20 Tahun PAREPOS, Selamat dari ‘Serangan’ Media Online dan Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
20 Tahun PAREPOS, Selamat dari 'Serangan' Media Online dan Pandemi Covid-19

HARI INI, 18 Agustus 2020, Harian PAREPOS genap berusia 20 tahun. Harian pertama yang terbit di luar Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat ini dapat selamat dari kondisi sulit terutama dari ‘serangan’ Media Online dan Pandemi Covid-19. Bahkan PAREPOS boleh dibilang lahir pada saat krisis ekonomi akibat gejolak politik dalam negeri yang meruntuhkan kekuasaan Rezim Orde Baru pimpinan Presiden RI kedua Soeharto yang melahirkan pemerintahan transisi pimpinan Presiden RI Ketiga Burhanuddin Joesoef (BJ) Habibie, 1998-1999.

Catatan: Ibrahim Manisi                                                                                                                                                                                                                    (Komisari Aktif PAREPOS)

Bacaan Lainnya

Latar Belakang

Pada era pemerintahan transisi yang dimotori Seorang Ilmuan dan teknokrat ulung, Prof BJ Habibie membawa perubahan besar dalam kehidupan demokrasi bangsa Indonesia dalam berbagai lini, termasuk kehidupan Pers. Kondisi ini memicu lahirnya kebebasan tanpa batas. Khususnya pers yang bebas kebablasan. Lalu media cetak, televisi, radio dan media online tumbuh bagai jamur di musim. Bahkan media cetak yang telah dikubur alias dibredel oleh Rezim Orde Baru, hidup kembali. Yang lebih memprihatinkan, saat itu, para Kapitalis melirik bisnis media sebagai lahan ekonomi menjanjikan meski mereka tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman jurnalistik. Lebih miris lagi saat itu, “penjual” ikan pun banyak yang ikutan mendirikan media, terutama media online. Kondisi tersebut mendorong Presiden RI kelahiran Kota Parepare itu mengeluarkan Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pada akhir tahun 1998, Owner Harian FAJAR Makassar H. Muhammad Alwi Hamu bersama H. Syamsu Nur dan H. Andi Syafiuddin Makka mampir di Kantor Biro FAJAR, Jl. Andi Cammi no.45 Parepare. Trio sahabat ini dalam perjalanan untuk menghadiri pembukaan Turnamen Sepak Bala Ajatappareng VIII Habibie Cup Tahun 1988, di Polewali Mamasa (Polmas) sekarang Polewali Mandar (Polman). Pada saat itu, mereka mendiskusikan kemungkinan mendirikan surat kabar harian di Kota Parepare. Kelihatannya saat itu, ketiga petinggi Harian FAJAR Makassar ini sudah sepakat. Lalu memanggil saya. “Anu”, begitu biasa pak Alwi memanggil saya. “Bagamai mana kalau kita dirikan surat kabar harian di sini?”, Tanya pak Alwi.

Mungkin pak Alwi minta pendapat karena saat itu, saya memang masih menjabat Kepala Biro FAJAR Ajatappareng. “Bagus sekali, pak”, jawab saya singkat. “Maksud saya, apa bisa kau jalankan”, jelasnya. “Sanggup pak”, jawab saya spontan. Namun, sial bagi saya, sebab pada saat akan diterbitkan Parepare Pos awal tahun 1999, saya sedang jalani pemeriksaan sebagai saksi di Polda Sulsel untuk suatu kasus. Pada rapat kerja akhir tahun 1998, pak Alwi Hamu kembali mengingatkan saya agar siap-siap menerbitkan Harian Parepare Pos. Pada saat itulah baru saya bisa menyampaikan kendala yang saya hadapi. Dan saya bersyukur karena beliau memahami kondisi saya. “Kalau begitu selesaikan cepat urusannya. Tapi siapa lagi yang bisa kelola ya?”, ujar Alwi rada tanya. Dengan spontan saya usulkan nama Nasri Aboe. “Oh iya betul, ada Nasri Aboe”, ujarnya legah.

Maka terbitlah Harian Parepare Pos pada awal tahun 1999. Namun saya tidak ingat siapa-siapa personilnya. Yang saya ingat, hanya Nasri Aboe sebagai Pemimpin Redaksi dibantu Bahtiar Sairing sebagai Redaktur Pelaksana – sekarang Direktur Harian Radar Bone dan Adam sebagai pemimpin perusahaan. Namun sayangnya karena Parepare Pos hanya berumur 1 tahun. Lalu dinyatakan ditutup pada Rapat Triwulan I tahun 2000. Selanjutnya, seusai rapat triwulan I, pak Alwi memanggil saya. “Bagaimana anu”, begitu biasa Bos FAJAR GRUP itu memanggil saya dan bertanya, “Apa sudah siap terbitkan lagi media di Parepare?”. Mendengar pertanyaan tersebut, saya merasa berutang kepercayaan kepada bapak Alwi Hamu, pak Syamsu Nur dan Andi Syafiuddin Makka yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menghadirkan sebuah koran harian di Kota Parepare pada akhir tahun 1998 lalu.

Untuk itu, saya sambut tawaran tersebut dengan bersemangat. “Insya Allah, sanggup pak, tapi saya usulkan empat syarat,” jawab saya. “Boleh, apa syaratnya?”, ujar bos FAJAR Grup itu balik bertanya. Lalu saya jelaskan keempat syarat tersebut sbb; (1) Ganti nama PT Ajatappareng Pres. Lalu pak Alwi mengganti menjadi PT Ajatappareng Pres Intermedia. Lalu Nanang Qaswini yang ditugaskan mengurus akte notaris di Makassar. (2) Agar nama “Parepare Pos” diganti menjadi “Pare Pos”. “Setuju”, kata pak Alwi. Tetapi tulisan “Pare Pos’ ini berubah karakternya pada saat rapat pendirin surat kabar harian di Parepare yang dipimpin Aidir Amin Daud, Wapimred FAJAR sat itu, di Racing Center”. Saya tidak tahu nama jenis huruf yang digunakan tetapi peserta rapat setuju dengan huruf seperti ini;”PARE POS”. (3) Rekrut personil baru. Pak Alwi setuju dan langsung menugaskan Hazairin Sitepu menyiapkan personil baru melalui rekrutmen baru pada bulan Juli 2000. (4) Lengkapi dengan Komputer baru. Pak Alwi juga setuju. “Kita tunggu dropping komputer dari Jawa Pos”, ujar pak Ancu, panggilan akrab H. Syamsu Nur menimpali.

Susunan pengelola Harian PARE POS yang pertama; Chairman HM Alwi Hamu, Komisaris Utama H. Syamsir Nur, Komisaris H. Andi Syafiuddin Makka dan masih ada yang saya lupa. Direktur Hazairin Sitepu, Pemimpin Perusahaan Ibrahim Manisi dan Pemimpin RedaksiMuchlis Amans Hadi. Sebagsi Pemimpin Perusahaan yang domisili di Parepare mendapat tugas untuk mengurus semua perizinan yang diperlukan sekaligus mempersiapkan tempat untuk kantor di Jalan Andi Cammi Nomor 45. Dan Alhamdulillah semuanya sudah siap pada akhir Juli 2000. Dan tepat pada tanggal 15 Agustus, “pasukan” redaksi dan staf sebanya 15 orang yang baru keluar dari pendidikan Jurnalistik, tiba di Kota Parepare. Pada 16 Agustus, mereka bertebaran meliput ke berbagai sudut kota untuk terbit perdana tgl. 18 Agustus 2000.

Suka dan Duka

Di awal terbitnya Harian PARE POS, hampir tidak ada ruang untuk bersuka cita kecuali pada saat berkumpul dengan awak redaksi pada sore dan malam harinya. Suasana di redaksi terus ceria karena personil yang ada hampir imbang jumlah wartawan dengan wartawati. Maklum mereka masih pada bujang. Ada Muchlis Amans Hadi delaku Pemred, ada Faisal Palapa dan Nadira, Andi Mulyadi dan Erni Lery, ada Ramli Manong, Aslan Abidin dan iradatullah, ada Sany, Eci, Herlina, Naskah Nabhan, Musaddik, Ade, Haerul, dan Rais Muin dan masih ada yang saya lupa namanya.

Sedang dukanya lebih banyak, terutama untuk bidang sirkulasi dan promosi pada subuh hari. Bayangkan kalau baru jam 03.00 dinihari rombongan karyawan dan wartawan sudah bagi-bagi koran promosi. Yang tak bisa saya lupakan, ketika Erni lemparkan koran ke salah satu rumsh di jejeran CU baru persis mengenai anjing yang tidur di tangga. Anjingnya kaget dan lari sambil menggonggong tapi lebih takut lagi Erni dan temannya. Sakit takutnya, Erni tidak mau lagi turun dari mobil mikrolet yang saya kemudikan.

Pada tahun pertama PARE POS, belum ada yang bisa dibanggakan kecuali rasa kebersamaan dan persatuan, bahu membahu yang melahirkan rasa senasib sepenanggungan antara satu sama yang lain. Suasana seperti di awal kehadiran PARE POS seperti saya ceritakan di atas, ternyata masih saya temukan dan rasakan pada awak media ini, Minggu mala lalu. Semangat dan kebersamaan teman mengingatkan saya pada suasana 20 tahun silam. Saya benar-benar terharu. Padahal orang lama yang hadir kemarin malam sisa dua orang; Andi Mulyadi dan Erni Lery.

Hal ini berkat kepemimpinan Direktur PARE POS yang baru, Drs. H. Mappiar HS, M. Si yang menciptakan suasa kerja yang harmonis antara pimpinan dan bawahan serta antar sedama karyawan. Sehingga PARE POS bisa selamat dari “serangan” media online dan media sosial dan serangan Covid-19. Selamat bekerja semoga sukses selalu pada masa yang akan datang.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *