Metro Pare

Kunjungi Parepare, Alissa Wahid Jabat Pembina Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an NU

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE — Putri Presiden RI ke-4 Kiai H Abdurrahman Wahid (Gusdur), Alissa Wahid, yang juga Koordinator Nasional Gusdurian melakukan peletakan Batu Pertama asrama Putra Pondok Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an PCNU Parepare di Lappa Anging Bacukiki Kota Parepare.

Di kompleks tanah wakaf tersebut juga tengah dibangun masjid Darurrahman Rosi yang baru saja selesai. Dan dilakukan penyerahan Ikrar Wakaf dari KUA Bacukiki Kemenag Parepare Taufiqurrahman kepada Ketua PCNU Parepare Dr. Kiyai Hannani, Kamis 13 Februari, siang tadi.

Rencana peresmian Masjid yang dibangun oleh pengusaha Parepare H Daru ini juga menunggu konfirmasi selanjutnya dari Alissa. Sebab Alissa menyampaikan kepada para pengurus akan mengkomunikasikan dengan Wakil Presiden RI Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin untuk meresmikan masjid tersebut.

“Saya akan sampaikan ke Pak Kiai Ma’aruf Amin untuk meresmikan masjid ini. Mudah-mudahan beliau ada kesempatan,” ucapnya. Selain itu Alissa Wahid juga bersedia menjadi Pembina Pesantren Istana Tahfidzul Qur’an NU Parepare yang merupakan Pesantren NU Pertama di Sulawesi Selatan.

Loading...

Cicit pendiri Nahdatul Ulama ( NU) ini dikehui bernama lengkap Alissa Qotrunnada Munawaroh adalah putri pertama dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah. Sepeninggal Ayahnya, Alissa menyibukkan dirinya di bidang sosial dan pendidikan.

Alissa adalah ketua Jaringan Gus Durian yan merupakan sebutan untuk para murid, pengagum, penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GusDurian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.

Selain aktif di bidang pendidikan, lulusan jurusan psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini juga peduli terhadap isu toleransi beragama. Ia aktif mengikuti diskusi lintas agama bersama Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan komunitas lainnya.

Terakhir dia sangat vocal pada kasus persoalan yang membelit warga Rembang terkait ekspansi PT Semen Indoensia di Jawa Tengah. Alissa mendesak pabrik semen raksasa tersebut untuk menghentikan kegiatan pembangunan pabrik semen di Rembang. Melalui media sosial dan jaringan Nahdlatul Ulama (NU), Alissa bergerak mendukung perjuangan Ibu-ibu Rembang.

Alissa Wahid juga meneruskan perjuangan ayahnya dalam bidang budaya. Ia mengambil bagian dalam perkembangan The Wahid Institut, mengelola kelas pemikiran Gusdur. (*)

Loading...
Loading...

TRENDING

To Top