Buah yang lahir dari sebuah pohon tidak akan pernah terletak pada ujung pucuk daun teratas.

Buah yang dimiliki sebuah pohon akan ia pasangkan pada sulur yang akan terarah ke bawah mengikuti kehendak gravitasi bumi. Sebuah pohon tidak akan menyembunyikan buahnya dalam titik tengah batangnya.

Bahkan ketika pohon meletakkan buahnya pada akar di dalam tanah, buah itu tidak akan memberi kesulitan berarti ketika akan digali.

Pohon tidak pernah kikir dan memperhitungkan setiap buah yang ia hasilkan dan dipetik oleh makhluk lain.

Ia tidak pernah meminta bayaran untuk setiap buah yang dimakan makhluk lainnya untuk menghilangkan dahaga dan lapar mereka.

Pohon sadar bahwa setiap buah yang dinikmati, memungkinkan generasi dirinya akan lahir dan tumbuh di tempat
yang baru.

Memberikan kehidupan dan naungan di ekosistem yang baru. Sudahkah kita merasa seperti pohon yang mengikhlaskan buahnya untuk dinikmati oleh makhluk lain.

Tidak pernah merasa kikir dan tidak menuntut timbal balik atas setiap perbuatan baik yang kita lakukan dalam hidup.

Tidakkah kita sadar bahwa perbuatan baik sekecil apa pun akan berbalik ke diri kita. Sebaliknya, perbuatan buruk meski hanya sebesar partikel atom sekalipun akan mendapat balasan.

Balasan baik dan buruk ini dapat terjadi secara instan, ataupun menunggu sebuah momen yang tepat sebelum datang menghampiri kita.

What goes around, comes around. Karma, begitulah sebutannya. Sebuah pohon beringin tidak akan melahirkan lumut, sebuah pohon mangga tidak akan menghasilkan benalu. Ini jawaban atas karma baik yang pohon itu lakukan dalam kehidupannya.

Filosofi pohon ini kupelajari setelah memperhatikan berbagai fenomena alam yang di sekitarku.

Keberadaanku di balik jeruji besi penjara membuatku lebih banyak terdiam dan bertafakur dalam memandang kekuasaan Tuhan. Belajar makna dari setiap penciptaan dan tujuan hidup dari setiap
makhluk.

Perenungan-perenungan yang kulakukan membawaku pada momen di mana aku memilih untuk lebih banyak mendengar dan memperhatikan.

Mempelajari setiap fenomena dan pergerakan ciptaannya di alam. Alam memang ditakdirkan untuk menjadi tempat pertama seorang manusia dalam mencari ilmu dan di sinilah aku berada sekarang.

Belajar dan menyerap setiap poin-poin penting kehidupan langsung dari makhluk ciptaan-Nya.(ami/B)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *