Jutaan Siswa Madrasah Bisa Akses e-Learning Gratis, Ini Penyebabnya

  • Whatsapp
Jutaan Siswa Madrasah Bisa Akses e-Learning Gratis, Ini Penyebabnya

PAREPOS.CO.ID,JAKARTA– Kementerian Agama menjalin kerjasama penggunaan Google for Education dalam perluasan akses siswa madrasah terhadap e-learning. Naskah kerjasama ini ditandatangani Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Ahmad Umar dengan Arya Sanjaya, President Director PT. Duta Digital Informatika, Partner Resmi Google for Education di Indonesia.
Penandatanganan nota kesepahaman ini berlangsung di kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng Barat, No 3-4 Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Kesepakatan ini akan memberikan akses e-learning gratis kepada 82 ribu madrasah di Indonesia, yang mencakup sekitar 7 juta siswa di dalamnya. Dengan menggunakan solusi Google for Education, akan tersedia platform daring untuk media pembelajaran siswa madrasah. Adapun materi atau konten mata pelajaran disiapkan Kemenag.

Bacaan Lainnya

Dengan sinergi ini, setidaknya ada delapan aplikasi berbayar yang diberikan gratis dalam jangka waktu tidak terbatas kepada siswa madrasah. Aplikasi tersebut di antaranya Google Classroom, Google Meet dengan kemampuan interaksi 100 orang (sementara diupgrade hingga 250 orang dan kemampuan rekam dan streaming dalam domain hingga September 2020) tanpa batasan waktu, dan sejumlah aplikasi tulis menulis praktis seperti Google Docs, Presentasi (Slide) dan Tabulasi (Sheet)) dengan kemampuan kolaborasi.

Sebagai bagian dari kesepakatan ini, siswa madrasah akan diberikan akun Gmail sekelas korporat yang bebas iklan dan spam dengan kapasitas tidak terbatas, penyimpanan (Drive) di cloud dengan kapasitas tidak terbatas, Calendar untuk melakukan penjadwalan pribadi dan kelompok, Konsol Admin untuk administrasi pengguna dan perangkat dalam domain yang ditentukan, serta pengaturan keamanan dan juga Vault (Lemari Penyimpanan) yang dapat menyimpan tanpa batas waktu dan menarik kembali arsip jika diperlukan.

Menurut Arya Sanjaya, ini merupakan bentuk komitmen Google for Education untuk terlibat aktif membangun pendidikan di negara-negara daerah operasionalnya, termasuk Indonesia. Kerjasama ini akan menjadi program yang sustainable, karena yang diberikan adalah akses gratis setara dengan kelas bisnis tanpa batas waktu, bukan merupakan trial version. “Saya berharap ini akan dapat berjalan terus. Ini bentuk komitmen Google terhadap pendidikan dan bukan program CSR yang sifatnya temporal,” kata Arya.

Kerjasama Penggunaan solusi Google for Education untuk Madrasah ini merupakan salah satu naskah kerjasama yang bersifat nasional mengingat sebaran Madrasah di seluruh Indonesia. Sebelumnya kerjasama serupa sudah dilakukan PT. Duta Digital Informatika sebagai Partner Google for Education dengan beberapa Provinsi, Kabupaten, dan Kota; serta sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan berbasis teknologi.

Dengan fasilitas dari Google for Education ini, siswa madrasah akan mendapat domain yang dipool melalui kemenag.go.id. Jika dikapitalisasi, fasilitas dari Google ini setara dengan nilai yang cukup tinggi. Platform G Suite for Education ini setara dengan G Suite untuk korporasi yang berbayar dengan tarip per akun per bulan sebesar US$ 12. Untuk madrasah, dari solusi Google for Education ini akan dibuat kurang lebih 7 juta akun, yang berarti setara dengan US$ 84 juta per bulan.

Direktur KSKK Madrasah Kemenag, Ahmad Umar mengaku senang dengan kesepakatan ini. Sejak lama pihaknya memperjuangkan revolusi pembelajaran di madrasah agar mencapai lompatan kualitas. Faktanya saat ini antara madrasah di kota dan di daerah masih terdapat gap kualitas. Dengan pembelajaran daring yang difasilitasi Google for Education; ia berharap madrasah di seluruh pelosok dapat dipacu akselerasinya. Problem kualitas guru, jam masuk yang tidak disiplin, dan persoalan lainnya secara teknis dapat teratasi dengan cara ini. “Kerjasama ini sudah kami rintis sejak Agustus 2018 lalu. Jadi ini bukan program tiba-tiba karena agenda belajar di rumah terkait covid 19,” katanya.

Selama masa tunggu itu pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan operator telepon selular agar daerah-daerah yang masih blank spot dibangun menara BTS agar akses internet dapat dijangkau madrasah di daerah itu. Menurut Ahmad Umar, platform yang diberikan Google for Education memungkinkan siswa dapat belajar di ruang-ruang kelas online. Dengan sistem ini siswa dapat mengikuti kelas manapun yang dipilih, tidak harus di sekolahnya.

Dengan kelas daring ini keterbatasan sumberdaya dan guru dapat teratasi. Sekolah juga dapat bertukar guru dengan mudah hanya dengan melakukan switch. Misalnya ada sekolah yang kuat di bidang tertentu, lemah di bidang yang lain. Maka dapat bertukan sumberdaya untuk saling memperkuat. Sistem ini juga akan diintegrasikan dengan aplikasi e-learning madrasah milik Kementerian Agama. Aplikasi yang sebelumnya sudah ada ini akan semakin kuat karena didukung solusi Google for Education yang mampu diakses jutaan siswa dalam satu waktu.(*/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *