TDA Kopdar Bareng Disporapar, Bahas Pembangunan Sektor Pariwisata

  • Whatsapp
TDA Kopdar Bareng Disporapar, Bahas Pembangunan Sektor Pariwisata

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE — Komunitas Tangan Di Atas (TDA) menggelar kegiatan kumpul-kumpul atau kopi darat (kopdar) bersama Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) di Warkop PeDeAeM jalan Tirta Darma, kota Parepare.

Tidak hanya sekedar kumpul saja, sambil menikmati kopi, banyak hal yang menjadi pembahasan yang dianggap penting bagi kemajuan pembangunan di Kota Parepare, khususnya di sektor Pariwisata.

Bacaan Lainnya

“Kopdar ini kita lakukan sebagai bentuk kecintaan kita kepada teori telapak kaki yang diusung oleh pemerintah, utamanya di sektor kepariwisataan,” kata Ketua TDA Kota Parepare, Haedar Hasan, Sabtu 15 Februari.

Teori telapak kaki, kata Haedar, dapat di implementasikan melalui kolaborasi antara pemerintah dan Komunitas TDA. “Saya pikir ini masalah kurangnya komunikasi saja. Kami harap Disporapar Parepare bisa kerjasama jika ada event,” kata pengusaha kuliner itu.

Selama ini, lanjut Haedar, pemerintah tidak pernah melibatkan TDA dalam event yang dilakukan Disporapar Parepare. “Apabila kami diperkenankan untuk membantu melaksanakan event, kami yakin banyak wisatawan datang di kota Parepare,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disporapar kota Parepare, Amarun Agung Hamka, menyambut baik keinginan komunitas TDA untuk berkolaborasi. Menurutnya, komunitas TDA sangat berjasa dalam pengembangan bisnis, terutama Usaha mikro kecil menengah (UMKM). “Memang sebelumnya tidak ada komunikasi. Namun, event selanjutnya kita akan bentuk grup WA khusus, supaya kita intens komunikasi,” kata Hamka.

Ia juga menjelaskan, event yang akan dilakukan tidak boleh keluar dari konsep kota santri. “Kita harus ubah pola pikir, wisatawan itu tidak harus bule. Kita akan tarik wisatawan nusantara untuk menjaga image Parepare sebagai kota santri dan membelanjakan uangnya disini,” kata mantan Kabag Humas Pemkot Parepare itu.

Selain event, pihaknya juga akan membangun infrastruktur di sektor kepariwisataan. Namun, lanjut Hamka, Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pembangunan objek wisata menjadi kendalanya. “Kami pernah ingin membangun Cempae seperti Pantai Losari, tapi ada penolakan dari nelayan, seakan mereka takut terpinggirkan,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya tetap mencanangkan konsep pembangunan di sektor wisata yang ia sebut program lima dimensi. “Kami utamakan pelayanan kepada wisatawan. Kami konsep tour wisata menelusuri sungai, wisata bawah laut, bersepeda, mengendarai kuda, serta kita akan memperbaiki gua kelelawar,” pungkasnya.(mg2)