Hari Krida Pertanian, Lindungi Petani Kecil

  • Whatsapp
Hari Krida Pertanian, Lindungi Petani Kecil

Hari Krida Pertanian di Indonesia diperingati tanggal 21 Juni setiap tahun. Hal ini telah ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden (Kepres) No.22/TK/Tahun 2018 tanggal 16 Maret 2018. Tujuannya untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi sumber daya pertanian berlimpah. Juga menjadi wujud apresiasi dan penghargaan kepada para petani, peternak dan pekebun, serta seluruh pelaku pertanian, yang telah bekerja keras menyediakan pangan dari berbagai komoditas produk pertanian.

Kita berharap melalui peringatan Hari Krida Pertanian kali ini, agar pemerintah peduli terhadap stabilitas harga gabah dan beras yang selama ini menjerat kaum petani, khususnya petani pengggarap alias petani kecil. HPP gabah dan beras setiap musim panen selalu bergejolak, bahkan anjlok di bawah HPP akibat ulah para pedagang pemburu untung yang juga bisa disebut tengkulak.

Oleh: Ibrahim Manisi

Kementerian Perdagangan RI telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahunm 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Untuk Gabah atau Beras pada 16 Maret 2020 meliputi harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp. 4.200/kg dan di tingkat penggilingan Rp4.250/kg. Sedang gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan seharga Rp. 5.250 per kg dan harga di gudang Bulog sebesar Rp5.300 per kg, serta beras di gudang Perum Bulog sebesar Rp. 8.300 per kg. Jika dibanding HPP berdasarkan Instruksi Presiden No. 5/2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah untuk GKP sebesar Rp. 3.200 per kg di tingkat petani, terdapat kenaikan sebesar Rp. 1.000 per kg.

Kenaikan ini sangat disyukuri oleh petani. Hanya saja petani tidak bisa menikmati kenaikan seribu rupiah tersebut jika bukan Bulog yang turun membeli. Sedangkan yang terjadi di lapangan, para tengkulak hanya mebeli dengan harga di bawah standar HPP sekitar Rp. 3.200 -Rp. 3.500 per kg. Kekacauan HPP gabah dan beras tersebut, terus berlangsung lama hingga berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan. Akibatnya petani menjerit. Gabah ditahan untuk dijual karena harga anjlok, tidak bisa. Sebab gabah kering panen (GKP) sangat lembah. Gabah GKP tinggal seminggu pasti sudah rusak.

Dijual murah, petani tidak bisa bayar lunas utang pra dan pasca panen. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang mendesak dan kebutuhan anak sekolah terutama mahasiswa yang juga mendesak. Dalam kondisi bingung, petani barulah bersatu melakukan aksi demo menuntut Pemerintah turun tangan mengamankan kebijakan HPP. Setelah aksi demo berhari-hari, baru muncul Satgas Bulog dan Perindag melakukan operasi pasar. Para tengkulak pun mundur teratur sambil mengemasi gabah dan beras yang mereka telah beli dengan sangat murah untuk segera dijual langsung ke Bulog dengan harga gudang Bulog.

Terhadap kondisi seperti di atas, yang jadi pertanyaan mengapa Bulog begitu lamban menyikapi teriakan para petani saat panen sedang berlangsung? Semoga saja tidak ada “main mata” antar para tengkulak dengan oknum aparat Bulog. Sehingga terkesan aparat Bulog memberi jalan para tengkulak beraksi lebih dahulu. Semoga tidak terjadi. Oleh karena itu, para petani berharap agar Pemerintah atau Perindag bersama Bulog didukung aparat instansi terkait agar dapat lebih cepat mengendalikan HPP gabah dan beras.

Terkait dengan Peringatan Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap tahunnya, diharapkan pemerintah menjadikan topik bahasan diskusi tentang bagaimana meningkatkan penghasilan petani penggarap. Termasuk mencari solusi agar kebijakan pemerintah soal HPP gabah atau beras tersebut tidak diobrak-abrik para tengkulak. Memperingati Hari Krida Pertanian setiap tahun pada tanggal 21 Juni itu sudah merupakan suatu keharusan bagi masyarakat tani Indonesia.

Sebab Hari Krida Pertanian tersebut sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Kepres) No.22/TK/Tahun 2018 tanggal 16 Maret 2018. Kita berharap agar dalam setiap kali memperingati Hari Krida Pertanian, aparat pemerintah yang terkait agar tidak hanya menghitung angka-angka swasembada pangan khususnya gabah atau beras secara umum, tetapi juga diharapkan agar petani di seluruh pelosok desa juga dapat menjual harga hasil panen mereka sesuai HPP yang berlaku.

Jangan hanya mengutamakan penghargaan “Satya Lencana Karya Satya” kepada PNS/ASN yang telah berkarya sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun non stop. Agar pemerintah juga peduli terhadap harga gabah atau beras petani sehingga hidup mereka bisa terjaga dengan aman. Maka petani kecil pun dapat menikmati hasil panen mereka dengan bersukacita setelah HPP gabah dan beras yang telah ditetapkan pemerintah, berjalan sebagaimana mestinya. Dalam kondisi hidup aman seperti itulah, petani kecil pun bisa menikmati Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap tanggal 21 Juni. Selamat memperingati Hari Krida Pertanian semoga Indonesia Swasembada pangan, khususnya beras. Amin!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *